Dokter Malah Sebut Efek Suntikan
Nita kecewa, kaki bayinya bolong & bernanah usai dirawat di RSUD Pekanbaru karena demam

Ilustrasi | Beritariau.com 2015
Beritariau.com, Pekanbaru - Putri Mayang Sari, bayi berumur 14 bulan sedang berjuang menahan rasa sakit, akibat kakinya berlubang dan bernanah. Ia bahkan tak bisa berjalan dan bercanda riang layaknya anak seusianya.
Luka itu muncul setelah Mayang dirawat selama kurang lebih 20 hari di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru propinsi Riau, berawal dari sakit demam tinggi yang dideritanya.
Buah hati dari pasangan suami istri Wiyono (39) dan Nita (38) itu hanya bisa menangis dipangkuan ibunya. Pandangan memilukan terlihat saat mengarah ke pergelangan kaki kiri Mayang. Disana terlihat jelas luka yang menganga dan bernanah. Bahkan dari luka itu juga mengeluarkan aroma bau kurang sedap.
Diceritakan Nita, jika luka yang diderita buah hati dari perkawinannya itu bukan disebabkan oleh luka bekas kecelakaan seperti lazimnya.
"Luka itu muncul sekitar satu bulan lalu, saat Mayang dibawa ke RSUD Arifin Achmad, karena mengalami demam tinggi. Saat itu kata perawat anak saya step (deman tinggi)," kata Nita, Rabu (16/12).
Ketika itu, kata Nita, perawat langsung merujuk anaknya ke ruang PICU di RSUD Arifin Ahmad. Disana anak Nita diberikan penanganan medis, seperti dipasangin infus dan diberikan obat suntik.
"Anak saya juga dirontgen dan diambil sampel darahnya. Kondisi anak saya waktu itu mengigau, tapi masih sadar. Kami juga tidak diperbolehkan menemaninya lama-lama, beralasan ada jam besuknya dan itu dua kali sehari dengan durasi dua jam," sebut Nita.
Hari kedua, Mayang dirawat di ruang PICU, tim dokter lalu meminta rekomendasi keluarga, agar Mayang diberi suntikan. Kepada Nita, Dokter menyebutkan, fungsi suntikan ini berguna untuk mencegah radang otak akibat demam tinggi yang dialami Mayang.
"Karena ingin anak saya cepat sembuh, tak perlu pikir panjang, kami pun mengizinkan," kata dia.
Menurut Nita, sepekan anak Mayang dirawat di ruang PICU, akhirnya pihak RSUD memperbolehkan Mayang untuk pindah ke ruangan perawatan biasa. Lalu Mayang pindah ke ruang perawatan Flamboyan.
"Cuma ada yang aneh saat itu, terlihat kaki anak saya dibungkus perban, padahal sebelumnya tidak ada," katanya.
Kemudian Nita bertanya kenapa kondisi anaknya seperti itu, dan dijawab perawat bahwa luka itu akibat efek suntikan.
"Kalau tak salah suntik Melon katanya. Karena saya orang awam saya tak mau memperpanjang," jelasnya.
Di ruang Flamboyan, kondisi Mayang juga masih belum stabil. Tak jarang ia merengek karena menahan sakit di bagian kakinya. Selama itu pula infus masih terpasang dan masih diberi obat suntikan antibiotik.
"Pernah sekali tangan anak saya bengkak besar akibat suntikan obat antibiotik. Anak saya juga tak bisa tidur karena menahan sakit," ungkap Nita lagi.
Karena penasaran, sang ayah curiga, apalagi saat melihat perban di kaki Mayang berair dan mengeluarkan aroma kurang sedap. Wiyono lalu memberanikan diri untu membuka perban yang terbungkus di kaki buah hatinya.
"Kami berdua kaget saat melihat kaki anak saya bernanah dan berlubang. Ini kenapa, karena sebelumnya nggak ada luka kayak begini," timpal Wiyono.
Dikatakan Nita, perawat dan dokter mengklaim bahwa luka itu merupakan efek suntikan yang diberikan sebelumnya. Memang menjadi luka dan terkadang melepuh. Tim medis memastikan kalau luka itu akan kering dan sembuh dengan sendirinya.
"Luka yang ada di kaki anak saya tak diobati, hanya dibersihkan saja. Bahkan untuk ganti perbannya, kami musti maksa perawatnya," ketus Nita.
Tepatnya, Jumat (4/12) siang, Mayang akhirnya diperbolehkan pulang, walau saat itu kondisi Mayang belum pulih benar. Bahkan kakinya juga masih dalam menganga dan bernanah.
Saat itu perawat meyakinkan, kalau luka itu bakal sembuh dengan sendirinya dalam waktu beberapa hari.
"Kami pun kemudian membawa pulang anak saya, setelah keluarga membayar uang jaminan Rp 3 juta, dari total biaya keseluruhan sebesar Rp 17 juta," ujarnya.
Sejak Mayang pulang ke rumah, sampai saat ini kondisinya bukannya malah membaik, tapi terus memprihatinkan. Parahnya lagi, Mayang tak bisa berjalan seperti dulu sebelum dibawa ke RSUD Arifin Ahmad.
"Luka di kaki anak saya makin parah dan makin membusuk. Tak kuat kami melihat penderitaannya," ujar Nita dengan airmata berlinang.
Akhirnya, Selasa (15/12) siang, keluarga mendatangi RSUD guna mempertanyakan kondisi anaknya yang sebelumnya dirawat.
"Mereka katakan itu biasa. Kami lalu disuruh ke Poli Anak dan cuma bayar Rp 30 ribu kata mereka. Tapi yang bikin nggak enak, sikap para perawat di RSUD terkesan jijik dengan luka yang diderita anak saya, jauh-jauhlah, saya dengar ada perawat bilang begitu," kesalnya.
Tak terima dan merasa sakit hati dengan sikap dan perlakuan para perawat yang dinilai tidak bertanggungjawab itu, Nita dan suaminya akhirnya memilih untuk pulang, tanpa hasil apapun.
"Kami ke sana hanya ingin minta keterangan dan tanggungjawab pihak rumah sakit, kok malah kaki anak kami jadi parah begini. Padahal awalnya hanya sakit demam tinggi. Tapi sikap mereka begitu," sesal Nita. [Pan]

