Harga daging tinggi, pedagang Pasar Agus Salim Pekanbaru ngeluh pembeli minim

Beritariau.com, Pekanbaru - Pedagang pasar Agus Salim yang terletak di samping Plaza Sukaramai Kecamatan Pekanbaru Kota, mengeluhkan kenaikan harga daging ayam dan sapi yang tetap bertahan meski natal dan tahun baru usai. Hal itu, disampaikan langsung para pedagang kepada Kdisperindag Riau Firdaus saat meninjau pasar Agus Salim.
Dalam peninjauan untuk memastikan ketersediaan sembako awal tahun, Ijas, seorang Pedagang perempuan yang sudah berjualan lebih dari tiga tahun, mengaku akibat harga kenaikan harga itu, berdampak terhadap daya beli masyarakat yang menurun drastis.
"Pasti pengaruh, memang berdampak pada penjualan," kata pedagang daging ayam saat berbincang-bincang kepada Firdaus, Senin (11/01/16).
Ijas mengaku heran, biasanya pasca natalan dan tahun baru, harga daging ayam turun. Selain itu, harga pakan ternak ayam juga tak mengalami kenaikan. Tapi sebaliknya harganya justru tetap tak berubah, pasca natalan 2015 lalu.
"Modal kami dengan harga ayam 24 ribu perkilo saat ini 22 ribu perkilo. Tak banyak kami ambil untung. Sebelumnya waktu harga 20 ribu kami jual,18 ribu kami beli," ungkap Ijas lagi.
Tak jauh berbeda, penjualan daging sapi juga mengalami nasib serupa. Daging sapi yang didatangkan dari Lampung mengalami kenaikan sebesar 10 ribu dari 110 ribu harga sebelumnya. Menurutnya, daging sapi itu pun bukan daging lokal melainkan sapi brahman dari Australia yang dipasok melalui Lampung.
"Kalau harga sapi lokal mahal bang, biasanya kitakan kalau daging luar mahal kita ngambil lokal," ungkap Andi, pedagang daging sapi.
Selain itu menurutnya, ketersediaan daging sapi asal Sumbar yang biasa menjadi pilihan karena lebih murah, tak bisa didatangkan. Menurutnya, karena provinsi tetangga itu juga sedang berupaya memenuhi kebutuhan daging mereka.
"Sebelumnya harga daging 110 ribu, sekarang jadi 120 ribu. Tak ada daging lokal, kita ambil dari Lampung. Itu pun sapi brahman," ujar Andi, pedagang sapi.
Sementara, Kadisperindag Riau Firdaus mengaku akan memanggil para pemasok, baik daging ayam mau pun sapi, terkait kerkait kenaikan harga tersebut. Firdaus belum berani berspekulasi apakah karena ada permainan di lapangan.Karena itu, keluhan dari pedagang tersebut jadi bahan pertimbangan langkah apa selanjutnya yang akan dilakukan.
"Kita belum berani pastikan apakah memang ada permainan, tapi tentunya nanti kita panggil dulu apa yang terjadi hingga kenaikan terjadi," ungkap Firdaus.
Terkait minimnya pasokan daging sapi dari lokal, Firdaus juga berharap ke depan bagaimana ketersediaan sapi lokal bisa memenuhi kebutuhan di Riau. Sehingga, ketersediaan daging lokal di Riau tak lagi bergantung dengan provinsi lain seperti Lampung dan Sumatera Barat.
"Memang solusinya kita harus memikirkan bagaimana ketersediaan daging di Riau berasal dari lokal sendiri. Bagaimana caranya, tentu ke depan harus ada sinergitas dan kerja keras untuk menjadi swasembada daging minimal untuk daerahnya sendiri," ungkap Firdaus. [red]

