Konflik Lahan di Kampar Mencekam, Anak-anak Turut Diserang Ratusan OTK

Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Iyo Basamo, Yuslianti.

Beritariau.com, Pekanbaru - Aksi kerusuhan berdarah dilakukan sekelompok Orang Tidak Dikenal (OTK), dengan menyerang para Petani Sawit Koperasi Unit Desa (KUD) Koperasi Petani Produsen Iyo Basamo terjadi di desa Terantang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar.

Peristiwa kekerasan itu, terjadi pada Jumat (17/6/2022) sekitar pukul 15:00 WIB yang diduga dilatarbelakangi oleh perebutan kepengurusan Koperasi petani sawit.

Akibat kerusuhan ini menyebabkan puluhan masyarakat desa mulai dari balita hingga orang dewasa diketahui mengalami luka-luka.

Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Iyo Basamo, Yuslianti mengatakan sekelompok orang itu datang dengan membawa pentungan, samurai (pedang panjang) dan Ketapel lalu mencoba menerobos masuk kebun KPPA.

"Saat melakukan penyerangan mereka sama sekali tidak ada belas kasihan terhadap anak-anak," kata Yuslianti kepada Beritariau.com, saat ditemui di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau.

Yuslianti menjelaskan, penyerangan ini dipicu dualisme kepemimpinan Koperasi sawit. Dia mengatakan, kepemimpinanny sebagai Ketua, digugat oleh pihak sebelah.

"Karema masih dalam perkara, kami memblokade kebun sawit. Soalnya kami menang banding di Pengadilan Tinggi Riau. Waktu mereka menang di Pengadilan Negeri Bangkinang kami persilahkan mereka memanen sawit," ungkapnya.

Paska insiden tersebut, Yuslianti memperkirakan kurang lebih dari pihaknya mengalami luka-luka ringan dan berat dengan usia balita hingga orang dewasa.

"Ada yang sampai tidak bisa duduk, ada juga yang kena sayatan dileher dan kena bacok samurai kepalanya. Anak-anak yang luka ada 3 orang, bahkan bayi juga ada," katanya.

Yuslianti juga menegaskan ia dan masyarakat desa Terantang sama sekali tidak mengenali sekelompok orang yang datang menyerang dan diduga orang bayaran.

"Mereka mengaku dari Outsourcing, kami tahu kok mana mungkin Outsourcing sampai ratusan jumlahnya," ungkapnya.

Atas Insiden tersebut, Yuslianti beserta para korban yang tengah melakukan perobatan dan visum akan membuat laporan ke Polda Riau.***