Program Indonesia Bertutur 2023

Belasan Koreografer Muda Indonesia Napak Tilas di Situs Candi Muara Takus Kampar

Para peserta Temu Seni Tari 2023 saat melakukan kegiatan di Candi Muara Takus/Dok. Istimewa

Beritariau.com, Kampar - Temu Seni Tari dalam Program Indonesia Bertutur 2023 diawali dengan kunjungan atau napak tilas olah para peserta ke situs Candi Muara Takus yang berada di desa Muara Takus, Disktrik XIII Koto, Kabupaten Kampar, Minggu pagi (18/6/2023).

Di situs yang berjarak kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru ini, para peserta disuguhi penjelasan panjang lebar tentang situs candi Buddha ini oleh sang Juru Pelihara Candi Muara Takus, Zulkifli.

Dalam paparannya, Zulkifli mengatakan kalau Candi Muara Takus adalah situs candi tertua di Sumatera, merupakan satu-satunya situs peninggalan sejarah yang berwujud candi di Riau. Candi yang bersifat Buddhis ini merupakan bukti bahwa agama Buddha ada di Riau.

Beda dengan candi kebanyakan, candi ini dibuat dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Berlainan dengan candi yang hadir di Jawa, yang dibuat dari batu andesit yang diambil dari pegunungan. Bahan pembuat Candi Muara Takus, khususnya tanah liat, diambil dari sebuah desa yang bernama Pongkai, terletak kurang lebih 6 km di sebelah hilir situs Candi Muara.

Di dalam kompleks ini terdapat beberapa kontruksi candi yang disebut dengan Candi sulung /tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka.

Candi ini memiliki stupa, yang merupakan lambang Buddha Gautama. Namun ada pendapat yang mengatakan bahwa candi ini merupakan campuran dari bentuk candi Buddha dan Syiwa (Hindu). Pendapat tersebut didasarkan pada bentuk bentuk Candi Mahligai yang menyerupai bentuk lingga (kelamin laki-laki) dan yoni (kelamin perempuan).

Terlepas dari itu semua, Zulkifli menyambut baik kehadiran para koreografer muda ke Muara Takus, hal ini juga menurutnya bisa jadi ajang promosi, dengan demikian, situs sejarah ini akan semakin dikenal.

Sementara itu, salah satu peserta Temu Seni Tari 2023, Dani Setyawan Budiman mengaku senang dengan kunjungan ke Candi Muara Takus, apalagi mendapat penjelasan langsung dari pengeloa terkait sejarah situs sejarah ini.

Namun begitu, untuk mendapatkan ide terkait dengan produk atau karya yang nantinya akan dihasilkan memang tidaklah mudah, namun begitu kunjungan ini tentu saja bisa memberikan gambaran atau informasi seperti apa nantinya karya yang akan ditampilkan.

"Untuk mendapatkan ide tentu saja butuh waktu lama, untungnya sebelum ke sini, kita sudah melakukan residensi mandiri di daerah masing-masing, sehingga ini nanti bisa dikolaborasikan," ujarnya.

Melalui kunjungan ini, para peserta hendaknya bisa saling berinteraksi, menyaksikan, mengenal, dan memahami tentang sejarah, seni dan budaya di Candi Muara Takus. Para koreografer muda diharapkan juga bisa mengenal bentuk, nama dan fungsi candi-candi yang ada di situs ini, sehingga mereka bisa menyerap vibrasi dan rasa dari masa lampau yang bisa menjadi sumber kekaryaan mereka. (*)