Minta Tak Ada Intimidasi Sesama Advokat

Munas Peradi di Riau tak berizin, Otto yakin polisi tak bisa digertak

Munas Peradi di Riau tak berizin, Otto yakin polisi tak bisa digertak

Ilustrasi | Beritariau.com 2015

Beritariau.com, Pekanbaru - Terkait sikap Polda Riau yang tak memberikan izin pelaksanaan kegiatan Musyawarah Nasional (Munas) Persatuan Advokat Indonesia (Peradi), bahkan berniat membubarkan jika tetap digelar dan ribut Besok (12/06/15) di Hotel Labersa [Baca : Potensi ribut, Munas Peradi di Pekanbaru tak diizikan, polisi siap bubarkan], Otto Hasibuan masih yakin aparat Kepolisian tetap netral dan tak berpihak.

"Kami masih yakin bahwa Polisi tetap menjadi mitra penegak hukum yang kredibel dan independen serta tidak mau diintervensi oleh kekuasaan," ungkap Otto Hasibuan kepada Beritariau.com, Kamis (11/06/15).

Ia masih percaya bahwa polisi tak akan terpengaruh dengan protes dan tekanan pihak-pihak yang berniat mengancam ketertiban itu sendiri. Otto justru meminta aparat bersikap arif dan bijaksana terhadap persoalan internal organisasi profesi advokad ini.

"Jika minggu depan Juniver Girsang membuat Munas versinya sendiri di Pekanbaru, kami monggo, silahkan. Kami takkan menggertak, intervensi dan menekan-nekan aparat dengan ancaman keributan. Ayo kita selesaikan polemik ini dengan akal cerdas dan intelektual," kata Otto.

Ia pun sangat menyayangkan sikap para advokad yang mengancam rekan se profesi akibat polemik ini.

"Saya sudah yakin bakal diancam. Di Makassar saja, saya tidak lari. Namun, saya hanya mencari tempat aman karena banyak preman. Ini sudah menodai komunitas profesi yang dikenal intelektual," tegasnya.

Disingggung soal izin pelaksanaan Munas yang tak diberikan oleh Polisi, Otto menyatakan bahwa Polisi tak mungkin menindas warganya yang berserikat, berkumpul dan bermusyawarah. "Itu kan dijamin Undang-undang. Dan ini bukan lagi rezim Orde Baru," ungkapnya.

Otto pun berharap agar para advokat dapat memahami secara arif soal perselisihan di tubuh Peradi. Menurutnya, apapun perbedaan pendapat tentu harus saling menghormati bukan malah mengancam dengan gaya premanisme.

Parahnya lagi, kata Otto, apabila aksi semacam itu semakin dibiarkan oleh kekuasaan yang memiliki kepentingan tertentu.

"Peradi ini rumah kita bersama. Jangan kita kotori. Sesama advokat harus saling menjaga silahturahmi. Silahkan berbeda pendapat. Kita tunggu siapa yang benar-benar mengedepankan aturan dan kebersamaan," harapnya.

Kisruh ini, kata Otto, lumrah terjadi saat Peradi selama dipimpinnya semakin membaik ibarat Gadis Cantik. "Kalau dulu kan Peradi ibarat gadis ingusan. Tak ada yang serius mengurus. Nah, setelah kita urus dan jadi "Gadis Cantik". Semua pada mau memiliki. Wajar kan," tambahnya. [red]