Tak Layak Tinggal di Pekanbaru

Asap tebal, harga Karet dan Sawit hancur, Inilah jeritan ke Jokowi...

Asap tebal, harga Karet dan Sawit hancur, Inilah jeritan ke Jokowi...

Salah Satu Foto Editan yang Beredar di Media Sosial | Dikutip dari akun twitter @Marwan******* | Istimewa

Beritariau.com, Pekanbaru - Sebuah pesan yang dirangkai berbentuk surat yang ditujukan kepada Presiden Indonesia Joko Widodo beredar di masyarakat media sosial dan pesan siaran (broadcast, red) telepon genggam. Isinya, menyatakan jeritan, sindiran dan protes atas ketidakpedulian Pemerintahan Pusat terhadap kondisi Riau yang sudah terlalu parah diselimuti asap.

Masyarakat Riau menilai Presiden Joko Widodo terlalu sibuk mengurus konflik internal Istana, padahal kabut asap sudah sangat menyengsarakan Riau, ditambah lagi harga sawit dan karet yang merupakan mata pencaharian warga anjlok drastis. Berikut isi pesan yang beredar di masyarakat :

SURAT RIAU UNTUK INDONESIA 

"Dear Yth :

Presiden RI bapak Joko Widodo.

Titik api di sekitar kami bukanlah simbol kemarahan Allah, tapi simbol keserakahan dan bukti ketidakpedulian negara terhadap daerah.

Bapak mau kesini sekarang ? bandara ditutup pak, lagipun tak ada anak sekolah ynag menyambut bapak, sekolah diliburkan.

Mau menempuh jalan darat? bahaya pak, asap tebal tidak bagus untuk kesehatan bapak dan ibu Iriana. Biarkan saja seperti ini agar Riau menjadi lahan sawit dan bisa ditanam tanaman industri, kami ikhlas mati pelan-pelan karena ISPA, karena ketidakberdayaan kami di sini.

Kami pasrah, mungkin ini kehendak Allah.

Bagi saudara/i kami di daerah lain, kami sangat berterima kasih atas doa yang selalu kalian panjatkan, mohon maaf karena kiriman asap Riau kalian jadi terganggu.

Berita dari berbagai media katanya Pekanbaru sudah tidak layak huni lagi karena 5% udara yg bersih yang bisa dihirup. Innalillahi ~..Pray for Riau.. 

Pemerintah pusat sudah tiak peduli pada kami. Hari ini, puncaknya 6 juta rakyat Riau terkena kanker paru-paru, terutama anak-anak. Sepertinya lebih peduli pada kekisruan internal di tubuh istana dari pada nasib 6 juta rakyat Riau.

Padahal Riau salah satu penyumbang devisa terbesar negara. Tolong sebarkan karena media TV dan Koran tidak banyak memberitakan, terlalu sibuk dengan pemberitaan kepentingan pribadi dan kelompok semata di dalam istana.

Belum lagi usai bencana asap kami sudah dihadapkan lagi pada menurunnya hasil pertanian karet dan sawit yang ditambah harga penjualan nya yang menurun derastis sampai titik terparah.

Semoga pemerintahan pusat dan daerah bisa melihat sedikit bencana yang kami hadapi dan memberikan solusi jalan keluarnya. Hanya doa yg bisa kami harapkan, sebelum rakyat Riau mati pelan-pelan & lari disini

#anak bangsa yang sengsara" [red]