Diduga Dibagi ke Kader Partai Lain

Sst..! Grup Perusahaan Ini Disinyalir Terseret Kasus Suap Gubernur Riau

Sst..! Grup Perusahaan Ini Disinyalir Terseret Kasus Suap Gubernur Riau

Ilustrasi | Beritariau.com 2014

Beritariau.com, Pekanbaru - Daftar paket proyek yang kini dikantongi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dari tangan Gulat Manurung, tersangka kasus dugaan Penyuapan terhadap Gubernur Riau Annas Maamun, ramai dibicarakan di kalangan kontraktor di Pekanbaru.

"Dan tujuan pemberian lainnya sebagai ijon (fee dimuka, red) untuk mendapatkan proyek-proyek yang akan ada di Provinsi Riau," ungkap Ketua KPK Abraham Samad dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (26/9/14) lalu sehari usai penangkapan.

Dari informasi yang berhasil dirangkum Beritariau.com, dari daftar paket proyek itu, dikabarkan akan menyeret sejumlah pengusaha rekanan Pemerintah Provinsi Riau. Perusahaan-perusahaan itu, sudah tak asing lagi dikalangan kontraktor.

Bahkan, beberapa diantara daftar nama perusahaan yang kini santer jadi bahan obrolan itu, diduga ikut menyetorkan sejumlah dana sebagai ijon proyek yang kini disita KPK saat penangkapan Annas dan Gulat di Perumahan Grand Citra di Kawasan Cibubur, Jakarta Timur pada Kamis (25/9/14) lalu.

Beberapa diantara data yang diperoleh Beritariau.com, ada sejumlah perusahaan yang dikenal akrab sebagai rekanan pada pembangunan dan pengaspalan di Dinas Pekerjaan Umum Bidang Jalan dan Jembatan di Riau.

Berikut beberapa grup perusahaan itu :

1. Grup PT SGI. Dikendalikan pengusaha berinisial L yang akan mengikuti 8 paket lelang dengan total nilai Rp. 40.021.424.827.

2. Grup PT RBBM. Dikendalikan pengusaha berinisial B yang akan mengikuti 3 paket lelang dengan total nilai Rp. 42.875.863.902.

3. Grup PT LWP. Dikendalikan oleh pengusaha berinisial L yang bekerja sama dengan mantan anggota DPRD yang akan mengikuti 3 paket lelang dengan total nilai Rp. 40.717.243.886. L dikabarkan merupakan keponakan salah satu Kepala Daerah tingkat II di Provinsi Riau.

4. Grup PT TA. Dikendalikan oleh pengusaha berinisial RE yang akan mengikuti 8 paket lelang dengan total nilai Rp. 33.757.980.846.

5. Grup PT II. Dikendalikan oleh pengusaha berinisial S yang akan mengikuti 5 paket lelang dengan total nilai Rp. 29.890.736.100.

6. Grup PT HTJ. Dikendalikan oleh pengusaha berinisial MM yang akan mengikuti 6 paket lelang dengan total nilai Rp. 29.084.528.247.

7. Grup PT CHT. Dikendalikan oleh pengusaha berinisial ES yang akan mengikuti 3 paket lelang dengan total nilai Rp. 26.007.203.675.

Dari 7 kelompok yang dicoba diverifikasi Beritariau.com, PT CHT singkatan Citra Hokiana Triutama diketahui milik Edison Marudut Siahaan, Wakil Bendahara DPW Partai Demokrat Provinsi Riau.

Dari hasil penelusuran Beritariau.com, PT CHT yang beralamat di Jalan Hangtuah No. 195 RT/RW : 02/05 Kelurahan Rejo Sari Kecamatan Bukit Raya Kota Pekan Baru, terdaftar secara resmi di Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK). Dimana, Edison MM Siahaan tercantum sebagai Direktur Utama.

Kepada Beritariau.com, Edison yang dikonfirmasi secara langsung mengaku memang berencana akan mengikuti lelang paket proyek senilai 26 Milyar itu. Namun, Ia membantah ikut menyetorkan uang bahkan mengatur proses lelang pada tahap III itu.

"Saya hanya berteman dengan GM. Tak ada saya setor uang," katanya kepada Beritariau.com, Minggu (28/9/14) lalu.

Seperti diketahui, Gubernur Riau Annas Maamun adalah Ketua DPD Partai Golkar Propinsi Riau. Biasanya, jika seorang Kepala Daerah berasal dari partai tertentu, para kader-kader partai itulah yang lebih banyak mencoba mengambil peran sebagai rekanan.

Dalam kasus ini, Edison yang telah ditetapkan status Cegah dan Tangkal (Cekal) bepergian ke luar negeri oleh KPK, justru merupakan kader dari partai yang bukan pendukung Annas Maamun saat Pilkada Gubernur Riau kemarin.

"Kabarnya juga ada upaya ke kader partai lain yang jumlahnya anggotanya banyak di kursi DPRD Riau," ungkap H, wartawan senior di Riau.

Sementara itu, pengusaha berinisial S yang mengkomandoi perusahaan PT II, tak bisa dihubungi Beritariau.com. Namun, seorang temannya mengaku bahwa sudah beberapa hari sejak penangkapan S tidak bisa dihubungi ke nomor selulernya.

"Sejak itu (penangkapan), nomornya ga aktif. Mungkin handphonenya dibuangnya," katanya tertawa. [TIM]

Tags :# korupsi