APRIL Group Kembangkan Solar Panel Berkapasitas 50 MW, Energi Hijau yang Ramah Lingkungan
Solar Panel Manager PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP), Tigor Sardison saat memberikan penjelasan/Dok. Beritariau.com
Beritariau.com, Pangkalan Kerinci – Sebagai Solar Panel Manager PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP), Tigor Sardison terlihat sibuk sekali siang menjelang sore itu, melayani pertanyaan dan keingintahuan sejumlah peserta Anugerah Jurnalistik APRIL-APR (AJAA) 2023 yang memang diundang khusus melihat langsung progres pengembangan solar panel di kawasan Riau Komplek, Selasa (16/1/2024), sebuah kawasan yang tidak hanya tempat pabrik pulp dan kertas APRIL serta Asia Pacific Rayon (APR) berada, produsen viscose rayon terintegrasi pertama di dunia, tetapi juga tempat bagi ribuan karyawan dan keluarga mereka.
Di tengah terik cuaca siang itu, Tigor dengan sabar menjelaskan bagaimana kemudian APRIL-APR tertarik dan berkomitmen untuk mengembangkan panel surya ini, padahal saat ini RAPP sama sekali tidak kekurangan sumber energi listrik, tapi demi kehidupan yang lebih baik, lebih bersih, lebih sehat, panel surya jadi pilihan, walaupun investasinya juga tidak murah dan secara bisnis tentu saja pengembalian modalnya akan sangat lama.
Dari cerita Tigor, kita juga tahu kalau saat ini dari target 50 megawatt (MW), panel surya yang sudah terpasang dan berjejer rapi itu telah mampu memproduksi 11 MW dan sebelum 2025 nanti kapasitasnya bisa ditingkatkan menjadi 20 MW dan nanti bisa mencapai 50 MW pada 2030.
Tak hanya itu, sisi menarik dari proyek ini katanya adalah, panel-panel surya yang sudah dipasang itu berada di atas lokasi limbah padat, bahkan katanya lagi, jauh sebelum memulai proyek panel surya ini, APRIL Group dan RAPP pun telah memanfaatkan limbah organik dari proses produksi tersebut sebagai sumber energi terbarukan.
Ditambahkannya, butuh luasan lahan yang besar untuk bisa menampung panel-panel surya tersebut, sebagai perbandingan saja, untuk memasang panel surya berkapasitas 1 MW saja, butuh lahan 1,1 hektare, makanya nanti khusus untuk ini saja pihak perusahaan akan menyiapkan lahan sekitar 34 hektare lagi. Bayangkan bagaimana nanti pemandangan jejeran panel-panel terlihat di atas tanah seluas 34 hektare.
“Kami juga tengah berkoordinasi dengan DLHK untuk izin yang lebih luas lagi,” kata Tigor karena diharapkan panel-panel itu juga bisa dipasang di atap-atap pabrik yang ada di situ.
Tidak sebatas bicara energi terbarukan, bagi APRIL Group kata Tigor, diharapkan nantinya keberadaan panel-panel surya yang mampu menghasilkan energi listrik ini juga bisa memberikan multiflier effect, terumata bagi masyarakat sekitar yang nantinya juga bisa menikmati hasilnya.
“Tidak hanya untuk kita, kami berharap bisa mengalirkan listrik ke lingkungan masyarakat sekitar. Jadi masyarakat juga bisa menikmatinya, mungkin nanti bisa bekerjasama dengan BUMD.” harap Tigor.
Dok. APRIL Group
Sebelum adanya panel surya ini, APRIL Group pun telah memanfaatkan limbah organik dari proses produksi sebagai sumber energi terbarukan yang akan digunakan kembali dalam proses operasional, memenuhi lebih dari 80 persen kebutuhan listrik di pabrik kami.
“Kami juga menargetkan untuk meningkatkan menjadi 90 persen sebelum tahun 2030, sambil terus berupaya mengurangi emisi karbon dari proses produksi hingga 25 persen, yang juga termasuk bagian dari komitmen berkelanjutan APRIL2030,” sebutnya.
Panel surya ini nantinya akan membantu perusahaan mencapai salah satu komitmen APRIL2030 untuk memanfaatkan 50 persen kebutuhan energi untuk proses operasional dari sumber terbarukan dan energi bersih. Semuanya adalah bagian dari upaya kami untuk meninggalkan bahan bakar fosil dan membangun kompleks hijau di wilayah operasional kami di Pangkalan Kerinci.
APRIL2030 adalah visi perusahaan untuk memenuhi tantangan pada dekade mendatang, terangkum dalam empat komitmen dengan 18 target ambisius – Climate Positive (Iklim Positif), Thriving Landscape (Lanskap yang Berkembang), Inclusive Progress (Kemajuan Inklusif), dan Sustainable Growth (Pertumbuhan yang Berkelanjutan).
Pemilihan panel surya memanfaatkan energi panas matahari, yang mana merupakan sumber energi alami yang sangat berlimpah di bumi ini tentu saja pilihan yang sangat tepat. Panel surya merupakan perangkat listrik yang ramah lingkungan, sebab dalam prosesnya tidak menghasilkan efek negatif seperti halnya gas rumah kaca maupun karbon dioksida yang dinilai cukup berbahaya.
Selain itu, masa pakai yang cukup lama. Penggunaan solar cell atau panel surya memiliki waktu pakai hingga 20 tahun lamanya, yang tidak kehilangan banyak efisiensi di dalam penggunaannya. Panel surya juga dianggap sebagai perangkat listrik yang hemat energi, karena bisa Anda gunakan dalam masa pakai kurang lebih 20 sampai 30 tahun ke depan.
Kunaifi, Dosen UIN Suska Riau/Dok. Beritariau.com
Konsisten untuk Energi Hijau
Upaya APRIL Group mengembangkan panel surya mendapat apresiasi luar biasa dari berbagai kalangan, tak hanya dari pemerintah dan kalangan industri tapi juga dari kalangan akademisi, salah satunya dari DR. Kunaifi, ST., PgDipEnSt., M.Sc, dosen dan juga Wakil Dekan III Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Suska Riau ini adalah orang yang sudah malang melintang dan terlibat langsung dalam berbagai proyek pengembangan energi terbarukan khususya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di berbagai daerah di Indonesia dengan memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber energi.
Usai membuka Program Studi S1 Energi Terbarukan menjadikan UIN Suska Riau kampus pertama di Indonesia yang memiliki prodi itu dan pionir pendidikan di Indonesia yang membuka kurikulum energi terbarukan.
"Kita pionir pendidikan energi terbarukan pada level Strata 1 di Indonesia. Green Energy tidak lagi menyongsong tapi sedang berjalan," kata dia saat kami berbincang di kediamannya di Pekanbaru baru-baru ini.
Mantan Ketua Dewan Pengurus Energy Research Group (Enreach) di UIN Suska Riau ini menilai apa yang kini dilakukan oleh RAPP dengan mengembangkan panel surya adalah sesuatu yang patut diapresiasi, bukan yang pertama namun di sektor industri jelas ini yang paling besar kalau targetnya 50 MW.
Dia pun bercerita kalau sebenarnya energi terbarukan juga bukan sesuatu yang baru, pada perang dunia lampau, energi terbarukan sudah digunakan, Namanya spiritus, yang dipakai sebagai bahan bakar. Namun seiring ditemukannya minyak bumi dan punya nilai ekonomis yang lebih baik, makanya dunia beralih menggunakan minyak bumi sebagai bahan bakar.
“Namun pada rantang waktu 1970-an, dunia mengalami krisis enegri, termasuk Indonesia, maka dunia mulai berpikir kalau minyak bumi, gas dan batubara tidak bisa diandalkan selamanya, maka orang-orang mulai memikirkan energi terbarukan,” ujarnya bercerita.
Dok. Beritariau.com
Terkait pengembangan panel surya di RAPP, Kunaifi sangat mengapresiasi karena menurutnya RAPP adalah satu dari sedikit perusahaan yang konsen kepada green energy dan sustainability, dan itu sangat positif, karena ada banyak tujuan dunia usaha mau mengembangkan energi terbarukan, antara mengurangi tagihan listrik PLN atau membangun citra sebagai perusahaan hijau yang peduli terhadap lingkungan.
“Saya melihat RAPP sangat konsen terhadap pengembangan renewable energy itu, namun sayang saat kami ingin melihat langsung proyek pengembangan solar panel tersebut, kami sampai hari ini belum diizinkan,” ujarnya sambil bercanda.
Pilihan mengembangkan energi terbarukan dengan memanfaatkan sinar matahari menurutnya juga sesuatu yang sangat logis, apalagi Indonesia khususnya punya potensi besar itu, dengan hanya punya dua musim dan relatif stabil, sangat mudah mengembangkan PLTS di Indonesia.
“Kalau potensinya besar sekali, kalau dilihat tingkatannya Indonesia bagian timur tentu saja daerah yang paling bagus, lalu Indonesia bagian tengah, baru kemudian Indonesia bagian barat termasuk kita di Riau, itu pun masih sangat bagus,” sebutnya.
Diakuinya, saat ini fokus pengembangan panel surya masih berada di Pulau Jawa karena memang secara kebutuhan di sana lebih dibutuhkan, di luar Jawa termasuk di Sumatera secara market belum tumbuh, namun begitu upaya-upaya ke arah sana sudah ada.
Bagi Kunaifi yang memang miliki latar belakang Pendidikan Doktor dalam Bidang Sistem PLTS di University of Twente – Belanda ini, ada banyak tantangan yang kini dihadapi dalam pengembangan panel surya di Indonesia, salah satunya karena biaya investasinya yang cukup mahal, walaupun kategori mahal itu masih bias didefinisikan kembali.
“Selain memang tidak murah karena memang peralatannya diimpor lalu dirakit di dalam negeri, regulasi yang terus berubah, tidak adanya insenif keuangan untuk sektor ini membuatnya agak lambat berkembangan, selain itu pemerintah tentu saja tidak ingin pengembangan panel secara secara besar-besar nantinya akan mengganggu bisnis PLN,” ulasnya.
Apa yang kini tengah dilakukan RAPP menurutnya bisa jadi contoh bagi dunia usaha di Riau khususnya industri-industri dalam skala besar punya komitmen bersama terhadap energi terbarukan.
“Namun saya mengingatkan saat kita bicara soal energi terbarukan, maka hal terpenting lainnya yang mesti juga kita harus punya adalah perilaku hemat energi, gunakan listrik sesuai dengan kebutuhan, mematikan alat-alat listrik dan elektronik saat tidak kita gunakan adalah juga upaya nyata kita terhadap komitmen menjaga lingkungan,” pungkasnya. (*)

