Berida Kata - Cerpen
Berpetualang di Planet Asing
Penulis: Bian Lio
PADA suatu hari, seorang ilmuwan muda bernama Rizal tengah bekerja di laboratoriumnya. Rizal, yang terobsesi dengan luar angkasa, baru saja menemukan sebuah catatan tentang planet-planet asing yang membuatnya berimajinasi. Malam itu, setelah bekerja tanpa henti, Rizal tertidur di laboratoriumnya, masih mengenakan jas labnya.
Tiba-tiba Rizal merasa dirinya terbangun di dalam sebuah pesawat luar angkasa yang sangat canggih dan mewah sekali. Di sebelahnya, seorang wanita mengenakan seragam astronot berwarna putih menatapnya sambil tersenyum.
"Selamat datang di pesawat penjelajah. Profesor Rizal. Saya Susan, kopilot sekaligus asisten Anda dalam misi ke planet Veruza" kata wanita itu.
Rizal semakin bingung, ia merasa semua ini begitu nyata. Veruza adalah planet yang pernah ia baca di catatannya, terkenal dengan keindahan planetnya yang menakjubkan. Pesawatnya meluncur ke ruang angkasa dengan kecepatan luar biasa, tiba di Veruza hanya dalam hitungan jam saja.
Mereka mendarat di sebuah tempat yang dipenuhi tumbuhan aneh berwarna biru dan ungu. Rizal dan Susan mengenakan pakaian astronot dan keluar dari pesawat. "Udara di sini bisa kita hirup tanpa helm," kata Susan sambil membuka helmnya. Rizal menghirup udara sejuk yg sangat berbeda di bumi.
Mereka pun mulai berjalan menyusuri lembah, menyaksikan hewan dan tumbuhan yang sama sekali belum pernah mereka lihat sebelumnya. Di sepanjang jalan, mereka menemukan makhluk kecil bercahaya yang melayang di udara seperti peri. Tumbuhan di sekitar mereka berkilauan seolah menyambut kedatangan mereka.
"Tempat ini seperti sangat indah sekali seperti surga," kata Rizal yg kagum.
"Saya juga tidak pernah membayangkan ada dunia seindah ini."Kata Susan yg juga kagum
Mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah danau berair jernih yang memantulkan langit berwarna-warni yg sangat indah, Di danau tersebut juga terdapat ikan ikan yg bentuknya sangat aneh yg belum pernah mereka lihat sebelumnya. Di tepian danau, terdapat bekas reruntuhan bangunan kuno yang dihiasi ukiran dan desain yg sangat rumit. Rizal dan Susan pun memasuki salah satu bangunan tersebut dan menemukan sebuah ruang besar dengan lambang aneh di tengahnya. Di atas lambang tersebut, terdapat kristal besar yang berdenyut pelan, memancarkan cahaya biru lembut.
"Kita harus mencoba memeriksanya," kata Rizal dengan bersemangat
Dia mendekati kristal dan menyentuhnya. Seketika, getaran kuat seperti gempa mengguncang bangunan tersebut. Tiba-tiba,muncul sosok besar dengan mata merah pekat.
"Kalian telah mengganggu tempat suci ini," suara makhluk itu dengan seramnya
"Tolong jangan salah paham, Kami tidak bermaksud mengganggu tempat ini" kata Susan dengan suara gemetar.
"Kami hanya ingin belajar dan mengeksplor planet ini."
Makhluk itu memandang mereka dengan tajam dan mendekatinya.
"Kalian manusia selalu saja mencari alasan. Namun ingatlah bahwa tidak semua rahasia harus kalian ketahui. Pergilah dan ingatlah pesan ini: hargailah planet kalian sendiri dan planet makhluk lain, karena masing-masing planet adalah rumah dari masing-masing makhluk di dunia" Kata Makhluk itu sambil memberi nasehat
Makhluk itu pun menghilang tiba-tiba dalam kegelapan, dan gempa pun berhenti. Rizal dan Susan saling berpandangan dan segera keluar dari reruntuhan tersebut. Mereka kembali ke pesawat penjelajah dan bersiap untuk kembali ke Bumi. Saat pesawat meluncur meninggalkan atmosfer Veruza, Rizal merasa matanya sangat berat dan kembali tertidur.
Tiba-tiba, Rizal terbangun di mejanya di laboratorium. Semua terasa sangat begitu nyata, tapi dia sekarang duduk di kursinya dengan lampu laboratorium yang masih menyala. Di atas meja, tergeletak buku catatan yang tadi dibacanya.
"Mimpi yang sangat luar biasa," kata Rizal dalam hatinya.
Namun dia merasa ada yang berubah dalam dirinya. Mimpi itu terasa begitu nyata, dan pesan dari makhluk Veruza terus muncul di kepalanya. Dengan semangat baru, Rizal bertekad untuk lebih memperhatikan kelestarian planet Bumi, satu-satunya rumah manusia.
Malam itu, Rizal pulang dengan perasaan penuh inspirasi dan tekad untuk menjadikan mimpinya sebagai pengingat akan pentingnya menjaga planet kita sendiri. Meskipun semua itu hanya sebuah mimpi, pesannya sangat menyentuh baginya. (*)

