Zaman Sudah Canggih, Gaji Guru Masih Dibayar Tunai

Selain lambat cair, dana sertifikasi Guru di Pekanbaru tak transparan

Selain lambat cair, dana sertifikasi Guru di Pekanbaru tak transparan

Ilustrasi | Beritariau.com 2015

Beritariau.com, Pekanbaru - Pembayaran Gaji guru oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pekanbaru yang masih manual di zaman serba canggih ini masih saja terjadi. Bahkan, pengelolaan dana sertifikasi juga dinilai tak transparan.

"Kalo bayar cash (tunai) tentu kami takut bawa pulang. Gimana kalau kami dirampok," ungkap salah seorang guru yang menolak disebutkan identitasnya kepada Beritariau.com, Selasa (16/06/15).

Selain itu, Ia mengaku banyak guru yang protes dengan cara pencairan dana sertifikasi. Pasalnya, selain lambat, juga adanya potongan dengan alasan absensi sangat tidak transparan.

"Dana itu (sertifikasi) kan harusnya cair per tri wulan (tiga bulan) pertama. Kok dirapel jadi tri wulan kedua (6 bulan). Trus, ada potongan dengan alasan absensi. Kami bingung, ada teman saya yang absen hanya sekali dalam sebulan tapi dipotong hampir setengah. Siapa yang tak kesal," ungkapnya berapi-api.

Guru ini mengaku memahami atas sanksi bagi yang tak displin pasti dana sertifikasinya dipotong. "Tapi kok banyak kali dipotong," tambahnya.

Atas kejadian ini, Selasa (16/06/15) mereka mendatangi Komisi III DPRD Pekanbaru. "Kami adukan ke pak Nofrizal. Kami harus dapat penjelasan yang lebih konkrit," katanya.

Dikonfirmasi terpisah Ketua Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, Nofrizal MM mengaku adanya pengaduan sejumlah guru kepadanya. Ia pun berjanji akan mencari tau masalah tersebut dalam tempo satu minggu.

“Coba kita bayangkan, kalau guru-guru tersebut dibayarkan gajinya dengan manual, berapa ratus orang guru yang berstatus PNS dan guru bantu melakukan antrian, belum lagi waktu yang terbuang dan mengganggu kegiatan belajar mengajar guru,” kata Nofrizal .

Yang paling menjadi sorotannya adalah, pembayaran dengan sistem manual rawan dengan tindak kejahatan. Ia khawatir, guru-guru yang dibayarkan gajinya tersebut sepulang dari mengambil intensif malah menjadi korban perampokan.

“Baru-baru ini soalnya saya dapat laporan guru kena jambret di seputaran Jalan Pattimura. Ini tentu menimbulkan keprihatinan bagi kita. Harusnya ini diantisipasi, misalnya dibuatkan mereka (guru, red) rekening bank dan pembayaran dilakukan dengan sistim transfer,” paparnya.

Selain masalah gaji, Nofrizal menyorot lambatnya pembayaran dana sertifikasi guru yang biasanya dibayarkan per triwulan pertama. Anehnya, pembayaran dana sertifikasi ini selalu dibayar per triwulan kedua dengan alasan-alasan yang tak masuk akal.

“Kita juga bingung, mengapa ini sampai terlambat. Kita minta ke depan tidak ada lagi yang namanya keterlambatan lagi dalam hal pembayaran uang sertifikasi. Bila perlu pembayaran sertifikasi guru pada triwulan kedua dapat dilakukan menjelang Idul Fitri besok, karena membantu sekali bagi guru untuk mencukupi kebutuhannya di hari raya,” pintanya. [red]