Berida Kata - Puisi
EKSPIRASI DI AMBANG NIRWANA
Oleh: Hafizha Nabilah Zhafarina
Aku mengetuk punggungku sendiri
berharap ada daun pintu yang terbuka di antara belikat
namun aku hanyalah alamat yang ditulis di atas permukaan air
hurufnya buyar sebelum sempat dieja oleh rindu
Pulang kini bukan lagi soal ubin dingin atau bau tumisan ibu
melainkan sebuah stasiun yang relnya melungset ke nirwana
tempat kereta-kereta meluruh menjadi asap di hulu napas
sementara aku tertinggal sebagai peron yang keropos diisap rayap waktu
Aku membawa kunci di saku celana
tapi lubangnya telah tumbuh menjadi mulut-mulut bisu
yang menelan setiap upaya untuk merasa menetap
Setiap jengkal tanah yang kupijak larut sebelum sempat jadi pijakan
kakiku tak lagi punya gravitasi untuk sekadar menyentuh kata sampai
mencari peta yang koordinatnya terus bergeser seperti bayang di air beriak
hanya ada angin yang meminjam suaraku
untuk meneriakkan nama yang tak lagi punya rotasi
Aku sampai
tapi “di sana” sudah tidak pernah ada
Hanya “di sini” yang luas, hampa, dan tak bertepi.
Bekasi, 27 Maret 2026
Bionarasi:
Hafizha Nabilah Zhafarina, seorang ibu yang mendedikasikan hidupnya untuk mencetak generasi Rabbani. Lahir di Kota Pahlawan tiga dekade silam, ia adalah penikmat sastra yang menemukan kedamaian dalam bait-bait puisi.
Bagi Hafizha, menulis adalah ruang aman untuk menerjemahkan perasaan yang sulit diungkapkan, mengubah hening menjadi rangkaian makna yang mendalam.
​Karya-karyanya telah mewarnai berbagai laman literasi seperti TirasTimes, RanahRiau, dan Eneste.id. Teranyar, tulisannya juga dimuat dalam majalah elektronik Sumber Daya Pikiran edisi Februari 2026.
Sapa dan temukan buah pikirannya lebih jauh melalui media sosial pribadinya di @hafizhanabilahzhafarina.

