Disketapang Penuhi Panggilan Komisi II DPRD Pekanbaru Bahas Gejolak Kenaikan Harga Pangan

Disketapang Penuhi Panggilan Komisi II DPRD Pekanbaru Bahas Gejolak Kenaikan Harga Pangan

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Alex Kurniawan saat memberikan penjelasan kepada jajaran Komisi II DPRD Pekanbaru terkait penyebab lonjakan harga bahan pangan melambung di pasaran, saat rapat dengar pendapat, Jumat (24/6/2022) pagi

Beritariau.com, Pekanbaru - Tim dari Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kota Pekanbaru, memenuhi panggilan Komisi II DPRD Kota Pekanbaru, dalam rapat yang digelar, Jumat (24/6/2022) pagi.

Selain Disketapang, turut hadir Asisten II Setdako El Syabrina, Kadis Pertanian dan Perikanan Firdaus dan jajaran, Kadisperindag Kota Pekanbaru, Ingot Ahmad Hutashut beserta tim TPID melalui bagian perekonomian Setdako Pekanbaru.

Rapat digelar guna mengetahui dan mendengarkan secara langsung informasi dari Perangkat Daerah terkait gejolak kenaikan harga pangan.

Kepala Disketapang Pekanbaru, Alek Kurniawan, dalam penjelasannya di RDP mengatakan, kenaikan harga pangan terutama cabai meningkat dipasaran dialami sejak hari raya idul fitri 1443 Hijriah lalu.

"Hukum ekonomi, kondisi kenaikan itu terjadi karena supply yang ada tidak seimbang dengan permintaan," ujar Alex dalam penjelasannya.

Dengan kondisi ketidakseimbangan itu, supply yang sedikit membuat harga tidak mengalami penurunan dan terus melambung tinggi.

Kondisi tersebut menjadi anomali mengingat harga sayur sayur dan bumbu dapur biasanya langsung melandai setelah lebaran.

Berbagai analisa dan pendapat muncul terkait penyebab kenaikan harga cabai yang telah melambung tinggi saat ini.

Hal yang paling disorot saat ini adalah kenaikan harga cabai. Bumbu dapur ini kerap naik karena adanya gangguan cuaca sehingga para petani mengalami gagal panen. Kondisi permintaan itu meningkat, sementara disisi lain produksi berkurang.

Disisi lain, Alex juga menjelaskan adanya kenaikan pupuk dan obat obatan yang membuat para petani terpaksa menaikkan harga.

Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Dinas Ketahanan Pangan kota Pekanbaru dari hasil suvei yang dilakukan tim Disketapang terhadap 2 pasar setiap hari kerja, sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan.

Di Pasar Sukaramai Pekanbaru, cabai merah keriting dibanderol dengan harga Rp 95.000/kg dan untuk cabai rawit hijau Rp 68.000/kg. Sementara di Pasar Rumbai harga cabai merah keriting Rp 98.000/kg dan cabai rawit hijau Rp 69.000/kg.

"Sekarang harga cabai ini tinggi. Itukan karena kebutuhan masyarakat Pekanbaru akan cabai ini juga tinggi, apalagi sekarang sentra industri kuliner sudah semakin membaik. Tentu permintaan tinggi," jelas Alex.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, hal yang paling logis saat ini yang dapat dilakukan Diksetapang melalui tusi dan pendanaan yang ada. Salah satunya melalui optimalisasi kegiatan Pekarangan Pangan Lestari (P2L).

Melalui kegiatan ini, Dinas Ketahanan Pangan mendorong masyarakat khususnya ibu ibu rumah tangga dapat memanfaatkan pekarangannya untuk menanam tanaman holtikultura, terutama cabai yang harganya saat ini sangat mahal.

"Cabai ini bisa ditanam di dalam polybag. Dengan memanfaatkan pekarangan rumah, paling tidak untuk kebutuhan sehari hari itu bisa terpenuhi," sebutnya.

Sementara untuk jangka panjang, Alex mengatakan Disketapang saat ini tengah mendukung penuh PT Sarana Pangan Madani (PT SPM) menjadi BUMD Pangan di kota Pekanbaru.

Sejauh ini pihaknya juga mendorong PT SPM untuk bekerjasama antar daerah khususnya di bidang pangan.

Ini karena tidak semua daerah surplus beragam komoditi pangan, namun semua itu butuh pembiayaan yang tidak sedikit. Sehingganya apapun upaya untuk menjadikan PT. SPM sebagai BUMD Pangan di Pekanbaru harus diwujudkan.

“Makanya kami sangat berharap dukungan penuh dari DPRD Pekanbaru untuk menjadikan PT SPM sebagai BUMD, sehingga penyertaan modal dari Pemerintah dapat diberikan," harapnya.

Selain itu, Alex juga mengajak untuk mengoptimalkan kebijakan kebijakan yang sudah ditelurkan oleh Pemko Pekanbaru sendiri melalui Perangkat Perangkat Daerah terkait.

Diantaranya ada Perwako tentang pemanfaatan lahan dan program program strategis lainnya. Di Ketapang sendiri diantaranya ada Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L), Kawasan Mandiri Pangan, Pekan Pangan Madani (PPM) dan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) yang saat ini berupa beras.

"Kita di Pekanbaru sudah ada Perwako tentang pemanfaatan lahan tidur. Selain itu kita juga mendorong petani kita untuk menanam cabai, di lokasi Cadangan Pangan Terintegrasi (siCANTIG) Kelurahan Agrowisata," jelasnya.

"Kita juga sudah sediakan lahan disana untuk kelompok kelompok tani. Nah ini kita sedang mendorong petani untuk menanam cabai baik itu petani muda maupun kelompok kelompok petani (gapoktan) termasuk disana juga ada untuk PT SPM," ucapnya.

Hal ini sebagai bukti bahwa Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Disketapang sangat concern menanggapi isu isu Ketahanan Pangan di kota bertuah. Tak salah kiranya, sehingga kegiatan strategis yang melibatkan pemberdayaan masyarakat tetap menjadi perhatian utama Disketapang dibawah kepemimpinannya dari tahun ke tahun.

Bahkan Alex berulang kali menegaskan bahwa ada atau tidak adanya covid-19, sebenarnya isu isu ketahanan pangan selalu menjadi isu strategis apalagi pada masa pandemi sekarang.

Hal terpenting menurutnya yakni perlakuan kepada sektor pangan harus memadai kalau tidak ingin 'pangan berdaulat' dikatakan hanya sebatas slogan karena pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama dan pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin dalam konstitusi sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas. 

Terkait ketersediaan dan stok, Alex menyebutkan untuk ketersedian dan stok pangan strategis di Pekanbaru tidak ada masalah. Menurutnya kondisi itu didasarkan pada laporan prognosa yang diterbitkan oleh timnya setiap pekannya.

"Tim Disketapang di setiap awal minggu selalu menerbitkan Laporan Prognosa yang merupakan sistem monitoring stok pangan strategis yang mencakup data ketersediaan dan kebutuhan stok pangan di kota Pekanbaru. Dan sejauh ini tidak ada masalah untuk ketersedian dan stok pangan,” pungkasnya. (*)