Tokoh Masyarakat Sebut Ada Efek Pilpres

Tudingan Syarwan Hamid pada Annas Maamun, Merusak Iklim Investasi di Riau

Tudingan Syarwan Hamid pada Annas Maamun, Merusak Iklim Investasi di Riau

Viator Butar-butar (Kiri) dan Alaidin Koto (Kanan) dalam Jumpa Pers di Pekanbaru | Beritariau.com 2014

Beritariau.com, Pekanbaru - Situasi tidak sehat di Riau akibat isu berkembang dari pernyataan Letjend TNI (Purn) Syarwan Hamid yang menuding Gubernur Riau H Annas Maamun telah menzalimi rakyat dan tak amanah, tokoh masyarakat Riau lintas etnis tergerak untuk angkat bicara.

Tokoh masyarakat Riau, mantan Ketua Umum Ikatan Keluarga Batak Riau (IKBR), Viator Butar-Butar, menyayangkan sikap Syarwan Hamid yang sengaja melakukan tudingan miring kepada Gubernur Riau untuk kepentingan pribadinya.

Bahkan, Ia mengatakan pernyataan Syarwan telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat Riau.

“Tudingan pak Syarwan itu merupakan penilaian sepihak yang sangat absurd dan tak memiliki dasar. Rumor pelecehan seks ini dimanfaatkan untuk kepentingan pribadinya menyingkirkan Gubernur,” kata Viator, pada konferensi pers di Pekanbaru, Selasa (2/9/14) malam.

Bahkan, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Provinsi Riau ini menuturkan, akibat statement mantan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) era Presiden BJ Habibie tersebut, saat ini iklim investasi di Riau sangat terganggu.

“Saya ingin menghimbau pak Syarwan, janganlah menggunakan cara itu untuk memecah belah warga Riau. Tunjukkan sikap sebagai tokoh yang menjunjung budaya santun. Omongan provokatifnya itu membuat investor terhalang dan 'balik kanan' karena suasana jadi kurang kondusif,” terang Viator.

Omongan Syarwan Hamid yang menjurus kemana-mana tersebut, dinilai sebagai pernyataan sentimental karena Prabowo-Hatta, jagoannya dalam pilpres yang lalu kalah karena di Riau hanya menang tipis.

“Dia (Syarwan, red) bahkan ngomong ke Ical (Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie, red) yang tidak-tidak. Karena di Riau saat itu suara Prabowo Hatta hanya menang sangat tipis. Kan kita tahu, pak Syarwan itu timses Prabowo Hatta. Kita sudah lihat dia mengerahkan massa,” ucap Viator.

Lebih menyakitkan, dalam pernyataan Syarwan itu, secara tersirat disebutkan bahwa, warga Riau adalah orang bodoh.

“Dia anggap masyarakat Riau ini seolah-olah tidak ada. Jangan anggap orang Riau ini bodoh. Mungkin tidak pintar seperti beliau, tapi tidak bodoh. Kalau pun bodoh jangan diperbodoh,” cetusnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Riau lain, Prof. Dr. Alaidin Koto melihat bahwa, opini publik yang telah berkembang saat ini, sangat kental kaitannya dengan nuansa muatan politik tingkat tinggi.

“Isu ini dilakukan oleh pemegang jabatan tertinggi. Orang yang punya kepentingan disini. Pernyataan dia (Syarwan, red) itu politis. Gubernur itu jabatan politis. Kalau menjatuhkan pasti berhubungan dengan nuansa politis,” ungkap Guru Besar UIN Suska Riau ini.

Bahkan, dirinya dengan terang-terangan mengungkapkan bahwa Syarwan Hamid, bukanlah seorang tokoh.

“Kalau dia mengaku tokoh, dia harusnya menjaga Riau ini dengan ucapannya. Tokoh berperan menyatukan masyarakat bukan pemecah belah,” pungkasnya.

Para tokoh ini pun mengajak warga Riau objektif dan menjadikan hukum yang sebagai pegangan untuk membuktikan benar atau salah tuduhan itu.

"Hukum kita hukum positif. Kalau dengan tudingan, surat, opini di media dijadikan dasar menjatuhkan Gubernur, apa artinya hukum di negara ini," kata Viator.

Saat ditanyakan soal kabar tudingan Syarwan itu akibat sikap Annas Maamun yang tidak memperbolehkan sejumlah tokoh menikmati fasilitas Pemprov seperti VVIP Lancang Kuning di Bandara dan juga jarang diundang ke acara penting di Riau, Alaidin Koto mengaku heran dan kecewa.

"Itulah kita heran dan kecewa. Saya saja tak pernah mengharapkan fasilitas. Jika Pemerintah minta saran, saya kasih. Dan saya juga kalau mengkritik pemerintah, hanya sewajarnya saja," katanya.

Seperti diketahui, Syarwan Hamid, mantan Kassospol ABRI yang kemudian jadi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) era Presiden Habibie itu, Sabtu (2/8/14) lalu, menulis surat ke Annas dan ditembuskan ke sejumlah lembaga dan tokoh penting.

Isi surat itu, kental muatan politis yakni menjatuhkan Annas Maamun dari Jabatan Gubernur dengan alasan ada laporan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), tokoh masyarakat dan penilaian pribadi terhadap pemerintahan dan rumor kasus seks.

Data yang diperoleh, Syarwan meminta seluruh potensi masyarakat dari berbagai kalangan agar secara demokratis ikut menghentikan praktek Annas yang dinilainya zalim sebagai pemimpin Riau.

Tak hanya itu, Ia juga mengajak semua warga Riau secara bersama-sama dalam suatu sikap agar Annas Maamun tidak memperpanjang lagi gaya kepemimpinan yang dinilainya brutal.

Merasa surat itu dapat memprovokasi warga, pada Rabu (20/8/14) sebuah amplop besar berisi 11 amplop kecil dari 11 Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) di Riau dikirim ke rumah Syarwan di Jakarta.

Surat tersebut antara lain berasal dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Riau dan Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Riau dan delapan Ormas lainnya. Isinya mengecam surat yang dikirim Syarwan kepada Gubernur. [bam]

Tags :# politik