Penangkapan Pembakar Alat Berat PT SAL
Cerita Para Ibu Saat Suaminya Diciduk Polisi

Para Ibu Rumah Tangga di Desa Gaung Saat Dimintai Komentar oleh Wartawan | Beritariau.com 2014
Beritariau.com, Inhil - "Tolong kami pak, kami ketakutan, kami seperti teroris dibuatnya, pintu rumah kami rusak dan sekarang untuk mencari makan saja kami ketakutan," cerita Kurdiat (40), ibu rumah tangga dibarengi isak tangis saat curhat ke sejumlah awak media di Desa Pungkat Kecamatan Gaung Kabupaten Inhil, Sabtu (09/08/2014).
Kurdiat mengaku suaminya ikut digelandang polisi ke Mapolres Inhil saat pencarian pelaku pembakaran alat berat milik PT SAL yang terjadi beberapa waktu lalu. Pembakaran tersebut merupakan dampak dari sengketa lahan warga dengan PT SAL.
Tanpa suaminya, Kurdiat mengaku sangat merasa ketakutan dan kesulitan untuk menghidupi dua anaknya. Tak hanya Kurdiat, puluhan Ibu Rumah Tangga (IRT) lainnya menangis bahkan histeris saat mengadukan nasib yang mereka alami.
Kaum ibu ini mengungkapkan bahwa tindakan aparat tidak hanya menangkap suami mereka, tapi juga menghancurkan alat tempat mereka memasak (Anglo) dan memporak porandakan kasur serta barang-barang di rumah mereka.
“Bukan hanya itu pak. Anglo tempat kami masak pun ada yang dipecahkan dan barang-barang di rumah kami juga berhamburan. Kami takut pak. Jangankan untuk membuka pintu, melihat mereka dari jauh saja kami sudah ketakutan," sebut IRT lainnya dengan isak tangis.
Minta Maaf, Wakapolres Janji Tarik Anggota dari Desa
Terkait pernyataan tersebut, Kapolres Inhil, AKBP Suwoyo SIK MSi melalui Wakapolres, Kompol Devy Firmansyah SIK menyatakan permintaan maafnya atas perilaku aparat yang dinilai arogan tersebut saat melakukan pertemuan dengan warga setempat.
Menurutnya, tindakan tersebut dilakukan karena ada warga yang sengaja tidak membuka pintu rumahnya saat aparat ingin memasuki rumah warga untuk pelaksanaan tugas. Devy juga berjanji tindakan seperti itu tidak akan terulangi lagi.
Selain itu, menurut Devy, tindakan tersebut diluar dari jangkauan pengawasannya. Ia mengaku hanya sendiri untuk mengawasi aparatnya yang jumlahnya ratusan.
“Saya mewakili polres Inhil beserta seluruh jajaran menyatakan permintaan maaf atas kejadian tersebut dan tidak akan terulangi lagi. Saya hanya sendiri yang mengawasi mereka (aparat, red) jadi kalau yang satunya bersama saya yang lainnya diluar jangkauan karena kita mencarinya di tempat-tempat berbeda," ungkapnya.
Devy juga berjanji untuk menarik anggotanya keluar dari Desa Pungkat. Katanya, langkah tersebut diambil untuk menghindari keresahan dan ketakutan masyarakat.
“Hari ini juga saya akan tarik personil dari Desa Pungkat. Namun, saya mengharapkan kerjasama warga untuk memberikan informasi keberadaan mereka yang menjadi target kami,” kata Devy didampingi Kasat Reskrim, AKP Ade Zamrah.
Untuk menuntaskan tugas operasional, tambahnya, kepolisian tidak menarik seluruh personil. Namun, beberapa orang personil masih ditempatkan untuk proses penyidikan selanjutnya karena masih ada tiga orang pelaku yang menjadi target polisi yang belum ditemukan. [rls]
Kurdiat mengaku suaminya ikut digelandang polisi ke Mapolres Inhil saat pencarian pelaku pembakaran alat berat milik PT SAL yang terjadi beberapa waktu lalu. Pembakaran tersebut merupakan dampak dari sengketa lahan warga dengan PT SAL.
Tanpa suaminya, Kurdiat mengaku sangat merasa ketakutan dan kesulitan untuk menghidupi dua anaknya. Tak hanya Kurdiat, puluhan Ibu Rumah Tangga (IRT) lainnya menangis bahkan histeris saat mengadukan nasib yang mereka alami.
Kaum ibu ini mengungkapkan bahwa tindakan aparat tidak hanya menangkap suami mereka, tapi juga menghancurkan alat tempat mereka memasak (Anglo) dan memporak porandakan kasur serta barang-barang di rumah mereka.
“Bukan hanya itu pak. Anglo tempat kami masak pun ada yang dipecahkan dan barang-barang di rumah kami juga berhamburan. Kami takut pak. Jangankan untuk membuka pintu, melihat mereka dari jauh saja kami sudah ketakutan," sebut IRT lainnya dengan isak tangis.
Minta Maaf, Wakapolres Janji Tarik Anggota dari Desa
Terkait pernyataan tersebut, Kapolres Inhil, AKBP Suwoyo SIK MSi melalui Wakapolres, Kompol Devy Firmansyah SIK menyatakan permintaan maafnya atas perilaku aparat yang dinilai arogan tersebut saat melakukan pertemuan dengan warga setempat.
Menurutnya, tindakan tersebut dilakukan karena ada warga yang sengaja tidak membuka pintu rumahnya saat aparat ingin memasuki rumah warga untuk pelaksanaan tugas. Devy juga berjanji tindakan seperti itu tidak akan terulangi lagi.
Selain itu, menurut Devy, tindakan tersebut diluar dari jangkauan pengawasannya. Ia mengaku hanya sendiri untuk mengawasi aparatnya yang jumlahnya ratusan.
“Saya mewakili polres Inhil beserta seluruh jajaran menyatakan permintaan maaf atas kejadian tersebut dan tidak akan terulangi lagi. Saya hanya sendiri yang mengawasi mereka (aparat, red) jadi kalau yang satunya bersama saya yang lainnya diluar jangkauan karena kita mencarinya di tempat-tempat berbeda," ungkapnya.
Devy juga berjanji untuk menarik anggotanya keluar dari Desa Pungkat. Katanya, langkah tersebut diambil untuk menghindari keresahan dan ketakutan masyarakat.
“Hari ini juga saya akan tarik personil dari Desa Pungkat. Namun, saya mengharapkan kerjasama warga untuk memberikan informasi keberadaan mereka yang menjadi target kami,” kata Devy didampingi Kasat Reskrim, AKP Ade Zamrah.
Untuk menuntaskan tugas operasional, tambahnya, kepolisian tidak menarik seluruh personil. Namun, beberapa orang personil masih ditempatkan untuk proses penyidikan selanjutnya karena masih ada tiga orang pelaku yang menjadi target polisi yang belum ditemukan. [rls]

