Dari Sarimbit ke Seragam Keluarga: Asal-usul Tren Baju Lebaran Kompak di Indonesia

Ini Awal Mula Keluarga Indonesia Suka Menggunakan Baju Seragam Saat Lebaran/Foto: Dok. Brand
Beritariau.com, Jakarta - Tradisi mengenakan busana seragam saat Lebaran kini telah menjadi pemandangan umum di berbagai daerah di Indonesia. Banyak keluarga tampil kompak dengan warna dan gaya senada, baik saat berfoto maupun bersilaturahmi.
Namun, kebiasaan ini ternyata memiliki akar sejarah yang cukup panjang. Perancang busana Deden Siswanto mengungkapkan bahwa tren tersebut berawal dari budaya sarimbit yang populer sejak akhir 1980-an hingga 1990-an.
Pada masa itu, pasangan suami istri mulai mengenakan pakaian dengan motif senada, terutama batik. Umumnya, istri memakai kebaya dengan kain batik, sementara suami mengenakan kemeja dari bahan yang sama. Gaya inilah yang kemudian berkembang menjadi simbol kekompakan dalam keluarga.
Seiring waktu, konsep sarimbit tidak hanya terbatas pada pasangan, tetapi meluas hingga melibatkan anak-anak. Dari sinilah muncul kebiasaan mengenakan busana seragam keluarga saat momen besar keagamaan, khususnya Idul Fitri.
Meningkatnya minat masyarakat membuat permintaan baju seragam melonjak, terutama menjelang Lebaran. Salah satu pusat perbelanjaan yang dikenal sebagai tujuan utama berburu busana seragam adalah Pasar Tanah Abang, yang menawarkan beragam pilihan model dan harga.
Meski demikian, tren busana Lebaran kini mengalami perkembangan. Seragam keluarga tidak lagi harus identik sepenuhnya. Banyak keluarga memilih pendekatan yang lebih fleksibel, seperti menyamakan warna namun dengan desain yang berbeda agar tetap stylish dan nyaman.
Meski begitu, model seragam kembar masih tetap diminati. Pada akhirnya, pilihan busana Lebaran kembali pada selera masing-masing keluarga, selama tetap mencerminkan kebersamaan dan kebahagiaan di hari kemenangan. (*)

