Di Ruang-ruang Gelap Salma: Solilokui yang Ingin Menguat, Namun Terbata

Di Ruang-ruang Gelap Salma: Solilokui yang Ingin Menguat, Namun Terbata

Bunga Suci Pertiwi

Beritariau.com - Resilience yang berarti ketangguhan, adalah judul buku setebal lebih kurang sembilan puluh delapan halaman yang ditulis oleh Taqiya Mafaza. Buku yang digolongkan dalam jenis solilokui ini menceritakan masalah kesehatan mental yang terjadi pada seorang gadis berusia akhir belasan hingga awal usia dua puluhan. Buku ini mengundang kita untuk lebih mengenal dan paling tidak menyadari bahwa penyakit mental bukanlah aib, dan pasti dialami oleh seseorang. 

Bagian pertama buku ini mengambil sudut pandang seorang gadis bernama Salma, dan kehidupannya setelah didiagnosis menderita empat penyakit mental selama masa perkuliahan. Bab selanjutnya menceritakan hari-hari Salma, apa yang ia rasakan sebagai penderita mental illness, bagimana perubahan suasana hatinya secara drastis dan upaya Salma menerima keadaan dirinya dengan lapang dada. 

Terakhir, buku ini ditulis Taqiya untuk dipersembahkan kepada dirinya dan teman-teman yang memiliki masalah serupa dengan tokoh Salma.
"Cinta sejati tidak tumbuh dari kata-kata manis atau pelukan singkat di hari hujan. Ia tumbuh dari keberanian untuk tetap lembut di tengah dunia yang begitu sering melukai.”

Inilah kalimat yang menjadi prolog sebuah solilokui berjudul Resilience.
Sesuai dengan judulnya yang bermakna tangguh, buku ini menceritakan Salma yang berusaha kuat menjalani hidup. Semua masalah Salma selama proses penerimaan 'dirinya' diceritakan dengan apik di dalam buku ini, dan mengundang pertanyaan; sebenarnya apa yang menyebabkan Salma jadi begini? Salma yang seorang mahasiswa psikologi semester akhir, digambarkan menyukai hal-hal yang sangat girly. Seperti menyukai warna-warna pastel, pita-pita dan hal lainnya yang identik dengan nuansa coquette.

Di tengah keterpurukan hidup, permasalahan kuliah dan penyakit mentalnya, Salma jatuh cinta pada seorang laki-laki yang tidak sengaja ia temui. Laki-laki jangkung dengan lesung pipi, laki-laki idaman menurut Salma–tipe idealnya. Namun, perasaan Salma mesti pupus ketika laki-laki itu tidak mencintainya balik. Rasanya sakit, seperti ada yang hilang, perasaan itu terus menggeroti Salma secara perlahan dengan memperburuk kondisi mentalnya. Terkadang Salma tidak bisa mengendalikan susasana hatinya, pikirannya pun mudah teralihkan dengan hal-hal kecil.

Bertahun-tahun menjalani hari seperti mati segan hidup tak mau Salma yang lelah terus memendam perasaannya mencoba melangkah lagi dengan bercerita pada sang Ibu di suatu malam. Cerita yang berujung pada permohonan untuk mengizinkannya melanjutkan kuliah profesi ke luar negeri. Siapa sangka, keinginan Salma untuk melepas bayang-bayang cintanya yang kandas justru membawa Salma lebih dekat kepada 'sumber masalahnya'. Pertemuan Salma yang lagi-lagi tidak disengaja dengan laki-laki yang pernah ia cintai, segera menjelaskan hubungan mereka.

Hadirnya buku ini seperti memberi napas segar dalam dunia kepenulisan terutama penulis asal Minangkabau. Pasalnya, sudah lama sekali sejak kita tidak mendengar adanya penulis perempuan. Taqiya si penulis lahir di tengah kekosongan itu, dengan latar belakang mahasiswa psikologi Taqiya mencoba menulis pengalaman profesionalnya dengan bahasa yang mudah dipahami khalayak umum. 

Selain lahirnya kembali penulis perempuan, buku ini juga turut mewarnai dunia buku mengenai kesehatan mental yang kini aktif dibicarakan. Meski banyak rujukan tertulis dalam buku ini, sedikit-sedikit buku ini mampu menimbulkan penasaran akan siapa sebenarnya sosok yang perkataannya dikutip oleh Taqiya dan apa saja buku yang ia bicarakan. 

Karena buku ini tergolong tipis, bagi teman-teman yang tidak terlalu pandai membaca buku panjang, bisa menyelesaikannya dengan sekali duduk. Gaya bahasa yang cukup ringan membuat pembaca tidak sadar bahwa ia sudah sampai di penghujung halaman.

Seperti kata pepatah "Tak ada gading yang tak retak" demikian juga lah buku ini. Meski telah mengkategorikan 'Resilience' pada jenis bacaan solilokui, gaya penceritaan penulis belum bisa membawa pembaca seolah ikut masuk dan merasakan kesakitan dari tokoh utama. 

Secara gamblang, hanya ada dua orang tokoh dalam cerita ini. Salma dan lelaki itu, alter ego Salma yakni Taqiya dikatakan bahwa ingin menggambarkan kepribadiannya yang berbeda ketika penyakit Salma kambuh. Namun, alih-alih mendapat perasaan semacam itu, saya justru bingung apa hubungan antara Salma dan Taqiya. 

Untuk menggambarkan dua kepribadian yang saling bertolak ini tidak perlu mengganti nama si tokoh, sebab alih-alih memberi tanda pembeda, justru hal semacam ini malah membuat pembaca bingung.
Alur kisah saya pikir berantakan. Antara bab satu dan selanjutnya tidak ada penjelasan time line. Jika bisa disebut, buku ini seperti buah karbitan. Sudah tampak wujudnya, namun dipaksa masak saat masih mentah. 

Pada awal bab saya mulai terbawa dengan penggambaran suasana dan pengenalan tokoh, namun saya tidak tau mengapa lagi-lagi di bab selanjutnya penulis kembali memperkenalkan tokoh utama. Development karakter yang masih kurang sebab bagian antar paragraf yang terkesan patah karena menceritakan hal yang berbeda secara tiba-tiba, juga berkaitan dengan narasi yang dihadirkan penulis tanpa sebab dan akibat. Dibutuhkan kecermatan untuk memahami perpindahan waktu dan emosi si tokoh sebab terkadang seperti tidak ada bedanya antara dia sedih marah karena pemicu yang kurang jelas.

Jika tidak dibaca secara seksama buku ini akan meninggalkan tanda tanya bagi pembaca mengenai apa yang sebenarnya hendak disampaikan penulis? Terlalu banyak rujukan dalam buku dengan satu bab yang hanya berisi lima sampai enam halaman. 

Bukan berarti isinya buruk, tapi menurut saya buku ini kurang panjang. Dengan segala data yang tercantum, saya menginginkan sesuatu yang lebih. Saya ingin konsistensi gaya bahasa penulis pada bab-bab selanjutnya seperti yang penulis buat di bab pertama. Saya ingin masuk dan ikut merasakan sakit Salma, pemicu keterpurukannya dan bagaimana Salma menyatakan perasaan pada laki-laki yang tidak mencintainya balik.

Menariknya buku ini ditulis seperti essai, meski digolongkan dalam tulisan fiksi menurut penulis. Saya pikir jauh memuaskan jika penulis menuliskannya dalam bentuk novel. 

Lalu, di luar tulisan ini yang mengangkat isu psikologis seperti yang sudah dicantumkan istilah-istilahnya oleh Taqiya, saya justru tertarik pada psikologi perempuan di sini. Seringkali ketika membaca sebuah karya ntah itu novel atau cerpen, terselip sebuah kisah cinta walau hanya sekilas. 

Fenomena memasukan unsur cinta itu dikenal dengan nama mitos kesunyian, sebuah istilah yang saya pun masih dibuat bertanya-tanya mengapa disebut demikian karena menurut saya agak aneh. Dan permasalahannya, perempuan lah yang kerap kali digambarkan begitu mencintai si laki-laki, keterpurukannya, segalanya--jarang yang menggambarkan itu pada tokoh laki-laki. Saya kira, penulis bisa meneliti mengenai itu untuk ide tulisan berikutnya :v.

Terakhir, sampul buku ini dirasa kurang bisa menggambarkan isi buku. Tentang perempuan berhijab yang saya kira khalayak umum pasti menebak sosok Salma dari agama tertentu, sedangkan ilustrasi sampul buku bergambar perempuan tanpa hijab dengan bunga di kepalanya. 

Alangkah lebih baik jika sosok Salma bisa digambarkan secara universal, sebab jika merujuk pada agama tertentu pun ada satu bab yang menyebut mengenai dewa-dewi, saya kira itu adalah celah yang besar tidak masuk akal--yang tentu saja akan menjadi pertentangan bagi pemeluk agama nan dimaksud di kemudian hari.

Sebenarnya buku ini ingin menuliskan untuk tidak menganggap remeh penyakit mental dan kebijakan masyarakat agar turut peduli serta mau belajar berempati pada sesuatu yang dianggap tabu. Penulis ingin menjelaskan bahwa mungkin saja diagnosis penyakit mental seseorang bisa lebih dari satu, sebab penyakit kejiwaan itu sendiri yang saling berkait dan perlu diamati secara cermat dan harus meminta bantuan pada tenaga profesional dengan menghindari self diagnose.

Identitas Buku
A. Judul Buku: Resilience
B. Nama Pengarang: Taqiya Mafaza
C. Cetakan dan Waktu Terbit: Cetakan ke-1, September 2025.
D. Nama Penerbit: Salmah Publishing
E. Tebal Buku: ±98 halaman
F. Harga Buku: Rp 85.000,-

Bunga Suci Pertiwi, lahir di Sijunjung pada 2003. Senang menulis essai, narratologi, meneliti habitus dan arena dalam kesusastraan, dan sesekali melukis. Bergiat di Labor Penulisan Kreatif. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Andalas Padang. (*)