7 ABK Kapal Singapura yang Dirompak Ternyata WNI

Ilustrasi | Beritariau.com 2015
Beritariau.com, Dumai - Sebanyak tujuh dari delapan orang anak buah kapal (ABK) kapal tengker berbendera Singapura dengan tulisan lambung bernama Joaquim yang dirompak di perairan perbatasan Indonesia-Malaysia, merupakan Warga Negara Indonesia (WNI).
Saat ini mereka semua sudah dievakuasi oleh petugas gabungan Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) kotamadya Dumai dan Direktorat Polisi Air Polda Riau. Mereka diselamatkan setelah beberapa jam kapal terombang-ambing pada radius tiga kilometer di Perairan Kabupaten Bengkalis, Riau.
Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo Sik, Senin (10/8) mengatakan, tujuh ABK dimaksud sudah dievakuasi ke Kotamadya Dumai, Riau.
"Sementara satu orang yang bertugas di bagian Cargo dievakuasi helikopter Police Diraja Malaysia karena mengalami luka di bagian kepala," kata Guntur di ruangannya.
Dia menjelaskan, berdasarkan informasi dari Direktur Polisi Air Polda Riau Kombes Pol Deni Pudjianto, kapal tersebut dinakhodai oleh Nosu Jhon Dumendehe (58) warga Sangir, Sulawesi Utara (Sulut).
Nakhoda ini dibantu oleh sejumlah ABK, yang sebagian merupakan WNI. Mereka adalah,
1. Saiful Aripin (35) warga Flores, Tiban Sekupang.
2. Parma Sembiring (32) warga asal Medan, Sumatera Utara
3. Kairul Aman (40) asal Gresik, Jawa Timur
4. Aman Girsang (58) asal Medan, Sumatera Utara
5. Budi Santoso (30) warga asal Sulawesi Selatan.
Sewaktu kejadian perompakan, para ABK ini disekap lima perompak yang naik melalui sisi kiri kapal tangker. Usai itu, mereka dikumpulkan di mess home dan dikunci.
Awak kapal itu tak berani melawan lantaran diancam dengan menggunakan senjata api dan senjata tajam. Beruntung mereka lolos dari jendela kapal dan langsung menghubungi Police Malaysia.
"Sebelum dirompak, kapal tangker itu dalam perjalanan dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau dengan tujuan Langkawi, Malaysia. Kapal ini kemudian disalin minyaknya oleh para perompak yang menurut Informasi menggunakan kapal MT Kharisma dengan jumlah 3.500 Metrik Ton senilai US 700 ribu," pungkas Guntur. [pan]

