Sekda Sebut BPR Inhil Tak Beri Kontribusi Nyata untuk PAD

Sekda Sebut BPR Inhil Tak Beri Kontribusi Nyata untuk PAD

Ilustrasi | Beritariau.com 2015

Beritariau.com, Bagan Siapiapi - Memasuki usia yang ke 17, keberadaan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Rohil belum mampu memberikan kontribusi nyata bagi Pemkab Rohil. Terrmasuk menghasilkan deviden bagi Pemkab Rohil.

Padahal sejauh ini, Pemkab sudah mengucurkan dana lebih Rp 24 Miliyar, kepada bank tersebut. Namun deviden atau pemasukan hanya sekitar Rp1,4 Miliyar saja.

Demikian hal itu diungkapkan Plt Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Rohil, Drs H Surya Arfan MSi kepada beritariau.com, Rabu (27/5/15) melalui selulernya.

"Memang Pemkab Rohil tidak rutin memberikan subsidi kepada Bank Rohil itu setiap tahun. Namun, seperti sekarang ini, sudah cukup banyak pinjaman yang sudah diberikan kepada Bank Rohil ini. Kendati demikian, sangat diharapkan agar mampu meningkatkan deviden bagi pemerintah daerah," tegasnya.

Deviden ini jelas penting karena akan dimasukan ke kas daerah untk menambah Pendapatan Asil Daerah (PAD) Rohil. Karenanya semakin banyak deviden tentunya semakin banyak pula PAD.

Lebih lanjut dijelaskannya, hasil deviden yang selama ini diterima Pemkab Rohil dari BPR direncanakan akan dialihkan kembali ke BPR menjadi kepemilikan saham. Untuk itu, Pemkab berharap kepada BPR untuk terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

"Berikan fasilitas dan kemudahan bagi masyarakat yang memerlukan pinjaman," ujarnya.

Sementara itu, direktur utama BPR, Syafri Taib ketika dikonfirmasi mengenai hal itu mengatakan, bank yang dipimpinnya itu sudah tergolong bank yang baik dalam memenuhi pelayanan terhadap masyarakat. Terbukti, dinilai sehat oleh Otoritas jasa Keuangan (OJK).

Untuk menunjang pelayanan nasabah, diakuinya masih ada kekurangan. Misalnya saat ini pihaknya belum bisa mempermudah nasabah dengan mengambil uang melalui Mesin ATM disebabkan, persyaratan aset yang harus memiliki saldo awal sebesar Rp 300 Miliyar belum terpenuhi.

"Karena total saldo saat ini baru Rp 90 Miliyar, makanya kami belum bisa membuka Mesin ATM," tukasnya. [bim]