Maunjun Udang Galah, Tradisi Sungai Sapat yang Menjaga Warisan Alam untuk Generasi Mendatang

Beritariau.com, Inhil – Riuh suara peserta yang menyusuri aliran Sungai Sapat menjadi penanda dimulainya Festival Maunjun Udang Galah, Kamis (11/6/2026). Lebih dari sekadar perlombaan memancing, kegiatan yang menjadi bagian dari perayaan Hari Jadi ke-61 Kabupaten Indragiri Hilir ini membawa pesan kuat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan keberlangsungan sumber daya perairan.
Di tepian Sungai Sapat, Kecamatan Kuala Indragiri, Bupati Indragiri Hilir, Herman, menyaksikan langsung antusiasme masyarakat yang mengikuti tradisi turun-temurun tersebut. Baginya, festival ini bukan hanya ajang hiburan rakyat, tetapi juga sarana edukasi untuk menumbuhkan kesadaran menjaga ekosistem sungai yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir.
Menurut Herman, kawasan Kuala Indragiri dikenal memiliki kekayaan perairan yang melimpah. Potensi tersebut harus dijaga agar tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
“Selain wisata religi yang telah dikenal luas, Kuala Indragiri juga menyimpan kekayaan laut dan sungai yang luar biasa. Karena itu, menjadi tanggung jawab bersama untuk merawatnya sebagai warisan bagi anak cucu kita,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Herman juga mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan sumber daya alam dengan cara yang ramah lingkungan. Ia menegaskan praktik penangkapan ikan maupun udang yang merusak, seperti penggunaan racun atau menuba, harus ditinggalkan karena mengancam keberlangsungan ekosistem perairan.
“Kalau menggunakan racun, yang mati bukan hanya udang besar, tetapi juga anakan udang dan biota lainnya. Jika itu terus dilakukan, keseimbangan alam akan terganggu dan sumber penghidupan masyarakat bisa terancam,” tegasnya.
Pesan serupa disampaikan Camat Kuala Indragiri, Rahelmi. Ia menilai Festival Maunjun Udang Galah memiliki nilai edukatif yang tinggi dan layak dijadikan agenda tahunan untuk memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Menurutnya, kelestarian Sungai Sapat harus menjadi tanggung jawab bersama agar habitat udang galah dan berbagai biota perairan lainnya tetap terjaga.
Festival tahun ini diikuti 190 peserta. Sebanyak 100 peserta mengikuti kategori perorangan, sementara kategori beregu diikuti 30 tim yang masing-masing terdiri dari tiga orang dalam satu armada.
Melalui tradisi Maunjun, masyarakat tidak hanya merayakan kekayaan alam yang dimiliki, tetapi juga menegaskan komitmen untuk menjaga Sungai Sapat tetap lestari. Sebab, keberlanjutan sumber daya perairan hari ini akan menentukan kehidupan masyarakat pesisir pada masa yang akan datang. (*)

