Bikin Jamaah Tertawa di Haul Syekh Oesman, UAS: Aku Ko Mudo, Panggil Bro Ajo

Bikin Jamaah Tertawa di Haul Syekh Oesman, UAS: Aku Ko Mudo, Panggil Bro Ajo

Beritariau.com, Bagansiapiapi -- Ustaz Abdul Somad (UAS) kembali berhasil mencairkan suasana di tengah ribuan jamaah yang menghadiri Haul ke-80 Syekh Oesman Syahabuddin Alkhalidy Naqsabandi di Bagansiapiapi, Rokan Hilir, Rabu (23/9/2026).

Ceramah UAS yang berlangsung lebih dari satu jam itu tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga diselingi humor khas yang membuat jamaah tertawa. Salah satunya ketika UAS menjelaskan makna kata syekh yang dalam bahasa Arab berkaitan dengan orang tua dan orang berilmu.

Dengan gaya santainya, UAS justru bergurau ketika dirinya disebut Syekh Abdul Somad.

“Kalau dipanggil Syekh Abdul Somad, aku ko mudo. Panggil bro ajo,” selorohnya yang disambut tawa jamaah.

UAS kemudian mengajak jamaah memahami sejumlah istilah Arab yang terdapat dalam nama dan gelar para ulama. Ia menjelaskan makna Utsman, Syihab hingga din yang berarti agama.

“Jangan lupa elok-elok, sebab ini akan keluar dalam ujian akhir semester,” candanya.

Di balik humor tersebut, UAS menyampaikan pesan serius tentang pentingnya sanad dalam mempelajari ilmu agama. Ia menguraikan mata rantai guru dalam Tarekat Naqsabandiyah hingga sampai kepada ulama yang menjadi rujukan di Bagan Siapi-api.

Menurutnya, belajar agama harus memiliki jalur keilmuan yang jelas. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menjadikan media sosial sebagai satu-satunya sumber belajar agama.

UAS menyebut belajar melalui YouTube tetap diperbolehkan, tetapi masyarakat harus memastikan sosok yang menjadi rujukan benar-benar memiliki kapasitas keilmuan, berakidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan menjalankan syariat.

“Guru itu harus jelas. Orangnya ada, ilmunya ada, amalnya ada,” pesan UAS.

Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak hanya mengenal tokoh-tokoh hiburan, tetapi juga mengenal para ulama dan tokoh agama yang memiliki kontribusi besar dalam sejarah Islam.

Dalam ceramahnya, UAS turut mengisahkan perjalanan pendidikan dirinya ke Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia mengenang perjuangan ketika harus meninggalkan keluarga untuk menuntut ilmu di luar negeri.

Menurutnya, generasi terdahulu memiliki semangat luar biasa dalam menuntut ilmu. Para santri bahkan rela menempuh perjalanan berbulan-bulan menuju Makkah dan bertahun-tahun meninggalkan keluarga demi belajar agama.

UAS kemudian mengaitkan tradisi keilmuan tersebut dengan keberanian sejumlah tokoh Islam dalam menghadapi penjajahan dan berbagai tantangan zaman.

Ia menyebut sejumlah tokoh, mulai Umar Mukhtar dari Libya, Salahuddin Al-Ayyubi, Muhammad Al-Fatih hingga Syekh Yusuf Al-Makassari. Menurut UAS, keteguhan mereka tidak terlepas dari pendidikan dan bimbingan guru serta kekuatan spiritual yang dimiliki.

UAS juga menjelaskan praktik zikir dalam Tarekat Naqsabandiyah, termasuk zikir khofi yang dilakukan secara tersembunyi tanpa suara.

Ia bahkan mengajak jamaah mempraktikkan zikir tersebut. Momen itu kembali diselingi humor ketika sebagian jamaah kesulitan mengikuti instruksi menahan napas.

“Kalau belum pernah suluk, jangan dipaksakan,” ujar UAS disambut tawa jamaah.

Ia kemudian menjelaskan tentang suluk sebagai salah satu bentuk latihan spiritual yang dilakukan dalam kurun waktu tertentu untuk memperbanyak zikir dan ibadah. Dalam praktiknya, jamaah memperbanyak ibadah sunnah dan menjaga pola hidup agar lebih fokus dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menjelang akhir ceramah, UAS mengingatkan jamaah bahwa harta dan jabatan pada akhirnya hanya menjadi titipan yang akan berpindah tangan. Karena itu, manusia harus memperbanyak amal yang menjadi bekal setelah kehidupan dunia.

Ia juga mengajak generasi muda untuk lebih dekat dengan ulama, memperkuat kepedulian sosial serta menunaikan kewajiban zakat melalui lembaga yang resmi.

Rangkaian Haul ke-80 Syekh Oesman Syahabuddin Alkhalidy Naqsabandi kemudian dilanjutkan dengan doa haul yang dipimpin Habib Umar. Kegiatan ditutup dengan pembagian nasi berkat dan pameran buku karya UAS.

Acara tersebut turut dihadiri Asisten I Provinsi Riau Zulkifli Syukur, Bupati Rokan Hilir H. Bistamam, Wakil Bupati Rokan Hilir Jhony Charles, jajaran Forkopimda, pimpinan DPRD, ulama, tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Haul ke-80 Syekh Oesman Syahabuddin menjadi momentum untuk mengenang jasa ulama sekaligus memperkuat ukhuwah dan semangat masyarakat dalam menjaga tradisi keagamaan di Rokan Hilir. (*)