Riau dikepung titik api, 2 heli pengebom air tak bisa beroperasi

FOTO : Teknisi Helikopter MI 171 milik BNPB memeriksa mesin Helikopter MI 171 di Base Off Landasan Udara TNI AU Palembang yang diselimuti kabut asap, Sumatera Selatan, Kamis (27/08/15) | Antara-Nova Wahyudi
Beritariau.com, Pekanbaru - Dua unit helikopter jenis MI-8 dan MI-171, yang biasa digunakan melakukan pengeboman air (water boombing, red) untuk penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau tak bisa beroperasi dan terpaksa menjalani perawatan.
"Dua heli itu sedang dalam perawatan untuk 100 jam terbang dan perbaikan rutin," kata Kepala Dinas Operasi (Kadis Ops) Pangkalan Udara (Lanud) Roesmin Nurjadin Kolonel Pnb Yani Amirullah di Pekanbaru, Rabu (10/08/16).
Untuk jenis MI-8, dilakukan perawatan rutin 100 jam terbang. Sedangkan jenis MI-171 dilakukan perbaikan dengan mendatangkan teknisi dari Palembang. Selain itu, satu unit pesawat "Air Tractor" (AT) yang juga dimanfaatkan untuk pengeboman air tidak dioperasikan karena dalam rangka perpanjangan izin terbang.
Seperti diketahui, Satgas Udara Karhutla Riau saat ini menyiagakan 2 unit helikopter jenis MI-8 dan MI-171 serta dua AT yang seluruhnya dimanfaatkan untuk pengeboman air. Seluruh helikopter dan pesawat bermarkas di Pangkalan Udara (Lanud) Roesmin Nurjadin.
Dengan perbaikan dan perawatan serta perpanjangan izin ini, maka upaya pemadaman saat ini hanya mengandalkan satu AT.
"Kita maksimalkan dengan pesawat yang ada untuk patroli dan pengeboman air dengan pesawat 'Air Tractor'," jelasnya.
Selain itu, dia juga mengatakan upaya penanggulangan dilakukan dengan pesawat Cassa yang dioperasikan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk membentuk hujan buatan.
"Tadi kita sudah koordinasi dan petakan awan-awan yang berpotensi untuk membentuk hujan," lanjutnya.
Sementara itu, dua Helikopter Bell 214 bantuan BNPB yang tiba di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru pada Minggu (07/08/16) diterbangkan ke Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah untuk memaksimalkan penanggulangan kebakaran hutan di wilayah tersebut.
"Heli Bell 214 diterbangkan kemarin (Rabu, 10/08/16) ke Pangkalan Bun. Informasinya, BNPB akan mengganti dengan Helikopter Sikorsky, meski belum pasti. Tapi kita siap menerima bantuan tersebut," jelasnya, seperti diberitakan Antara, Kamis (11/08/16).
Sementara itu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyatakan, 54 titik panas di Sumatera dengan memiliki tingkat kepercayaan kebakaran lahan dan hutan di atas 50 persen pada Kamis hari ini terkonsentrasi di Provinsi Riau, sehingga rawan terbakar.
Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, Slamet Riyadi mengaku, Riau provinsi dengan wilayah sebaran titik panas terbanyak total 29 titik, dibanding dengan daerah lain atau lima provinsi terdeteksi satelit dari total 10 provinsi di Sumatra.
Dirincikan, sebanyak 29 titik panas di Riau terdapat di 8 daerah seperti Kabupaten Pelalawan delapan titik, Kabupaten Bengkalis dan Kota Dumai sama-sama terpantau 5 titik.
Lalu Kabupaten Kampar 4 titik panas, Kabupaten Siak 3 titik, Kabupaten Kepulauan Meranti 2 titik, sedangkan Kabupaten Rokan Hulu dan Kabupaten Indragiri Hilir terdeteksi masing-masing berbagi sumbangan 1 titik panas.
Dari total jumlah titik panas di Riau itu, lanjutnya, dengan tingkat kepercayaan di atas 70 persen yang menandakan titik api atau kebakaran lahan dan hutan terutama lahan gambut terjadi 14 titik dengan sebaran di enam daerah.
Dumai dan Kampar sama-sama menyumbang 4 titik dengan lokasi berada di Bukit Kapur serta Sungai Sembilan masing-masing 2 titik dan XII Koto Kampar dua titik, Kampar Kiri serta Kampar Timur berbagi sama 1 titik.
Lalu Bengkalis terpantau 3 titik api yakni di Rupat 2 titik dan Pinggir 1 titik, sedangkan Kepulauan Meranti, Pelalawan dan Rokan Hulu sama-sama memberi sumbangan 1 titik.
"Di daerah Merbau untuk Meranti, daerah Ukui untuk Pelalawan dan daerah Bonai Darussalam untuk Rokan Hulu," jelas Slamet. [red]

