Hilang saat ke Salon, pelajar asal Kampar jadi PSK selama 3 Bulan

Ilustrasi | Beritariau.com 2014
Beritariau.com, Pekanbaru - Tiga bulan menghilang, seorang pelajar dibawah umur W (15) warga Kecamatan Tambang kabupaten Kampar propinsi Riau, ternyata dijual dan menjadi wanita penghibur di kabupaten Pasaman Barat provinsi Sumatera Barat.
Sebelumnya korban diduga diculik saat bermain di sebuah salon, Kampar.
Pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini dijual ke pria hidung belang di sebuah hotel di Pasaman Barat.
Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo Sik, Senin (22/12/14) mengatakan, terungkapnya penjualan anak dibawah umur ini berawal dari laporan ayah korban (Suparman) ke Polres Kampar, yang mengaku kehilangan anaknya, pada 23 September 2014 lalu.
"Pada Minggu (21/12), Suparman dihubungi pihak Kepolisian yang menyebutkan anaknya sudah ditemukan bersama seorang wanita, Ani (35), pemilik salon tempat korban diketahui menghilang," ujar Guntur.
Korban dijual tidak hanya pada seorang pria, tapi ke sejumlah pria hidung belang dengan tarif Rp 1 Juta hingga Rp 1,5 Juta untuk sekali main (short time). Lokasinya di beberapa hotel di Pasaman Barat. Setelah jadi pelayan nafsu, uang tersebut diambil pelaku, dan korban tak diberi sepersen pun.
"Saat ini, seorang wanita yang diduga mucikari diamankan di Polsek Tambang, setelah dijemput dari Pasaman Barat," jelas Guntur.
Setelah dimintai keterangan, korban sudah dijemput oleh kedua orang tuanya. "Korban sudah kita serahakan ke orang tua, sementara pelaku masih kita amankan untuk proses pengembangan penyidikan," kata Guntur.
Sebelum kejadian tersebut, korban diantar ibunya kesalon Ani yang diduga seorang mucikari itu di jalan Suka Karya Desa Tarai Bangun Kecamatan Tambang kabupaten Kampar Riau, untuk bersalon. Lalu sang ibu meninggalkannya sendirian.
Namun, saat akan dijemput beberapa jam usai ditinggalkan, salon tersebut tutup, dan korban menghilang tanpa jejak. Berkali-kali sang ibu mendatangi salon itu dan menanyakan ke warga sekitar, namun tidak ada yang mengetahui kemana anaknya dibawa oleh pemilik salon tersebut.
Sehingga keluarga korban membuat laporan secara resmi ke kepolisian November 2014 lalu, berharap polisi menemukan anak gadisnya itu.
Tiga bulan dilakukan penyelidikan, akhirnya korban pun tidak masuk sekolah karena tak diketahui kemana rimbanya. Setelah dilakukan pencarian, polisi menemukannya di Pasaman Barat bersama Ani sang pemilik salon.
"Kita masih lakukan penyidikan, apakah ada korban lainnya dari pelaku yang diduga seorang menjual anak dibawah umur ini," pungkas Guntur. [Pan]

