Kadin Riau Desak Dirikan Industri Hilir CPO
Gara-gara Karlahut, negara di Eropa & Australia batasi beli CPO asal Riau

ilustrasi
Beritariau.com, Pekanbaru - Akibat sentimen penilaian bahwa industri perkebunan sawit masih rentan terlibat Kebakaran Lahan dan Hutan (Karlahut), negara-negara di Eropa dan Australia masih membatasi permintaan Cruide Palm Oil (CPO) dari Riau. Padahal, pemerintah telah mengklaim telah lebih baik mencegah Karlahut dari tahun lalu.
Senior Treasury Representative - South East Asia, Kedutaan Besar Australia, Shaun Anthony mengatakan, pihaknya dan negara lain tidak akan mengambil komoditas itu, jika Riau belum mampu menyelesaikan persoalan kebakaran hutan dan lahan.
"Riau memiliki produksi CPO terbesar di dunia. Namun, Eropa dan Australia masih beranggapan buruk dengan industri sawit di Riau. Karena sering terjadi kebakaran hutan dan lahan," katanya, Jumat (14/10/16).
Dia tidak menampik bahwa membatasi permintaan CPO dari Riau akan berdampak buruk terhadap harga komoditas itu yang cenderung menurun. Tak hanya itu, juga berdampak dengan perekonomian Riau dan Indonesia.
Shaun berpendapat, selain mencegah terjadinya karlahut, Riau juga harus meningkatkan kualitas produksi CPO agar permintaan negara tujuan ekspor dapat terjaga.
Saat ini, karlahut masih terjadi di beberapa areal perkebunan sawit di Riau. Namun, tak sebesar pada tahun lalu. Karlahut ini diketahui telah terjadi di Riau semenjak 19 tahun.
Dari data Kamar Dagang Industri Riau menunjukkan total produksi CPO di Riau mencapai 6,5 juta ton per tahun. Hal ini membuat Riau menjadi daerah penghasil CPO terbesar di Indonesia dengan dominasi 60 persen.
CPO ini diekspor ke beberapa negara seperti Tiongkok, Eropa, Amerika Serikat, India, Australia dan lainnya. Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Riau Viator Butarbutar menanggapi pihak Eropa dan negara lain membatasi ekspor merupakan wujud dedikasinya untuk menjaga lingkungan.
"Pemerintah harus menyelesaikan hal ini untuk menjaga kestabilan permintaan luar negeri," katanya.
Menurutnya, Riau harus mempunyai industri hilir untuk meningkatkan kualitas CPO dan membuat produk turunannya. Hal ini bertujuan agar CPO Riau tak lagi bergantung dengan permintaan luar negeri.
"Mestinya industri hilir sudah dibangun," pungkas Viator. [red/bisnis.com]

