Tolak Tandatangan Perjanjian Siap Mundur
Jika 2016 karlahut nambah, Andi Rahman ogah mundur, Pendemo: Bapak Enak, Istri bisa ke Cina!

Plt Gubernur Riau Andi Rahman temui Pendemo di halaman upacara kantor Gubernur | Beritariau.com 2015
Beritariau.com, Pekanbaru - Selain menuntut diusutnya grup perusahaan Sinar Mas dan APRIL yang arealnya disebut terbanyak menyumbang titik api, ratusan massa aliansi yang berunjukrasa kantor Gubernur Riau Jalan Sudirman, Senin (21/09/15) sore sekitar pukul 17.00 Wib, mendesak Plt Gubernur Riau Arsyajuliandi Rahman menandatangani akta perjanjian.
Akta perjanjian itu, dibuat sebagai kesepakatan antara Aliansi Front Rakyat Riau Bebas Asap yang gabungan dari puluhan organisasi seperti, GMNI, PRD, Seruni, BEM Se-Riau, IMPKS, HMI Badko, HMI MPO, SPR, BMR, PPR, GMSR, IMM, FPR Rokan Hulu, Scale Up, KAMMI, Hutanriau, Kaliptra, AMPERA, GMPKS, IPK, SRMI, Kohati dan KNPI, sebagai pihak pertama. Sedangkan Plt Gubernur Riau Andi Rahman sebagai pihak kedua.
Akta perjanjian kesepakatan yang akan ditempel materai itu, berisi sejumlah point tuntutan masyarakat. Satu diantaranya, Plt Gubernur Riau harus siap mundur dari jabatannya tahun 2016 mendatang, jika kebakaran lahan dan hutan di Riau semakin meningkat. Akta itu, disodorkan kepada Andi Rahman saat menemui pendemo di halaman upacara kantor Gubernur.
Tak hanya itu, di titik kumpul itu juga, pendemo bahkan meletakkan bantalan bak pocong mayat dalam bungkusan bertuliskan "Plt Andi Rahman". [Baca : Aksi #MelawanAsap, massa jebol pagar dan ludahi kantor Gubernur Riau]
"Bapak harus teken ini. Berani tidak pak Plt berkorban jabatan untuk rakyat. Jika tak berani kami nyatakan sekarang juga mencabut mandat rakyat dari Bapak," teriak Presiden BEM Universitas Islam Riau sekaligus Koordinator Umum BEM Se-Riau, Pirka Maulana tepat dihadapan Andi Rahman.
Sayang, tuntutan pendemo tak direspon positif oleh Andi Rahman. Ia malah mengaku tak bersedia menandatangani. Katanya, Ia harus berkonsultasi dulu soal materi perjanjian. "Kalau saya teken, tentu bukan atas nama pribadi saja, tapi jabatan," jawab Andi yang tampak ciut dengan tantangan pendemo ini.
Tak menyerah, Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi, Mirwansyah menjelaskan isi tuntutan itu. Menurutnya, perjanjian itu merupakan wujud konkrit janji seorang pemimpin kepada rakyatnya. Ia mengaku, tuntutan itu bukanlah muluk-muluk.
"Kami kan tak menuntut Riau harus bebas total dari asap. Kami hanya minta, jika tahun depan karlahut yang mengakibatkan kabut asap semakin bertambah, bapak harus mundur. Bahkan isi perjanjian ini telah dikonsultasikan dengan biro hukum Pemprov Riau," kata Mirwan.
Namun, lagi-lagi Andi Rahman menolak. Ia mengaku tak bisa menjamin tuntutan itu bakal dapat dipenuhi. Mendengar jawaban Andi, salah satu pendemo dibagian belakang menyeletuk.
"Kalau bapak sih enak. Istri Bapak bisa jalan-jalan ke Cina saat kabut asap. Kami gimana?," teriak seorang wanita berseragam merah melambangkan ciri organisasinya. [Baca : Walah! Darurat Asap, Plt Gubri Izinkan Istri dan Pejabatnya ke Cina]
Tak sabar menunggu mahasiswa berunding, Andi Rahman malah balik kanan dan meninggalkan pendemo yang masih berkerumun.
Selain mendorong akta perjanjian dengan Andi Rahman, massa juga meminta Andi Rahman menindak perusahaan grup Sinar Mas dan APRIL yang arealnya banyak menyumbangkan titik api. [Baca : #MelawanAsap, Warga Riau minta Sinar Mas dan APRIL Grup diusut].
Mereka membacakan, dari data yang diperoleh hasil pantauan satelit, sejak Bulan Januari hingga Bulan September, titik panas (hotspots) ada sejumlah 2085 titik yang berasal dari areal konsesi perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perkebunan.
Diantaranya, di areal Perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) yakni, PT Arara Abadi sebanyak 336 titik, PT RAPP 297 titik, PT Bukit Batu Hutani 107 titik, PT Inhil Hutani Pratama 103 titik, PT Rimba Rokan Lestari 146 titik dan PT Sumatera Riang Lestari 208 titik. Juga di areal perkebunan diantaranya PT Alam Lestari 43 titik, Non HGU 17300 titik, PT Langgam Inti Hibrindo 23 titik dan PT Pusaka Mega Bumi Nusantara 10 titik.
"Yang paling banyak adalah grup Sinar Mas (Arara Abadi) dan APRIL (RAPP). Tolong usut, selidiki dan cabut izinnya," ungkap salah seorang orator tepat dihadapan Plt Gubernur yang datang didamping Kepala Staf Korem 031/Wirabima Kolonel I Nyoman Parwata dan Wakapolda Riau Kombes Pol Joko Hartono.
Menurut pendemo, Pemerintah dan Aparat harus mengusut. Jika tidak, mereka meminta Plt Gubernur Riau segera mundur dari Jabatannya.
Sebelumnya, massa sempat geram karena Andi tak mau bertemu. Salah satu pendemo pun naik keatas pagar dengan membawa bendera Merah Putih dan melakukan aksi teaterikal dengan bahasa mirip orang kesurupan. saking emosinya, dari atas, Ia meludahi halaman kantor orang nomor satu di Riau itu. Aksi pria gondrong yang ternyata seniman bernama Aryo Guni ini, menjadi perhatian utama ratusan orang.
FOTO : Aksi teaterikal Seniman Riau Aryo Guni di atas Pagar, mengibarkan bendera Merah Putih dan meludahi kantor Gubernur Riau
Bahkan, Ia sempat membacakan puisi untuk Presiden RI Joko Widodo. "Jokowi.. Kau bilang Trisakti, Kau bilang Nawacita. Itu hanya slogan. Kau sering meniru ucapan Bung Karno. Tapi mana prakteknya?," teriak Aryo.
Tak hanya itu, Ia bahkan mengalungkan foto Jokowi dileher seekor kambing yang diakuinya sengaja disewa untuk aksi itu. Dengan telanjang dada, Aryo berkeliling areal halaman kantor Gubernur sambil menggendong kambing tersebut.
"Kami bayar pajak, dia (Andi Rahman) juga bayar pajak. Tapi, dia bisa membuat kebijakan atas kebakaran lahan dan asap ini. Mana kebijakan dia? Kalau tak mau datang, kami akan masuk dan mencicipi bagaimana enaknya AC (Air Conditioner/Pendingin Udara, red) di kantornya," kata Presiden BEM Universitas Islam Riau skaligus Koordinator Umum BEM Se-Riau, Pirka Maulana dalam orasinya di luar pagar.
30 menit kemudian, massa akhirnya menerobos masuk dengan menjebol pagar pintu masuk kantor Gubernur Riau. Berjalan long march sekitar 30 meter, massa sudah dihadang ratusan personil gabungan dari Satpol PP dan Kepolisian yang berbaris menggunakan pentungan dan tameng.
Karena dihadang aparat, Ade Hartati, anggota DPRD Riau yang merupakan Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) ikut menghadapi. "Saya ini wakil rakyat. Plt Gubernur itu juga duduk mewakili rakyat. Kenapa kami tak bisa datang ke kantornya?," ungkap Ade saat di garis depan pendemo.
Saat menemui pendemo, Andi Rahman memaparkan situasi bahwa Ia telah mampu mengendalikan masalah kabut asap. Namun, paparannya itu justru dicuekin oleh pendemo. "Kami bosan laporan bapak. Tindak sajalah perusahaan itu. Kalau tidak, mundur saja," celetuk salah seorang Pendemo. [red]

