Britania Raya Kunjungi Bengkalis, Pelajari Keberhasilan Konservasi Mangrove

Britania Raya Kunjungi Bengkalis, Pelajari Keberhasilan Konservasi Mangrove

Beritariau.com, Bantan – Delegasi Britania Raya melalui program ASEAN-UK Green Transition Fund (GTF) mengunjungi Pulau Bengkalis pada 9–13 Februari 2026 untuk mempelajari praktik terbaik pengelolaan lingkungan di kawasan Asia Tenggara. Kunjungan ini fokus pada penerapan Solusi Berbasis Alam (Nature-based Solutions/NbS), khususnya konservasi mangrove di Desa Teluk Pambang, yang telah berhasil menekan laju degradasi hingga 96 persen.

Program ini difasilitasi oleh The SCeNe Coalition, koalisi organisasi lingkungan yang bekerja sama dengan ASEAN-UK GTF, termasuk Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan Wahana Riset Indonesia (WRI). Kolaborasi ini menekankan pendekatan terpadu yang menggabungkan konservasi, penguatan ekonomi masyarakat, dan pengembangan mekanisme pembiayaan berkelanjutan.

Sekretaris Camat Kecamatan Bantan, Rizki Subagia Efendi, menyambut positif perhatian internasional ini. Ia menegaskan bahwa keberhasilan konservasi mangrove merupakan hasil kerja sama warga, pemerintah, dan YKAN, dan akan terus didukung oleh pemerintah setempat.

Kunjungan selama lima hari ini meliputi lokakarya pengumpulan data sosial, ekonomi, dan ekologi, pelatihan standar karbon global, perencanaan monitoring, dan pemodelan pendanaan berkelanjutan. Seluruh kegiatan menerapkan prinsip GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion), sehingga perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok minoritas seperti Suku Akit dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

Mariski Nirwan, Manajer Senior Ketahanan Pesisir YKAN, menekankan bahwa konservasi mangrove adalah soal keadilan sosial sekaligus perlindungan alam. Senada, Mila Rizqiani dari WRI menekankan bahwa manfaat ekonomi dan perlindungan pesisir harus dinikmati seluruh warga, bukan hanya kelompok dominan.

Pada hari ketiga dan keempat, koalisi mengadakan pelatihan Capacity Training Carbon Project, mencakup standar karbon, mekanisme pembagian manfaat, penilaian risiko, hingga kelayakan finansial. Pelatihan ini bertujuan memperkuat kapasitas warga agar dapat menjadi pemimpin utama dalam pengelolaan mangrove secara berkelanjutan, sekaligus memastikan konservasi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan. (*)