Deni, “Dea Lipa” Lombok yang Viral karena Berdandan Seperti Perempuan

Deni, “Dea Lipa” Lombok yang Viral karena Berdandan Seperti Perempuan

Deni 'Dea Lipa'

Beritariau.com, Lombok Tengah – Warga Lombok sempat dibuat heboh oleh seorang pria bernama Deni, yang lebih akrab dikenal dengan julukan Dea Lipa. Deni merupakan penata rias (MUA) asal Desa Mujur, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). 

Sosoknya mendadak viral karena kerap tampil dan berdandan layaknya perempuan, bahkan mengenakan hijab, sehingga banyak orang yang mengira ia adalah wanita. Fenomena ini kemudian membuat warganet menyematkan julukan “Sister Hong versi Lombok” kepadanya.

Beberapa mantan klien Deni mengaku terkejut mengetahui bahwa selama ini sosok Dea Lipa yang mereka anggap perempuan ternyata seorang pria. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa adik laki-lakinya sempat berpacaran dengan Deni tanpa mengetahui identitas aslinya.

Kepala Desa Mujur, Junaidi, membenarkan bahwa Deni adalah warganya. Menurut informasi dari kepala dusun setempat, penampilan Deni yang menyerupai perempuan dipengaruhi oleh depresi dan tuntutan profesinya sebagai MUA. “Mungkin dia memang sedang mengalami masalah dan berlebihan dalam berpenampilan, tetapi profesinya memang menuntut tampil menarik,” jelas Junaidi.

Meski kerap tampil feminin, Deni disebut tidak pernah menimbulkan masalah di desa. Mayoritas kliennya diketahui telah memahami bahwa Dea Lipa adalah seorang laki-laki. Junaidi juga menyampaikan bahwa banyak pihak, termasuk Kepala KUA Praya Timur, sempat menanyakan soal foto-foto Deni yang viral di media sosial.

Saat ini, Deni tengah dirawat di rumah keluarganya di Lombok Barat, dan pihak desa berencana mengumpulkan keluarga besarnya untuk membahas permasalahan yang dialami serta memberikan dukungan.

Fenomena ini menuai perhatian dari berbagai pihak, termasuk lembaga keagamaan.

PWNU NTB mengecam aksi kamuflase Deni dan menilai penampilan seperti itu sebagai penyimpangan. 

Sekretaris PWNU NTB, Lalu Daud Nurjadi, menyatakan bahwa Deni perlu mendapat pendampingan dan pembinaan serius. Menurutnya, penata rias laki-laki tidak perlu meniru penampilan perempuan. Daud mencontohkan selebriti seperti Ivan Gunawan, yang sukses sebagai MUA tanpa mengubah identitas gendernya.

GP Ansor NTB juga menyoroti fenomena ini dari perspektif agama dan sosial. Ketua PW GP Ansor NTB, Irpan Suriadiata, menekankan bahwa perilaku semacam ini bertentangan dengan nilai agama, moral, dan kesopanan. 

Ia menjelaskan bahwa Islam memberikan batasan yang jelas antara laki-laki dan perempuan, termasuk dalam penampilan. Meski begitu, Ansor menekankan bahwa penanganan terhadap Deni harus dilakukan secara santun, edukatif, dan mencerahkan, bukan dengan persekusi atau kebencian.

Irpan menambahkan, fenomena ini bukan sekadar ekspresi atau gaya hidup, tetapi berpotensi menimbulkan kebingungan identitas, mengaburkan nilai moral, dan membuka ruang penyalahgunaan identitas, terutama di ranah publik dan digital.

Viralnya Deni alias Dea Lipa menjadi contoh bagaimana ekspresi diri dan tuntutan profesi dapat berbenturan dengan norma sosial di masyarakat konservatif. Fenomena ini memunculkan perdebatan tentang batas antara hiburan, ekspresi diri, dan moral publik. 

Meskipun kontroversial, banyak pihak menekankan pentingnya pendekatan yang edukatif dan penuh empati dalam menanggapi kasus ini, agar fenomena serupa tidak menimbulkan diskriminasi atau persekusi.

Dengan viralnya “Sister Hong Lombok,” masyarakat Indonesia kembali diingatkan akan kompleksitas identitas, profesi, dan norma sosial, terutama di era media sosial yang cepat menyebarkan informasi. (*)