Ajari 21 Murid di Bekas Mushala

Polisi Revolusi Mental Riau, Bripka Suheri Sitorus setia ajari warga di Rohul baca tulis

Polisi Revolusi Mental Riau, Bripka Suheri Sitorus setia ajari warga di Rohul baca tulis

Bripka Suheri Sitorus saat mengajari warga Suku Sakai di Desa Pauh | Beritariau.com 2015

Beritariau.com, Pekanbaru - Keberadaan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkam-tibmas) di setiap desa sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang timbul antar-warga.

Banyak kasus-kasus pidana ringan berhasil diselesaikan oleh Bhabinkamtimas sehingga tidak dilanjutkan pengaduannya ke Polsek atau Polres.

Namun apa yang dilakukan Bripka Suheri Sitorus, Bhabinkamtibmas Desa Pauh Kecamatan Kunto Darussalam, Kabupaten Rohul Provinsi Riau, melampaui tugas tugas pokoknya, yakni mengajar Suku Sakai Desa Pauh tulis baca.

Pekerjaan mulia ini, sudah dijalaninya pria kelahiran Asahan, Sumatera Utara, 15 Januari 1979 ini sejak tahun 2013. Setiap Senin dan Selasa malam, Suheri meluangkan waktu memberikan ilmunya kepada masyarakat Desa Pauh yang buta huruf, khususnya Suku Sakai.

Setelah melaksanakan tugasnya sebagai Bhabinkamtibmas dari pagi sampai sore, selepas Isya Suheri berangkat dari Kantor Pos Pengamanan (Pospam) KM 25 Lintas Libo-Pauh menuju tempatnya mengajar.

Bripka Suheri lulusan SPN Sempali Sumatera Utara tahun 1999. Sejak menyandang pangkat Bripda sampai tahun 2007, dia berdinas di Polda Sumut. Tahun 2018 dimutasi ke Polda Riau ditempatkan di Binkar. Tahun 2009, anak kedua dari 6 bersaudara ini dipindahkan ke Polres Rohul, dan tahun 2011 ditugaskan ke Polsek Kunto Darussalam.

Sejak Februari 2012, Suheri ditunjuk sebagai Bhabinkamtibmas di Desa Pauh Kecamatan Kunto Darusssalam.

Awalnya, Suheri hanya mengajar 3 orang murid, yakni Afrizal (35), Batin Adat Suku Sakai Desa Pauh, Yetno Virgo (34) dan Ratih (19). 3 orang itulah murid pertama Suheri. Mereka belajar di Pospam KM 25 Desa Pauh, 2 kali seminggu selepas Isya.

Setelah melihat ada kemajuan pada ketiga murid tersebut, akhirnya warga yang lain tertarik untuk belajar, sehingga murid Suheri bertambah menjadi 16 orang. Karena ruang tamu Pospam tidak sanggup menampung 16 murid, kemudian kegiatan belajar dipindahkan ke bekas mushala di KM 28 Desa Pauh.

Di sini jumlah murid Suheri terus bertambah sampai 21 orang, dan Suheri mendapat bantuan tenaga mengajar, Bambang (45). Ketulusan dan kegigihan Suheri membebaskan warganya dari kungkungan buta huruf membuat Bambang tergugah.

Suami dari seorang guru SMP di Desa Pauh ini, akhirnya menjadi pengajar tetap ke-21 murid tersebut. Jika Suheri ada tugas ke Polsek atau Polres, Bambang yang menggantikannya mengajar.

Tidak seperti sekolah formal, murid yang belajar di sini usianya beragam dari 12 sampai 45 tahun. Mereka belajar sambil lesehan dibawah penerangan sebuah lampu 20 watt. Tidak perlu menunggu waktu istirahat untuk menyulut rokok bagi murid yang perokok.

Maka ruangan mushala berukuran 6 X 8 meter itu pun dipenuhi asap rokok selama proses belajar berlangsung.

Waktu belajar berlangsung dari pukul 20.30 WIB sampai pukul 22.00 WIB, di sela waktu itu ada jam istirahat selama 15 menit.

Saat itulah para murid disuguhi gorengan dan teh manis oleh Suheri dan Bambang. Penduduk Desa Pauh berjumlah 8.118 jiwa, tersebar di wilayah seluas 225 Km2, terdiri dari 3 dusun, 6 RW dan 20 RT. Ada 7 suku yang tinggal di Desa Pauh, diantaranya Suku Sakai (20 persen).

Mata pencarian Suku Sakai umumnya petani, pencari ikan dan bekerja serabutan sebagai buruh.

Pendidikan menjadi faktor utama mengapa warga Sakai kalah bersaing dengan suku-suku lain. Mereka menjadi kaum marjinal di kampung halamannya sendiri, sering dibodoh-bodohi kaum terdidik dan berduit.

Namun berkat pengabdian Suheri Sitorus, kini masyarakat Suku Sakai Desa Pauh siap bangkit dari keterpurukan dan keterbelakangan.

Akibat ketekunan serta pengabdiannya, Polda Riau menyatakan Suheri sebagai salah satu penerima penghargaan Polisi Revolusi Mental di Riau. [Pan]