Tuntut Plt Gubernur Riau Mundur
Aksi #MelawanAsap, massa jebol pagar dan ludahi kantor Gubernur Riau

Aksi teaterikal Seniman Riau Aryo Guni di atas Pagar, mengibarkan bendera Merah Putih dan meludahi kantor Gubernur Riau | Beritariau.com 2015
Beritariau.com, Pekanbaru - Ratusan massa dari berbagai elemen organisasi di Pekanbaru, Senin (21/09/15) sore sekitar pukul 15.30 Wib, berhasil menjebol pagar pintu masuk kantor Gubernur Riau Jalan Sudirman. Mereka mendesak Plt Gubernur Riau Andi Rahman berani bertanggungjawab atas kebakaran lahan yang mengakibatkan kabut asap di Riau.
Saking geramnya karena Plt Gubernur Riau tak kunjung mau bertemu, seorang pendemo naik keatas pagar dengan membawa bendera Merah Putih dan melakukan aksi teaterikal dengan bahasa mirip orang kesurupan. Dari atas, Ia meludahi halaman kantor orang nomor satu di Riau itu.
Aksi pria gondrong yang ternyata seniman bernama Aryo Guni ini, menjadi perhatian utama ratusan massa aliansi Front Rakyat Riau Bebas Asap yang merupakan gabungan dari puluhan organisasi seperti, GMNI, PRD, Seruni, BEM Se-Riau, IMPKS, HMI Badko, HMI MPO, SPR, BMR, PPR, GMSR, IMM, FPR Rokan Hulu, Scale Up, KAMMI, Hutanriau, Kaliptra, AMPERA, GMPKS, IPK, SRMI, Kohati dan KNPI.
Bahkan, Ia sempat membacakan puisi untuk Presiden RI Joko Widodo. "Jokowi.. Kau bilang Trisakti, Kau bilang Nawacita. Itu hanya slogan. Kau sering meniru ucapan Bung Karno. Tapi mana prakteknya," teriak Aryo.
Tak hanya itu, Ia bahkan mengalungkan foto Jokowi di leher seekor kambing yang diakuinya sengaja disewa untuk aksi itu. Dengan telanjang dada, Aryo berkeliling areal halaman kantor Gubernur sambil menggendong kambing tersebut.
"Kami bayar pajak, dia (Andi Rahman) juga bayar pajak. Tapi, dia bisa membuat kebijakan atas kebakaran lahan dan asap ini. Mana kebijakan dia? Kalau tak mau datang, kami akan masuk dan mencicipi bagaimana enaknya AC (Air Conditioner/Pendingin Udara, red) di kantornya," kata Presiden BEM Universitas Islam Riau skaligus Koordinator Umum BEM Se-Riau, Pirka Maulana dalam orasinya di luar pagar.
30 menit kemudian, massa akhirnya menerobos masuk dengan menjebol pagar pintu masuk kantor Gubernur Riau. Berjalan long march sekitar 30 meter, massa sudah dihadang ratusan personil gabungan dari Satpol PP dan Kepolisian yang berbaris menggunakan pentungan dan tameng.
Karena dihadang, Ade Hartati, anggota DPRD Riau yang merupakan Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) ikut menghadapi polisi yang menghadang. "Saya ini wakil rakyat. Plt Gubernur itu juga duduk mewakili rakyat. Kenapa kami tak bisa datang ke kantornya?," ungkap Ade saat di garis depan pendemo.
Tak kunjung diizinkan masuk lebih jauh, massa pun melanjutkan orasinya. Mereka meminta Plt Gubernur Riau mencabut izin perusahaan yang lahan konsesinya ikut terbakar. Massa membacakan, dari data sejak Bulan Januari hingga Bulan September, titik panas (hotspots) ada sejumlah 2085 titik yang berasal dari areal konsesi perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perkebunan.
Satu jam kemudian, kantor Gubernur sepertinya memberikan sinyal. Massa mulai diarahkan berkumpul tepat di halaman upacara kantor Gubernur. Tak lama, Plt Gubernur Riau Arsyajuliandi Rahman datang didamping Kepala Staf Korem 031/Wirabima Kolonel I Nyoman Parwata dan Wakapolda Riau Joko Hartono.
Disitu, Andi Rahman mengklaim telah sukses mengendalikan masalah kebakaran lahan dan kabut asap. Namun, paparannya itu justru dicuekin oleh pendemo. "Kami bosan laporan bapak. Tindak saja Perusahaan itu. Kalau tidak, mundur saja," celetuk salah seorang Pendemo.
Usai membacakan tuntutan, Massa meminta Andi Rahman menandatangani akta perjanjian kesepakatan. Isinya, Andi Rahman siap mundur dari jabatannya jika tahun 2016 mendatang, kebakaran di Riau tetap meningkat.
"Jika tak mau, kami nyatakan mencabut mandat rakyat terhadap bapak," tegas Pirka tepat dihadapan Andi Rahman. "Mundur sekarang juga!," teriak massa menyulut ucapan Pirka.
Sayang, tantangan mahasiswa ini tak diladeni oleh Andi Rahman. Ia malah memilih mundur dan masuk kembali bersama rombongan ke dalam Gedung Kantor. Hingga sekitar pukul 18.00 Wib, massa pun membubarkan diri. "Kita akan kembali lagi, tunggu saja," kata Pirka. [red]

