Manfaatkan Lokasi yang Curam dan Tinggi

Polda Riau: Ini modus perambah Hutan Lindung Bukit Suligi

Polda Riau: Ini modus perambah Hutan Lindung Bukit Suligi

MENCURIGAKAN - Disekitar Kawasan Hutan Lindung Bukit Suligi yang Terbakar Tampak Pondok atau Gubuk | Satgas Udara Karlahut 2016 | Istimewa

‎Beritariau.com, Pekanbaru - Kepolisian Daerah (Polda) Riau menyatakan telah mengetahui modus yang beraktivitas di kawasan Hutan Lindung (HL) Bukit Suligi. ‎Mereka diduga kuat memanfaatkan kondisi hutan y‎ang sulit dijangkau‎ yang berada di perbatasan Kabupaten Kampar dan Rokan Hulu (Rohul). Kondisi inilah dijadikan ‎modus oleh para perambah.

‎Disinyalir, modusnya berupa membabat pohon-pohon dan mengambil kayunya. Kemudian, jika telah gundul, kawasan itu dibakar dan dijadikan areal perkebunan kelapa sawit. Aktivitas ini, diduga makin marak sebelum hari raya Idul Adha 1437 H kemarin.

"Adanya perambahan ini diketahui setelah Satgas Udara Karhutla Riau berpatroli. Ditemukan titik api dan kawasan yang mengeluarkan asap," kata Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo, Rabu (14/09/16).

Dilanjutkannya, setelah dipadamkan lewat udara, belasan personel Polres Kampar dan TNI AD juga menyisir melalui jalur darat. Aparat menemukan jejak perambah liar di lokasi tersebut.

"Ditemukan bekas-bekas penumbangan kayu yang kemudian dijadikan lahan untuk perkebunan sawit," katanya.

Guntur menerangkan, menuju lokasi, petugas menemui kesulitan karena kawasan tersebut berada di ketinggian sekitar 1.000 mdpl (diatas permukaan laut, red) dan memiliki medan yang sangat ekstrim.

"Kendaraan tak dapat digunakan untuk menjangkau lokasi dan hanya bisa ditempuh dengan cara berjalan kaki. Pelaku pembakaran masih dicari dengan meminta keterangan sejumlah saksi dan kepolisian terus berkoordinasi dengan instansi terkait," kata Guntur.

Saat ini, kebakaran di kawasan mulai padam setelah sejumlah helikopter untuk melakukan water bombing dikerahkan. Hanya saja, asap tipis masih muncul dan sudah didinginkan oleh Satgas Darat yang datang kemudian.

Sebelumnya, Komandan Satgas Udara Karhutla Riau Marsekal Pertama Henri Alfiandi, mencurigai adanya perambahan di Bukit Suligi dikuatkan dengan temuan pondok-pondok yang digunakan perambah untuk beristirahat.

"Dari udara, terlihat jelas aktivitas perambahan serta pembakaran. Terlihat adanya gubuk-gubuk dan aktivitas warga," kata Komandan Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin ini.

Hanya saja ketika petugas darat dikirimkan ke lokasi, pondok-pondok itu sudah kosong. Hanya sejumlah alat perambahan dan pembakaran, seperti bensin dan jerigen yang ditemukan. Informasi yang dirangkum, HL Bukit Suligi merupakan hamparan hutan tropis basah dengan luas areal sekitar 300 hektare di dua kabupaten.

Kawasan tersebut berjarak sekitar 139 kilometer dari Kota Pekanbaru. Hutan Lindung Bukit Suligi selama ini dikenal karena keindahan panoramanya, gua dan air terjun. Namun, kawasan itu kini kian terancam akibat perambahan untuk dialihfungsikan secara ilegal menjadi perkebunan sawit, terutama di kaki bukit.

Menuju ke lokasi, jika melalui jalur darat, dapat ditempuh masuk dari Simpang Siabu Kabupaten Rohul perbatasan Kampar.

Bukit Suligi, merupakan kawasan tangkapan hujan atau catchment area untuk areal pertanian disekitarnya. ‎Dengan adanya perambahan ini membuat hutan jadi gundul. Akibatnya, mata air akan berkurang dan irigasi pertanian menjadi kering.

Kini, dibawah kaki bukit, disinyalir telah menjamur kebun-kebun kelapa sawit yang didanai perusahaan dengan mengatasnamakan petani perorangan maupun kelompok. Kawasan itu kerap disebut dengan 'Kelok S'.

Selain pembakaran lahan untuk dijadikan kebun sawit, di kawasan itu kerap terjadi pembalakan liar (ilegal logging, red). Dimana kayu yang ditebang diluncurkan dari atas bukit. Dan, di bawah sudah menunggu truk Colt Diesel untuk kemudian dibawa ke sawmil terdekat. [red]