Cuaca panas dan kering menjadi kendala Hujan buatan di Riau

Cuaca panas dan kering menjadi kendala Hujan buatan di Riau

Ilustrasi | Beritariau.com 2015

Beritariau.com, Pekanbaru - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi mengaku tak mudah melakukan modifikasi cuaca dengan melakukan hujan buatan. Pasalnya, cuaca panas dan kering yang melanda Riau jadi kendala dalam proses modifikasi cuaca hujan buatan untuk mencegah kebakaran lahan dan hutan.

Kepala Unit Pelayanan Teknis Hujan Buatan BPPT F Heru Widodo, Rabu (24/6) mengatakan, peluang keberhasilan hujan buatan masih ada. Sebab, proses modifikasi cuaca berlangsung selama dua hari terakhir.

"Pelaksanaan pertama pada Selasa (23/06/15), penyemaian awan menggunakan pesawat CN-295 milik TNI AU yang dilengkapi dengan alat canggih sehingga mampu menampung empat ton garam (NaCl) sekali terbang, di kabupaten Pelalawan, Bengkalis, dan Rokan Hilir," ujar Heru.

Menurut Heru, secara umum pihaknya memprioritaskan penyemaian awan di bagian Timur Riau. Meski ada kendala cuaca kering, namun hujan dengan intensitas kecil dan bersifat lokal sudah terjadi di beberapa kabupaten.

"Ada hujan tapi tidak begitu besar seperti di sekitar Kabupaten Kampar dan Indragiri Hilir," kata Heru.

Proses modifikasi cauca oleh BPPT ini menelan biaya sekitar Rp25 miliar yang didanai sepenuhnya oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dari uang negara.

Pemerintah mengklaim, hal tersebut dilakukan untuk mencegah potensi kebakaran lahan dan hutan karena Riau kini dalam puncak kemarau, bahkan adanya fenomena El Nino menjadi potensi karhutla.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Pekanbaru, Sugarin, mengatakan hasil pantauan titik panas (hotspot) berdasarkan satelit Terra & Aqua pada Rabu pagi menunjukan ada 64 titik panas (hotspot) tersebar di Riau yang menjadi indikasi karhutla.

"Jumlah hotspot mengalami peningkatakan karena suhu udara memang meningkat, yang pada Rabu ini bisa mencapai panas maksimal hingga 35 derajat Celcius. Riau kini sedang panas-panasnya karena puncak kemarau," jelas Sugarin.

Sebaran hotspot paling banyak berada di Kabupaten Pelalawan ada 16 titik panas dan Rokan Hilir juga ditemukan 16 titik panas. Kemudian di Indragiri Hulu sebanyak 7 titik panas, Kampar ada 6 titik panas, Kuantan Singingi ada 5 titik, Bengkalis 4 titik, Rokan Hulu 3 titik serta Siak dan Kota Dumai masing-masing 1 titik.

"Adapun, jumlah titik panas tersebut dengan tingkat keakuratan di atas 70 persen, mencapai 29 titik api," pungkas Sugarin. [Pan]