Wakaf UMRI Bidik Investasi Rp18,4 Miliar, Usung Smart Farming Melon Premium di Pekanbaru

Wakaf UMRI Bidik Investasi Rp18,4 Miliar, Usung Smart Farming Melon Premium di Pekanbaru

Beritariau.com, Pekanbaru -- Lembaga Wakaf Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) membawa inovasi pertanian modern berbasis teknologi ke panggung investasi internasional. Melalui proyek Smart Farming Melon Premium senilai Rp18,4 miliar, UMRI berupaya mengembangkan aset wakaf produktif yang mengintegrasikan pertanian pintar, agrowisata, dan wisata edukasi.

Proyek tersebut dipresentasikan dalam Global Investor Forum 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, Jumat (16/10/2026). Lembaga Wakaf UMRI menjadi satu-satunya lembaga wakaf dari Provinsi Riau yang lolos mengikuti forum tersebut.

Keikutsertaan ini menjadi langkah strategis UMRI untuk memperkenalkan potensi wakaf produktif kepada investor dari berbagai negara sekaligus membuka peluang kemitraan dalam merealisasikan proyek pertanian modern di Pekanbaru.

Lembaga Wakaf UMRI yang dibina dan mendapat arahan langsung dari Rektor UMRI, Dr. H. Saidul Amin, M.A., diwakili Muhammad Syahrullah, Muhammad Lisman, Marabona Munthe, dan Mizan Asnawi dalam memaparkan konsep serta prospek pengembangan proyek tersebut.

Smart Farming Melon Premium dirancang sebagai kawasan perkebunan modern seluas lima hektare dengan rencana pembangunan 100 unit greenhouse. Proyek ini mengandalkan integrasi teknologi Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), dan Big Data untuk mendukung pengelolaan budidaya yang lebih terukur dan efisien.

Melalui penerapan teknologi tersebut, pemantauan kondisi tanaman, pengaturan lingkungan tumbuh, hingga pengambilan keputusan dalam proses produksi diharapkan dapat dilakukan secara optimal. Pendekatan ini sekaligus menjadi upaya mendorong pertanian yang lebih modern dan berbasis data.

Namun, proyek tersebut tidak hanya berorientasi pada produksi melon premium. UMRI juga merancang kawasan perkebunan itu sebagai destinasi agrowisata dan wisata edukasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat, pelajar, mahasiswa, hingga pengunjung umum untuk mengenal teknologi pertanian modern.

Integrasi berbagai sektor tersebut diharapkan membuka sumber pendapatan yang lebih beragam, mulai dari produksi dan pemasaran melon premium hingga layanan wisata dan edukasi pertanian. Diversifikasi ini menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan nilai ekonomi aset wakaf sekaligus menjaga keberlanjutan manfaatnya.

Sekretaris Lembaga Wakaf UMRI, Muhammad Lisman, mengatakan proyek tersebut dirancang untuk menghadirkan model perkebunan melon premium berbasis smart farming yang terintegrasi dengan agrowisata dan wisata edukasi di Pekanbaru.

“Proyek ini kami rancang sebagai pengembangan perkebunan melon premium berbasis smart farming yang terintegrasi dengan agrowisata dan wisata edukasi. Kami ingin menghadirkan model pertanian modern yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memiliki nilai edukasi, peluang usaha, dan manfaat ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Lisman.

Menurutnya, pengembangan proyek ini merupakan bagian dari upaya memperluas kontribusi wakaf dalam sektor ekonomi produktif. Wakaf, kata dia, memiliki potensi besar apabila dikelola secara profesional, inovatif, transparan, dan berorientasi pada manfaat jangka panjang.

Lisman berharap keikutsertaan dalam Global Investor Forum 2026 dapat menjadi pintu masuk bagi terbangunnya kemitraan strategis untuk merealisasikan proyek dengan nilai investasi Rp18,4 miliar tersebut.

“Keikutsertaan kami dalam Global Investor Forum 2026 menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan potensi proyek wakaf produktif UMRI kepada investor. Kami berharap forum ini dapat membuka peluang kemitraan strategis dalam merealisasikan proyek dengan nilai investasi Rp18,4 miliar ini,” tambahnya.

Keikutsertaan di forum investasi internasional tersebut juga menegaskan upaya UMRI mengembangkan pengelolaan wakaf yang tidak sebatas mempertahankan aset, tetapi mampu menciptakan nilai tambah ekonomi dan manfaat sosial bagi masyarakat.

Jika terealisasi sesuai perencanaan, kawasan seluas lima hektare dengan 100 unit greenhouse itu berpotensi menjadi model pengembangan pertanian melon premium berbasis teknologi yang memadukan kegiatan produksi, pariwisata, dan pendidikan.

Melalui proyek ini, Lembaga Wakaf UMRI berharap wakaf dapat berperan lebih luas dalam mendorong pertumbuhan usaha produktif, meningkatkan keterampilan, serta memperkuat pemberdayaan masyarakat. Meski demikian, realisasi pengembangan kawasan tersebut tetap membutuhkan dukungan investasi dan kemitraan strategis agar manfaat ekonominya dapat diwujudkan secara berkelanjutan. (*)