Suka Duka Touring Mempererat Hubungan

Komunitas Motor Gede "Moge" Tepis Istilah "High Class Community"

Komunitas Motor Gede "Moge" Tepis Istilah "High Class Community"

GATHERING - Komunitas Moge "250+ Riders Club | Beritariau.com 2014

Beritariau.com, Pekanbaru - Melihat banyaknya komunitas Motor Gede (Moge), biasanya sering dikaitkan sebagai sekumpulan orang-orang kaya dengan tunggangan yang mewah alias High Class Community. Maklum, dengan tunggangan yang gagah, umumnya orang mengatakan barang mewah seperti Moge bisa dikatakan sebagai barang 'mahal'.

Ungkapan itu, langsung dibantah oleh salah seorang anggota 250+ Riders Club, Airlangga Akbar. Menurutnya, Moge saat ini tidak dikatakan sebagai barang mewah lagi. Karena, dengan menabung, sekelas motor mewah berkapasitas mesin 250 cc bisa dimiliki saat ini.

“Tidak semua orang kaya yang punya. Kita semua bisa punya karena banyak perusahaan pembiayaan atau leasing yang menawarkan harga bervariatif. Peraturan sekarang, motor 250 cc tidak kena pajak barang mewah lagi, kecuali di atas 250 cc baru kena pajak barang mewah,” ucap Airlangga Akbar, bapak dua anak ini, saat diwawancarai Beritariau.com, Sabtu (23/08/2014).

Bantah pemikiran negatif tersebut dikatakanya tidaklah sepenuhnya benar. Pemikiran tergantung dari setiap pola pikir seseorang. Dirinya mencontohkan, seperti halnya orang yang hobi bermain golf. Nilai barang yang ditawarkan tergolong mewah juga, ataupun orang yang hobi memancing juga demikian.

“Jadi yang namanya sebuah hobby itu tidak ada yang murah. Semua pasti bernilai tinggi,” ungkap Airlangga.


Komunitas Moge "250+ Riders Club | Beritariau.com 2014

Disebutkannya lagi, dahulu, Club Moge ini bernama Ninja 250 R Community Pekanbaru yang berdiri pada tahun 2009. Namun, karena anggota club sudah naik kelas dengan tunggangan melebihi 250 cc, maka pada tahun 2011, nama berubah menjadi 250+ Riders Club.

Berawal dari wadah pecinta otomotif di Pekanbaru serta adanya kesamaan hobby terhadap motor besar, Club yang beranggotakan 32 orang dan bermarkas di jalan Setia Sari No 9, Kelurahan Tangkerang Selatan Kecamatan Bukit Raya Pekanbaru ini sepakat menyatukan visi dan misi mereka menjelajah touring di berbagai daerah.

Salah satu tempat yang pernah dijelajahi mereka yakni di sekitar Provinsi Sumatera Barat selama 3 hari 2 malam belum lama ini. Dalam penuturannya, banyak suka duka yang mereka alami ketika melakukan touring di berbagai daerah. Salah satunya adalah insiden kecelakaan.

“Memang tidak parah sih. Hanya kecelakaan kecil saja. Setiap berpergian baik di luar ataupun di dalam kota, keselamatan selalu kami prioritaskan dengan memakai helm, jaket touring, sepatu safety motor, sarung tangan untuk melindungi anggota tubuh dalam bahaya ketika jatuh serta jas hujan, semua kami lengkapi,” terang Airlangga.

Selain itu, dirinya juga menyebutkan bahwa duka lainnya selama touring yakni ketika berpergian di Kabupaten Siak, April 2014. Salah satu anggota club pada saat itu kehabisan bahan bakar.

“Terpaksa diisi bahan bakar jenis premium. Sebenarnya tidak boleh karena kalau pakai premium mesin tidak bagus dan merepet. Bahan bakar yang dipakai harus jenis pertamax,” jelas Airlangga.

Dilanjutkannya, rata-rata, kapasitas tanki motor menampung sebanyak 18 liter jika diisi penuh. Dalam perjalanannya, 20 kilometer perjalanan menghabiskan 1 liter bahan bakar.

“Beda motor beda juga kapasitasnya. Tapi rata-rata 17-18 liter itu sudah full,” paparnya lagi.

Ditanya apakah pernah melakukan perjalanan jauh hingga di luar kota Sumatera, Airlangga yang mengaku mengendarai motor Merek Kawasaki berkapasitas mesin 650 cc ini menyebutkan belum pernah. Hal itu dikarenakan kesibukan dari masing-masing anggota.

“Rata-rata anggota kan berasal dari kalangan mahasiswa, pegawai swasta, pengusaha dan PNS. Jadi, susah untuk menentukan jadwal. Terus ada kesibukan untuk keluarga juga. Yang namanya touring jauh itu kan butuh waktu yang panjang,” urainya.


Komunitas Moge "250+ Riders Club | Beritariau.com 2014

Diakhir pembicaraannya, ia mengungkapkan bahwa selama melakukan perjalan touring, "ai" begitu sapaannya, mengatakan bahwa, banyak kenangan-kenangan menjadi topik pembicaraan ketika mereka bertemu dengan teman-teman club lainnya.

Dari hal itulah touring mampu membangkitkan ikatan emosional di antara mereka. Karena dalam perjalanan jauh yang mereka lakukan merupakan suatu pengalaman yang berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang. [bam]