Jembatan Bailey di Jalan Nelayan Sudah Bisa Dilalui, BWS Siapkan Jembatan Permanen

Beritariau.com, Pekanbaru -- Akses transportasi masyarakat di kawasan Jalan Nelayan, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru, kini kembali normal setelah Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera III Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum, menyelesaikan pemasangan jembatan bailey di Parit Alam. Jembatan darurat tersebut kini sudah dapat digunakan masyarakat sebagai penghubung utama yang sebelumnya sempat terputus akibat kerusakan jembatan lama.
Kepala BWS Sumatera III, Daniel ST MT, mengatakan pemasangan jembatan bailey sepanjang 24 meter telah rampung sejak Ahad (26/7/2026). Setelah melalui proses pemasangan dan pemeriksaan teknis, jembatan kini telah dibuka untuk umum sehingga aktivitas warga dapat kembali berjalan seperti biasa.
“Pemasangan jembatan bailey di Parit Alam Jalan Nelayan sudah selesai. Saat ini jembatan sudah bisa dilintasi masyarakat,” ujar Daniel, Rabu (29/7/2026).
Ia menjelaskan, meskipun bersifat sementara, jembatan bailey tersebut dirancang dengan konstruksi baja yang kokoh dan dinilai lebih kuat dibandingkan jembatan lama yang mengalami kerusakan. Kendati demikian, masyarakat tetap diminta berhati-hati saat melintas dan mematuhi aturan yang berlaku demi menjaga keselamatan bersama.
Menurut Daniel, keberadaan jembatan bailey merupakan solusi darurat agar mobilitas warga tidak terganggu sembari menunggu pembangunan jembatan permanen. BWS Sumatera III berencana mengusulkan pembangunan jembatan baru pada tahun depan.
“Tahun depan kami akan usulkan pembangunan jembatannya. Jika sudah selesai dibangun jembatan baru, jembatan bailey akan dibongkar kembali,” jelasnya.
Kerusakan jembatan di Jalan Nelayan sebelumnya menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Pekanbaru karena jalur tersebut merupakan satu-satunya akses utama bagi masyarakat di kawasan tersebut. Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho bahkan turun langsung meninjau lokasi jembatan yang ambruk pada Senin (15/6/2026), didampingi Kepala BWS Sumatera III, Daniel.
Dalam peninjauan itu, keduanya melihat kondisi jembatan yang mengalami kerusakan berat akibat amblasnya tanah penyangga di bagian bawah konstruksi. Pemerintah bersama BWS kemudian bersepakat mengambil langkah cepat dengan mendatangkan dan memasang jembatan bailey agar aktivitas masyarakat tidak terhenti terlalu lama.
Agung Nugroho menjelaskan, jembatan yang rusak merupakan aset pemerintah pusat yang dibangun pada 1995. Usia konstruksi yang telah melampaui tiga dekade, ditambah terjadinya erosi di bagian bawah pondasi, menjadi penyebab utama ambruknya jembatan tersebut.
“Jembatan ini dibangun oleh kementerian pada tahun 1995. Artinya usianya sudah lebih dari 31 tahun. Jadi memang terjadi erosi di bagian bawah sehingga tanahnya ambruk dan mengakibatkan konstruksi jembatan tidak bisa lagi digunakan,” ungkap Agung.
Dengan berfungsinya jembatan bailey, masyarakat di Jalan Nelayan dan sekitarnya kini kembali dapat beraktivitas tanpa harus memutar melalui jalur yang lebih jauh. Pemerintah berharap pembangunan jembatan permanen dapat segera direalisasikan sehingga akses transportasi warga menjadi lebih aman, nyaman, dan mampu menunjang pertumbuhan ekonomi di kawasan Rumbai. (*)

