Pria di Siak Riau Bunuh Wanita gara-gara Tak Dipinjami Uang

Pria di Siak Riau Bunuh Wanita gara-gara Tak Dipinjami Uang

Dok. Polres Siak

Beritariau.com, Siak – Sebuah kasus pembunuhan menggemparkan Kecamatan Minas, Kabupaten Siak. Seorang pria berinisial AS (44) tega mengakhiri nyawa wanita EWS (44) hanya karena sakit hati ditolak saat meminjam uang. 

Kejadian tragis ini pertama kali terungkap pada Rabu, 4 Februari 2026, ketika adik korban berkunjung ke rumah EWS di Jalan Perawang Km 2, Desa Minas Timur. Ia dikejutkan dengan pemandangan mengerikan: korban tergeletak bersimbah darah di dapur rumahnya sendiri.

Polisi segera melakukan penyelidikan. Titik terang muncul pada Jumat, 13 Februari 2026, ketika pelaku berhasil diamankan saat bersembunyi di rumah kerabatnya di Kelurahan Tengkereng Labuai, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru.

Dalam pemeriksaan, AS mengaku awalnya datang ke rumah korban dengan maksud meminjam uang. Namun EWS menolak karena pelaku masih memiliki utang yang belum dibayar. Selain itu, ucapan korban yang menyinggung perasaannya memicu emosi pelaku hingga akhirnya melakukan tindakan brutal. Dengan sebilah pisau dapur, AS menikam leher EWS hingga korban meninggal dunia di tempat.

Setelah perbuatannya, pelaku sempat membersihkan pisau dan mengembalikannya ke tempat semula sebelum melarikan diri sambil membawa handphone korban. Polisi menyita sejumlah barang bukti, termasuk pisau yang digunakan, pakaian pelaku, sepeda motor tanpa plat, helm, jaket, tas selempang, dan ponsel.

Kasat Reskrim Polres Siak, AKP Tidar Laksono, menyatakan bahwa motif pembunuhan adalah karena sakit hati ditolak pinjam uang dan tersinggung oleh ucapan korban. “Tersangka mengakui perbuatannya dan kini telah kami tahan. Proses penyidikan masih berjalan untuk melengkapi berkas perkara,” ujarnya.

Pelaku dijerat dengan Pasal 459 subsider Pasal 458 ayat (1) UU KUHP No. 1 Tahun 2023, yang mengancam pelaku dengan pidana mati, penjara seumur hidup, atau maksimal 20 tahun penjara.

Kasus ini menjadi pengingat pahit tentang bahaya emosi yang tak terkendali, bahkan hanya karena persoalan uang, yang berujung pada tragedi tak termaafkan. (*)