Sudah seminggu rumah tak diperbaiki, warga ancam lapor lagi living world ke DPRD Pekanbaru
KONDISI RETAK - Rika menunjukkan salah satu dinding ruangan kamar mandi rumahnya mengalami keretakan yang cukup parah akibat pembangunan living world yang ada di simpang SKA, Pekanbaru | Beritariau.com 2016
Beritariau.com, Pekanbaru - Sudah sepekan berjalan, rumah warga yang rusak akibat dampak pembangunan Living World Hotel dan Mal di Jalan Soekarno Hatta-Tuanku Tambusai (Persimpangan SKA) Pekanbaru, RW 8 Kelurahan Tangkerang Barat, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru, hingga saat ini tak kunjung diperbaiki .
Warga yang kesal karena tidak ada inisiatif dari perusahaan pengembang dalam hal ini PT Tiga Dua Delapan dan PT Total Bangun Persada, mengancam, akan melaporkan kembali perihal ini ke DPRD Kota Pekanbaru.
"Selasa kemarin mereka cuma datang dan cuma mendata rumah-rumah warga saja," kata Ketua RW 8, Martua Amru Rangkuti, kepada wartawan, saat dikonfirmasi, Rabu (23/11/16).
Dia menuturkan, pada selasa kemarin yang datang menemui perwakilan warga sekitar langsung owner PT Total Bangun Persada, Adhy. Warga pada saat itu sudah meminta kapan kepastian perbaikan rumah itu mulai dilakukan, namun jawaban dari perusahaan masih abu-abu.
"Katanya mau dirapatkan dulu. Realisasi belum jelas kapan dikerjakan," tukas Amru.
Meski begitu, dari hasil akhir pendataan yang dilakukan oleh pihak perusahaan pengembang, owner pembangunan, sebutnya, serius merespon keluhan dari warga. "Kalau mereka tidak serius, dan main-main,kami akan laporkan lagi ke DPRD," tegasnya.
Termasuk katanya, bunyi kesepakatan draft perjanjian antara warga RW 8 dengan pihak perusahaan soal jam operasional pekerjaan. Disitu disebutkan jam operasional berakhir pukul 22.00 WIB. Namun katanya, pekerjaan tetap berlanjut selama 24 jam.
"Dari perjanjian harusnya mereka melapor kepada kami. Tapi sampai sekarang belum ada mereka melapor, padahal pekerjaan berlanjut 24 jam penuh. Inikan melanggar kesepakatan perjanjian," cetusnya.
Terpisah, perwakilan owner PT Tiga Dua Delapan melalui manager area PT Total Bangun Persada, Adhy, membenarkan bahwa pihaknya sudah menemui warga dan berjanji akan memenuhi janjinya sebagaimana bunyi yang terlampir dalam draft kesepakatan.
"Dari kerusakan tidak ada yang parah, hanya retak-retak rambut. Bisa jadi sebentar selesai perbaikan nya. Paling lambat seminggu selesai," paparnya.
Termasuk permintaan warga meminta penyediaan air bersih dan jam operasional pekerjaan. Mereka belum menemukan titik yang tepat untuk dibor dan harus dirundingan dengan warga terlebih dahulu. Begitu juga dengan laporan pekerjaan diatas pukul 22.00 WIB.
"Nanti dicari dulu mana lokasi yang pas dan harus dibor. Kalau soal ngebornya tidak masalah sih," terangnya.
Persoalan jam kerja yang dilakukan malam hari, dan berdasarkan kesepakatan dengan warga,diatas pukul 22.00 WIB harus melapor. Disampaikan Adhy tidak ada persoalan, dan nanti akan disampaikan ke masyarakat.
"Yang jelas untuk tahap awal, yang dilakukan dahulu adalah perbaikan rumah warga yang rusak," tutupnya. [bam]

