Vaksin palsu beredar di Pekanbaru, Polisi tahan 2 tersangka

Vaksin palsu beredar di Pekanbaru, Polisi tahan 2 tersangka

ilustrasi

‎Beritariau.com, Pekanbaru - Kepolisian Resor (Polres) Pekanbaru bersama Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPPOM) Riau menemukan peredaran ‎vaksin dan serum yang diduga palsu. Sejauh ini, baru 2 orang tersangka yang ditangkap terkait serum palsu, yakni S dan P.

"Dua orang tersangka itu, selaku sales penyalur serum palsu ke apotik," ujar Kapolresta Pekanbaru Kombes Tonny Hermawan, Rabu (03/08/16) di kantornya.

Dari tangan kedua tersangka ini, aparat menyita 200 ampul barang bukti. Mereka mengaku hanya sebagai penjual serum palsu yang dibikin oleh orang lain.

"Kita mendalami siapa orang yang membuatnya itu," kata Tonny.

Ia menjelaskan, tersangka S dan P ini, ditangkap setelah polisi menyamar sebagai pembeli serum. Keduanya dibekuk di dua lokasi berbeda tiga hari lalu Minggu (31/7). Ada yang diciduk di Mal SKA dan satu lagi di Jalan Riau.

"Toko yang menjual serum palsu ini kita segel untuk sementara waktu untuk kepentingan penyelidikan," pungkas Tonny.‎

Sementara itu, Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Riau Indra Ginting menyebutkan, pihaknya menemukan sebanyak dua puluh file vaksin diduga palsu dari salah satu tempat pendistribusian obat di kota Pekanbaru. Penemuan BBPOM ini berbeda dengan serum palsu yang digerebek Polresta Pekanbaru.

"Ada vaksin yang diduga palsu kita amankan sebanyak 20 file. Saat ini masih akan kita lakukan uji laboratorium," kata Indra.

Bahkan, pada Selasa (02/08/16) polisi bersama BBPOM sekitar pukul 10.00 Wib, memeriksa Klinik Bunda Medika Center. Hasilnya, ditemukan 7 ampul serum anti tetanus diduga palsu yang bersumber dari Apotik Yasmin.

Namun belum ada tersangka atas temuan di klinik tersebut. Pemasokan vaksin palsu di Riau itu juga diketahui oleh pihak medis di k‎linik dan rumah sakit yang menyebarkan vaksin palsu itu.

Namun, lagi lagi Indra keberatan untuk menyebutkan apa nama rumah sakit yang menyebarkan vaksin palsu untuk anak-anak itu. 

Indra menyebutkan sebanyak dua puluh vaksin yang diduga palsu itu terdiri dari vaksin Anti Tetanus Serum (ATS) sebanyak 10 ampul dan vaksin Anti Bisa Ular (ABS) sebanyak 10 File beberapa waktu lalu berbeda dengan Klinik Bunda Medika Center.

"Masing-masing ada 10 file yang kami amankan dan masih kita teliti kandungannya. Secara kasat mata ciri-cirinya patut diduga palsu," beber Indra.

Indra menjelaskan, vaksin diduga palsu ini jika masuk ke dalam tubuh berdampak negatif dan berbahaya.

"Berbahaya, namun belum diketahui secara pasti apa efeknya. Karena belum ada contoh kasusnya (korban)," kata Indra.

Meski demikian, Indra memperkirakan efek terbesar dari pemberian vaksin ini terhadap tubuh manusia tidak adanya manfaat dari vaksin itu sendiri terhadap kekebalan tubuh.

"Sebab vaksin palsu tidak berisi komposisi yang seperti dibutuhkan tubuh. Isinya cuma cairan. Tidak ada gunanya. Ruginya selain secara kesehatan, juga rugi secara ekonomi," jelasnya. [red]