Berida Kata - Puisi
BAHASA YANG MENETES SEPERTI DARAH
Penulis: Adnan Guntur
kata-kata keluar sebagai rumah dari tubuhku yang lebam, angin membawamu pergi dan mimpi larut bersama hujan menumbuhi rambutmu, tiang-tiang itu terbang, membiarkan segala berubah dan pecahan logam menembus ke ulu jantungku
reruntuhan suara kukunyah dengan menambal luka dari huruf-huruf yang gugur, langit tak lagi percaya pada tuhan, di dalam kepalaku, kursi-kursi menyangkal kehilangan pada jam dinding yang memekiki ruang tak berdetik
kupunguti namamu dari lumpur menyalaminya seperti seseorang yang baru lahir dari kesunyian, tubuhku menjadi perabot dan kenangan duduk di atasnya, menulisi sesuatu yang tak pernah sempat kita bicarakan
bahasa menetes seperti darah, membentuk kolam kecil di bawah lidahku, kau teguk perlahan, dan malam membawa kantong plastik berisi bintang-bintang mati yang menamainya hantu
kepedihan tumbuh seperti lumut di dinding dadaku, kata-kata adalah nadi yang tak berdetak, mendegupi ketukan pintu dari puisi tubuhku terbakar di antara benda-benda yang tak pernah padam terbungkusi kata-kata dan tak pernah pulang
Sidoarjo-Surabaya, 2025
Bionarasi
Adnan Guntur berdomisili di Sidoarjo. Telah menyelesaikan studinya di Sastra Indonesia, Universitas Airlangga. Pendiri Saung Indonesia (Sastra, Pertunjukan, dan Rumah Kreatif), juga aktif berkegiatan di Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) dan Forum Pegiat Seni Surabaya (FPKS). Kumpulan Puisinya: Tubuh Mati Menyantap Dirinya Sendiri ( 2022 ) dan Sebagai Daun yang Tak Lagi Raib Terbakar oleh Darah Api (2023). Kumpulan Lakon Tubuh di Pukul 11.11 (2022).

