Terbanyak Sumbang Titik Api

#MelawanAsap, Warga Riau minta Sinar Mas dan APRIL Grup diusut

#MelawanAsap, Warga Riau minta Sinar Mas dan APRIL Grup diusut

Plt Gubernur Riau Andi Rahman temui Pendemo di halaman upacara kantor Gubernur | Beritariau.com 2015

Beritariau.com, Pekanbaru - Berhasil menjebol pagar pintu masuk kantor Gubernur Riau Jalan Sudirman, ratusan massa dari berbagai elemen organisasi di Pekanbaru, Senin (21/09/15) sore sekitar pukul 15.30 Wib, mendesak Plt Gubernur Riau Arsyajuliandi Rahman berani menindak sejumlah perusahaan yang areal konsesinya ikut terbakar.

Menurut Aliansi Front Rakyat Riau Bebas Asap yang merupakan gabungan dari puluhan organisasi seperti, GMNI, PRD, Seruni, BEM Se-Riau, IMPKS, HMI Badko, HMI MPO, SPR, BMR, PPR, GMSR, IMM, FPR Rokan Hulu, Scale Up, KAMMI, Hutanriau, Kaliptra, AMPERA, GMPKS, IPK, SRMI, Kohati dan KNPI ini, perusahaan itu harus bertanggung jawab atas kabut asap yang meracuni udara di Riau. [Baca : Aksi #MelawanAsap, massa jebol pagar dan ludahi kantor Gubernur Riau]

Orator membacakan, dari data yang diperoleh hasil pantauan satelit, sejak Bulan Januari hingga Bulan September, titik panas (hotspots) ada sejumlah 2085 titik yang berasal dari areal konsesi perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perkebunan.

Diantaranya, di areal Perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) yakni, PT Arara Abadi sebanyak 336 titik, PT RAPP 297 titik, PT Bukit Batu Hutani 107 titik, PT Inhil Hutani Pratama 103 titik, PT Rimba Rokan Lestari 146 titik dan PT Sumatera Riang Lestari 208 titik. Juga di areal perkebunan diantaranya PT Alam Lestari 43 titik, Non HGU 17300 titik, PT Langgam Inti Hibrindo 23 titik dan PT Pusaka Mega Bumi Nusantara 10 titik.

"Yang paling banyak adalah grup Sinar Mas (Arara Abadi) dan APRIL (RAPP). Tolong usut, selidiki dan cabut izinnya," ungkap salah seorang orator tepat dihadapan Plt Gubernur yang datang didamping Kepala Staf Korem 031/Wirabima Kolonel I Nyoman Parwata dan Wakapolda Riau Kombes Pol Joko Hartono.

Menurut pendemo, Pemerintah dan Aparat harus mengusut. Jika tidak, mereka meminta Plt Gubernur Riau segera mundur dari Jabatannya.

Sebelumnya, massa sempat geram karena Andi tak mau bertemu. Satu diantara pendemo pun naik keatas pagar dengan membawa bendera Merah Putih dan melakukan aksi teaterikal dengan bahasa mirip orang kesurupan. Dari atas, Ia meludahi halaman kantor orang nomor satu di Riau itu. Aksi pria gondrong yang ternyata seniman bernama Aryo Guni ini, menjadi perhatian utama ratusan orang.

 Aksi teaterikal Seniman Riau Aryo Guni di atas Pagar, mengibarkan bendera Merah Putih dan meludahi kantor Gubernur Riau

Bahkan, Ia sempat membacakan puisi untuk Presiden RI Joko Widodo. "Jokowi.. Kau bilang Trisakti, Kau bilang Nawacita. Itu hanya slogan. Kau sering meniru ucapan Bung Karno. Tapi mana prakteknya?," teriak Aryo.

Tak hanya itu, Ia bahkan mengalungkan foto Jokowi di leher seekor kambing yang diakuinya sengaja disewa untuk aksi itu. Dengan telanjang dada, Aryo berkeliling areal halaman kantor Gubernur sambil menggendong kambing tersebut.

"Kami bayar pajak, dia (Andi Rahman) juga bayar pajak. Tapi, dia bisa membuat kebijakan atas kebakaran lahan dan asap ini. Mana kebijakan dia? Kalau tak mau datang, kami akan masuk dan mencicipi bagaimana enaknya AC (Air Conditioner/Pendingin Udara, red) dikantornya," kata Presiden BEM Universitas Islam Riau skaligus Koordinator Umum BEM Se-Riau, Pirka Maulana dalam orasinya diluar pagar meminta agar Andi Rahman menemuinya.

30 menit kemudian, massa akhirnya menerobos masuk dengan menjebol pagar pintu masuk kantor Gubernur Riau. Berjalan long march sekitar 30 meter, mereka sudah dihadang ratusan personil gabungan dari Satpol PP dan Kepolisian yang berbaris menggunakan pentungan dan tameng.

Karena dihadang aparat, Ade Hartati, anggota DPRD Riau yang merupakan Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), ikut menghadapi aparat. "Saya ini wakil rakyat. Plt Gubernur itu juga duduk mewakili rakyat. Kenapa kami tak bisa datang ke kantornya?," ungkap Ade saat di garis depan pendemo.

Saat menemui pendemo, Andi Rahman memaparkan situasi bahwa Ia telah mampu mengendalikan masalah kabut asap. Namun, paparannya itu justru dicuekin oleh pendemo. "Kami bosan laporan bapak. Tindak sajalah Perusahaan itu. Kalau tidak, mundur saja," celetuk salah seorang Pendemo.

Usai membacakan tuntutan, Massa meminta Andi Rahman menandatangani akta perjanjian kesepakatan. Isinya, Andi Rahman siap mundur dari jabatannya tahun 2016 mendatang, jika kebakaran di Riau tetap meningkat.

"Jika tak mau, kami nyatakan mencabut mandat rakyat terhadap bapak," tegas Pirka tepat dihadapan Andi Rahman. "Mundur sekarang juga!," teriak massa menyulut ucapan Pirka.

Sayang, tantangan mahasiswa ini tak diladeni oleh Andi Rahman. Ia malah memilih mundur dan masuk kembali bersama rombongan ke dalam Gedung Kantor. Hingga sekitar pukul 18.00 Wib, massa pun membubarkan diri. "Kita akan kembali lagi, tunggu saja," kata Pirka. [red]