Pengamat: Tak Perlu Lagi Belajar Teori

Kadishut Riau dikritik ke Afrika saat karlahut & kabut asap, Gubernur malah..

Kadishut Riau dikritik ke Afrika saat karlahut & kabut asap, Gubernur malah..

KE LOKASI KARLAHUT : (kiri-kanan) Kapolda Riau Brigjen Pol Supriyanto, Kapolres Kampar AKBP Edy Sumardi dan Danrem 031 Wirabima Brigjen TNI Nurendi Saat Turun ke Lokasi Kebakaran di Desa Rimbo Panjang Kecamatan Tambang, Kampar | Istimewa

Beritariau.com, Pekanbaru - ‎Beberapa pekan terakhir, Kebakaran Lahan dan Hutan (Karlahut) di wilayah Riau makin meluas. Jumlah titik api meningkat tajam bahkan kabut asap tipis mulai menyelimuti sejumlah wilayah.

Namun, saat para pimpinan Satgas Penanggulangan Karlahut Riau baik Danrem, Danlanud dan Kapolda Riau berpeluh keringat terjun ke lokasi kebakaran, diluar dugaan, ternyata Kepala Dinas Kehutanan (Kadishut) Riau Fadrizal Labay malah pergi ke Afrika Selatan (Afsel) menghadiri seminar kebakaran lahan.

‎Pengamat Publik di Riau, DR Rawa El Amady mengkritik kehadiran Labay di Negara bekas jajahan Inggris itu.

Menurutnya, para pejabat di Riau sudah tak waktunya lagi belajar soal teori penanggulangan kebakaran lahan. ‎Karena dengan rentang waktu selama 18 tahun terjadi kebakaran, merupakan peristiwa yang bisa dijadikan pengalaman berharga.

"Kurang tepatlah, jika kepergian ke Afrika ingin mencar pengalaman penanggulangan kebakaran lahan. Kita di Riau ini sudah 18 tahun berturut-turut terjadi kebakaran hutan dan lahan. Mestinya kita belajar sendiri dari pengalaman yang ada di Riau selama ini," kata Rawa.

Katanya, para pejabat tak perlu belajar ke negara lain yang kondisi alamnya berbeda dengan Indonesia. "Kenapa kita malah belajar ke negara lain yang kontur lahannya dan iklimnya berbeda dengan kita. Saya rasa, tidak terlalu penting menghadiri seminar itu," kata Rawa.

Justru sebaliknya, lanjutnya, Kadishut Riau harus membuka peta seterang-terangnya soal lahan yang terbakar saat ini. Sebab, Dinas Kehutanan memiliki data valid soal batasan lahan dan peruntukannya.

‎"Mestinya di saat genting seperti ini, Kadishut harus berada di Posko Satgas. Karena institusinya paling menguasai soal peta lahan dan peruntukannya. Sehingga kalau ada lahan yang terbakar, lahan tersebut diambil alih negara. Jadi kurang etislah, kalau kita terkepung asap saat ini, justru pemangku mandat meninggalkan Riau," kata Rawa.

Sementara itu, Gubernur Riau Arsyajuliandi Rachman menyebut kepergian Labay hanya untuk acara seminar.  "Dalam rangka menghadiri undangan seminar soal penanggulangan kebakaran lahan gambut," kata Andi menjawab pertanyaan wartawan di acara Koordinasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Posko Karhu‎tla di Lanud Roesmin Nurjadin, Minggu (28/08/16).

‎Pasalnya, belum lama ini, ada juga seminar internasional soal penanganan kebakaran lahan gambut dilaksanakan di Serawak, Malaysia. Namun, Andi Rachman, justru membenarkan dan membela tindakan yang diambil Labay ini.

"Kalau seminar itu banyak pihak yang menyelanggarakannya. Dia (Kadishut) diundang di acara seminar soal penanganan kebakaran lahan gambut di Afrika. Biarlah, untuk menambah pengalaman," kata Andi.

Pernyataan itu disampaikan Andi, terkait adanya kritikan atas kepergian Kadishut yang dianggap waktunya tidak tepat. Dimana Riau bekakangan ini dihadapkan kembali dengan persoalan kebakaran hutan dan lahan yang kini membuat kabut asap. [red]