Kirimi Selembar Surat, Jokowi pun Datang
Wah ! Ternyata Petani Sagu Inilah yang panggil Jokowi turun ke Riau

Ilustrasi | Beritariau.com 2014
Beritariau.com, Pekanbaru - Sebuah rumah bercat coklat dengan pohon sagu di halaman tampak terlihat teduh. Rumah itu, milik seorang petani di Desa Sungai Tohor di Kabupaten Kepulauan Meranti.
Dia adalah petani tanaman sagu yang puluhan tahun lalu lahir dan dibesarkan di desa itu. Tanaman itulah yang menjadikan wilayah itu dikenal dengan sebutan "Kampung Sagu".
Gambaran diatas merupakan cuplikan Abdul Manan (41), nama si petani yang ditulis oleh Melani Pedro di halaman situs greenpeace.org, Senin (24/11/14) kemarin.
Abdul Manan, nama itu membanjiri dunia maya sejak kasus asap melanda Riau beberapa bulan belakangan. Dan, ternyata, pria inilah yang menjadi dalang kedatangan Presiden Jokowi ngotot datang ke Riau, khususnya ke Desa Sungai Tohor. [Baca : Datangi Riau, Jokowi cuma nyindir keseriusan Pejabat tangani kasus hutan, ada apa di Kampung Sagu?]
Bertahun-tahun lamanya, dia dan warga sekitar, hidup dalam kepungan asap pembakaran lahan. Desanya yang dikenal puluhan tahun dengan sebutan "Kampung Sagu" berubah menjadi "Kampung Asap". Bahkan, Ia menduga nasib mata pencaharian warga petani sagu lambat laun akan punah.
Tak tahan, Manan pun membuat petisi agar masalah dikampungnya segera diatasi. Tak tanggung-tanggung, petisi itu pun ditujukan kepada Presiden Joko Widodo. Dan, siapa sangka, petisinya ternyata didukung oleh 28.000 warga Indonesia.
Dengan bahasa sederhana, dalam petisi itu Manan mengundang Jokowi untuk blusukan dan merasakan langsung dampak kebakaran hutan yang mereka derita bertahun-tahun. Istilah "blusukan asap" pun terkenal sejak itu.
Menurutnya, pembangunan kanal-kanal oleh perusahaan di wilayah itu membuat lahan gambut mengering. Saat musim kemarau datang, gambut yang kering akan dengan mudah terbakar. Salah satu desa dengan kerugian terbesar adalah Desa Kepo Baru. Dimana, pada awal 2014, api melahap hampir 2.000 hektar lahan di desa itu.
Diketahui, perusahaan itu tak lain adalah PT National Sago Prima alias NSP yang merupakan tersangka koorporasi dan individu kasus Karhutla di Riau.
Anehnya, menurut Manan, Ia tak perlu malaikat menjawab harapannya. Ia hanya perlu 1 (satu) kali blusukan atau kunjungan dari Jokowi ke daerahnya.
Bahkan, info yang didapat Beritariau.com dari sumber dilingkungan Kementerian Kehutanan, saat itu, Menteri Siti Nurbaya Bakar sudah menemuinya. Namun, Manan malah meminta agar Jokowi turun langsung.
"Akhirnya, Bu Menteri menyampaikan langsung ke Presiden," kata sumber itu kepada Beritariau.com, Rabu (26/11/14).
Terkait ini, Komandan Korem 031 Wirabima Riau, Brigjen TNI Prihadi Agus Irianto, Rabu (26/11/14) membenarkan hal itu, menurutnya, warga ingin agar Presiden Jokowi melestarikan lahan tanaman Sagu yang langka di Desa Sungai Tohor itu.
"Di Sungai Tohor itu, banyak tanaman Sagu, jadi warga tak ingin kampung mereka dijadikan areal HTI (Hutan Tanaman Industri). Makanya mereka mengirim surat kepada Pak Presiden, lalu pak Presiden akan kesana tadi, tapi belum jadi, hanya melalui udara," ujar Prihadi.
Batalnya Presiden Jokowi ke Sungai Tohor disebabkan gangguan cuaca di Riau. Tak ayal, 3 helikopter yang ditumpangi istri dan kedua anak Presiden Jokowi Kahyang dan Kaesang serta dua Menteri Siti Nurbaya selaku Menteri lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno batal mendarat di kampung Sagu itu.
Ternyata, surat Abdul Manan yang membuat Jokowi ngotot datang ke Riau.
Akibatnya, satu Provinsi Riau sibuk, bahkan Bupati Kepulauan Meranti mendadak repot mengurus kedatangan Jokowi.
Inilah isi lengkap petisi dari Abdul Manan di web.Change.Org yang ditandatangani 28.000 orang.
"Untuk:
Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia Siti Nurbaya, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup RI Ribuan orang turun ke jalan rayakan terpilihnya Joko Widodo sebagai presiden baru. Jutaan warga mulai berani berharap kembali bahwa perubahan benar-benar datang.
Saya, satu dari jutaan itu yang berharap banyak kepada Bapak. 17 tahun kami warga Riau menderita akibat kebakaran hutan gambut. Rumah saya hampir saja terbakar jika tak ada selat memisahkan pulau kami dan hutan gambut yang terbakar. Dua bulan terakhir makin parah!
Saya dan warga lain sampai bergantian jaga kebun sagu, satu-satunya sumber mata pencaharian kami. Hidup kami bagai telur diujung tanduk.
Pak Jokowi pernah melihat hutan gambut terbakar di mana-mana? Akibat asapnya saja, saya melihat 40.000 jiwa menderita pneumonia, asma, iritasi mata dan kulit. Janin dalam kandungan ibu terancam tumbuh tak optimal, bukannya melahirkan generasi revolusi mental malah bisa cacat mental.
Kekeringan panjang dan penyakit sindrom pernapasan akut meredupkan harapan kami yang hidup dalam kepungan asap. Tiap tahun. Selama puluhan tahun.
Pak, perusahaan pembakar hutan Riau bebas melenggang. Mereka pindah ke tempat bebas asap, meninggalkan rakyat yang menderita karena ulah mereka.
Saya ada di situ, melihat. Dan presiden yang lalu hanya bisa prihatin.Pak Jokowi, sekitar 3,8 juta hektar hutan hilang tiap tahun.
Akibat kebakaran hutan tahun ini, negara rugi 80 triliun rupiah, sepuluh kali lipat dari anggaran provinsi; Rp 8,84 triliun (BNPB, 2014).
Dikalkulasi dengan provinsi lain yang terkena kebakaran maka totalnya Rp 50 Triliun.Hanya kepada orang seperti Bapak saya bisa berharap lagi.
Dari cerita orang, Bapak begitu dekat dengan rakyat. Mau mendengar keluhan rakyat. Bekerja keras dan bertindak tegas."
Dijadwalkan, besok Kamis (27/11/14) pagi sekitar pukul 08.00 wib, Presiden Jokowi tak mau kecewakan warga Kampung itu, dan akan mendarat disana. Selanjutnya, pada pukul 10.00 wib, dijadwalkan akan kembali ke Istana Negara, Jakarta. [red/pan]

