Lalu-lalang di Pengadilan, Imigran Gelap Ganggu Sidang Korupsi

Ilustrasi | Beritariau.com 2014
Beritariau.com, Pekanbaru - Sekitar ratusan imigran gelap dari mancanegara yang mencari suaka politik, tinggal di Kantor Imigrasi Kelas I Pekanbaru Jalan Teratai. Namun, aktivitas para imigran tak disiplin, dan mulai terasa mengganggu sejumlah persidangan termasuk sidang korupsi di Pengadilan Negeri Pekanbaru, Rabu (17/12/14).
Kondisi Imigran gelap yang berkeliaran hingga ke Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru yang bersebelahan dengan kantor Imigrasi itu disebabkan mereka mandi hingga buang air disana membuat kegiatan persidangan terganggu.
Para Imigran gelap itu rutin menggunakan fasilitas yang ada di PN untuk mandi hingga buang air. Belum lagi, mereka juga sesekali menggelar tikar di halaman PN.
Wakil Ketua PN Pekanbaru, Sutarto SH, Rabu (17/12/14) mengatakan kondisi ini memang dirasa mengganggu persidangan, karena akibat penggunaan fasilitas ini masyarakat yang ingin melaksanakan shalat di sela-sela menghadiri persidangan menjadi tidak tepat waktu.
"Keberadaan mereka (imigran) disini sudah sangat mengganggu kenyaman kita. Sebab, mereka menggunakan fasilitas kita sebagai tempat mandi dan buang air, sementara yang mengikuti persidangan juga menggunakan fasilitas tersebut," kata Sutarto.
Pihaknya, tidak melarang imigran yang ada disana untuk mandi dan keperluan lain. "Tapi jangan menggunakan fasilitas tempat berwudhu untuk mandi. Karena itu akan mengganggu warga lain yang akan menunaikan sholat," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Imigrasi Pekanbaru, Amran Aris saat dikonfirmasi terkait kondisi imigran yang berkeliaran ini menyebut, sebenarnya masalah tersebut bukanlah masalah Imigrasi semata. "Ini bukan masalah imigrasi saja. Kebetulan saja mereka orang asing," katanya.
Berbagai instansi terkait, katanya juga harusnya ikut berpartisipasi dan ikut bertanggungjawab untuk mencari solusi keberadaan imigran tersebut. "Senin ini kita sudah rapat dengan pemda, polisi, kejaksaan. Kita minta pemda ikut berpartisipasi," terangnya.
Dengan kondisi imigran yang berkeliaran ini apakah pihaknya kewalahan dan tak mampu lagi menangani, Amran membantah. "Ini sudah lebih dari mampu lagi pak. 511 orang (imigran) semuanya. Tidak gampang mengaturnya," ketusnya.
Sehari-hari, keberadaan imigran ini juga berdampingan dengan masyarakat yang mengurus paspor di imigrasi. Apakah ini mengganggu. Ini juga dibantah Amran. "Sudah lihat keadaannya ? mengganggu dimana. Tidak mengganggu pelayanan imigrasi. Pelayanan tetap berjalan. Karena berbeda," jelasnya.
Dengan kondisi ini solusi menjadi yang paling dibutuhkan. Kepala Imigrasi mengatakan sudah ditunjuk tiga hotel sebagai tempat menampung imigran, namun ternyata ini juga belum cukup. "Tapi mereka datang terus. Jadi lebih begini," keluhnya.
Para imigran ini rata-rata berasal dari timur tengah. Mereka berada disana karena menyerahkan diri dan bukan tertangkap. "Mereka menyerahkan diri, bukan tertangkap. Izin tinggal keimigrasiannya tidak ada," imbuhnya.
Jika imigran ini merupakan penyerahan dari daerah lain, maka akan ditempatkan di Rudenim (Rumah Detensi Imigras)."Rudenim juga sudah over kapasitas," kata Amran.
Amran mencontohkan, penanganan masalah imigran gelap di provinsi lain ditangani bersama. "Harus bersama. Untuk mereka ada penyandang dana dari PBB, mereka rencananya untuk negara ketiga," sebutnya.
Terhadap para imigran dengan kondisinya yang berkeliaran dikeluhkan, bagaimana kondisi penanganan terhadap mereka, dipaparkan Amran bahwa imigran ini tidak ditahan.
"Ruang geraknya tidak dibatasi, jadi yang diluar tidak bisa diawasi semuanya. Maksimal jam 9 malam tidak boleh di luar. Biaya kehidupan mereka IOM menanggung. Kalau kita tidak ada," pungkasnya. [Pan]

