Seminar Internasional Universitas Lancang Kuning
Dirut Bank Riau Kepri : Resiko adalah Peluang!
Dirut Bank Riau Kepri DR Irvandi Gustari (Kiri)
Beritariau.com, Pekanbaru - Secara umum, resiko adalah potensi kerugian yang dapat dialami pebisnis. Namun untuk dunia perbankan, resiko merupakan peluang untuk meraih keuntungan.
Ini sesuai dengan prinsip investasi yang menyebutkan, semakin besar resiko maka potensi keuntungan yang didapat semakin besar.
Ulasan tersebut dipaparkan Direktur Umum (Dirut) Bank Riau Kepri (BRK), Dr Irvandi Gustari saat menjadi pembicara di Seminar Internasional "Management Change In The Perspective of Human Resources Management, Management Risk and Marketing Management" pada Sabtu (30/1) di Gedung Perpustakaan Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru.
Selain Irvandi Gustari, panitia juga menghadirkan dua pemateri lainnya yakni Prof Dr Nor'ain Othman dari Universiti Teknologi Mara Malaysia, serta Prof Christantius Dwiatmadja, ME, PhD selaku Dekan FEB UKSW Salatiga. Adapun moderator acara adalah Dr Emrizal Pakis SE MM.
Dalam materinya, Irvandi mengatakan resiko sesungguhnya bisa dikelola, dan bisa dimitigasi yang kemudian menciptakan sebuah peluang keuntungan.
"Itu kemudian, dianjurkan dalam bisnis sebuah managemen perusahaan untuk tidak menghindari resiko, namun berupaya bagaimana mengelola dan melakukan mitigasi yang baik," kata Irvandi.
Ditambahkannya, bahwa untuk perubahan dalam perusahaan atau sebuah bisnis, haruslah produktif yang dapat dilakukan secara bertahap dan juga secara total.
"Mau bertahap ataupun perubahan total, baiknya dua-duanya itu dilakukan sesuai dengan tingkat kebutuhan perubahan itu sendiri," katanya.
Dan di era kompetitif saat ini, lanjutnya, yang baik dilakukan adalah percepatan. Dan dalam percepatan itu hanya ada dua hal, yakni; speed dan kualitas.
"Artinya, kita boleh cepat, tapi kualitas jangan sampai ditinggalkan," kata Irvandi.
Untuk diketahui, kata Irvandi, pada lima atau sepuluh tahun lalu, Vietnam adalah negara yang jauh di bawah Indonesia, namun sekarang justru sejajar dengan Indonesia.
Pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) saat ini, katanya ada sejumlah negara yang kini terus menggeliat maju, seperti Thailand, Malaysia dan Singapura, namun Vietnam yang dahulu jauh di bawah Indonesia, tapi begitu cepat mengejar Indonesia.
"Itu karena mereka melakukan percepatan perubahan, sementara Indonesia sejauh ini masih disibukkan dengan era reformasi yang belum selesai sampai dengan hari ini," katanya.
Untuk itu, demikian Irvandi, dibutuhkan upaya perubahan yang cepat, dan resiko yang muncul harus dimitigasi sehingga menjadi peluang bisnis yang menguntungkan. [rls]

