Kondisi Semi Permanen

Sejak tahun 1975, Bangunan SD tengah kota milik Pemko Pekanbaru diterjang banjir

Sejak tahun 1975, Bangunan SD tengah kota milik Pemko Pekanbaru diterjang banjir

BANJIR - Kondisi SDN 56 Pekanbaru yang diterjang banjir saat hujan turun dengan intensitas tinggi | Beritariau.com 2016

Beritariau.com, Pekanbaru - Miris, ditengah pembangunan kota yang megah, ternyata masih ada bangunan sekolah yang kondisinya memprihatinkan. Bangunan SD Negeri 56 yang berdiri sejak 1975, dengan jumlah siswa sebanyak 250 orang, di Jalan Teuku Cik Ditiro gang Inpres RT 03 RW 01 Kelurahan Tanah Datar, Kecamatan Pekanbaru Kota, setiap hujan turun dengan intensitas tinggi, selalu diterjang banjir bandang. Akibatnya, proses belajar mengajar terhenti.

Hal itu diketahui saat Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, Senin, (14/11/16) siang, meninjau lokasi bangunan semi permanen yang berada di tengah pemukiman penduduk tersebut. Kedatangan dua orang anggota Komisi III yang diwakili oleh Ketua Komisi, Nofrizal dan Anggota Komisi III, Fikri Wahyudi Hamdani, tersebut, langsung disambut Kepala Sekolah dan perwakilan guru.

Kepala SD Negeri 56 Pekanbaru, Hj Elviera Spd, menyebutkan, setiap hujan dengan kondisi curah tinggi, 4 ruang kelas diterjang banjir bandang setinggi 50 centimeter. Akibatnya, proses belajar mengajar menjadi terhenti dan siswa terpaksa diliburkan.

"Kalau hujan setengah jam saja, bangunan ruang kelas ini banjir sedalam lutut orang dewasa. Lokasi sekolah ini berada didalam gang dengan parit yang kecil," kata Elviera, dihadapan Anggota Komisi III.

Selain itu, dia juga menyebutkan kondisi bangunan sekolah saat ini sudah tua dan mulai keropos. Beberapa meubeler dan bangku belajar rusak parah. Dengan kondisi yang serba memprihatinkan itu, dia berharap hal ini menjadi perhatian dari Pemko Pekanbaru.

"Kalau bisa direvitalisasi bangunan sekolah kami ini. Ini sudah sangat memprihatinkan sekali dan tidak layak. Bangunan dibawah semen diatas kayu. Bagaimana kami nyaman belajar dengan kondisi seperti ini," ucapnya.

Senada juga diucapkan oleh Siswa SDN 56 kelas VI, Arifin Zuhdi. Dia mengatakan bahwa banjir di sekolahnya yang terparah terjadi pada bukan Juni 2016. Seluruh buku dan kursi rusak parah. Dia dan teman-temannya terpaksa berhenti belajar.

"Kalau banjir, kami sekolah terkadang harus menguras air didalam lokal. Pengurasannya memakan waktu dua jam. Kalau sudah banjir, guru suruh kami pulang," ungkap Arifin.

Usai meninjau lokasi, Ketua Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, Nofrizal mengaku prihatin melihat kondisi banjir yang sering terjadi di SDN 56 Pekanbaru. Dengan adanya keluhan itu, dia berharap ada perhatian serius dari Pemko Pekanbaru.

"Sekolah ini juga letaknya digang  dan dikelilingi rumah masyarakat dan parit kecil. Kenapa kita katakan prihatin, karena masih ada sekolah yang berada ditengah kota mengalami kekurangan dan masalah, tentunya ini harus menjadi perhatian dan prioritas," pungkasnya. [bam]