Sempat Ditolak RSUD Pekanbaru
Lika Liku Bayi Hidrosephalus dari Minas Mendapatkan Pertolongan

Ilustrasi Prosedur Rumah Sakit | Beritariau.com 2014
Beritariau.com, Pekanbaru - Hanafi, bayi laki-laki berumur 2 bulan, sempat ditolak RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru lantaran mengalami penyakit Hydrocephalus. Akibatnya, bayi malang ini terlantar beberapa jam dan sempat mengadu ke Dinas Sosial Propinsi Riau, namun juga tidak ditanggapi.
Refi (20) sang Ibunda dan Gusmita (41) nenek Hanafi, ikut mendampingi Hanafi berniat untuk membawanya ke RSUD Arifin Ahmad, namun warga Minas Km 43 tersebut malah merasa dipersulit, tak tahu mau mengadu kemana.
"Kemarin saya pas ke kebun, adik saya ngomong, ada orang yang datang, pada Senin (04/08/2014) pukul 15.00 WIB sore. Setelah saya lihat, bayi ini harus memang dirawat," kata Jonther Sihombing (41) kerabat Hanafi, petani warga jalan Hang Jebat yang merasa iba melihat kondisi Hanafi yang membutuhkan pertolongan.
Lalu pada Senin (04/08/2014) sekitar pukul 22.00 WIB Hanafi sempat dibawa ke RSUD Arifin Ahmad tapi ditolak.
"Sudah hampir diambil tindakan. Dokter bilang urus administrasi dulu. Tapi karena tak punya BPJS dan tidak punya uang Hanafi pun ditolak. Jadi tadi malam saya inapkan di rumah saya di Hang Jebat," terang Jonther.
Kemudian, lanjut Jonther, pada Selasa (05/08/2014) siang tadi, Hanafi pun dibawa ke Dinas Sosial, namun Hanafi tidak juga diterima.
"Dinas Sosial bilang saya disuruh buat laporan polisi karena Hanafi terlantar. Ini aneh, karena inikan bukan masalah orang terlantar. Tapi anak ini yang memang butuh pertolongan," jelas Jonther lagi.
Namun, setelah keluarga korban menghubungi sejumlah awak media, Hanafi anak dari kedua orang tuanya yang tinggal di Kecamatan Minas tersebut akhirnya mendapatkan perawatan yang memadai oleh pihak RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru pada Selasa (05/08/2014) siang.
Awalnya bayi malang ini sempat ditolak ketika dirujuk ke RSUD pada Senin (04/08/2014) malam sekitar pukul 22.00 WIB, karena tidak memenuhi kelengkapan administrasi yang diminta pihak rumah sakit.
Jonter Sihombing keluarga dari Hanafi mewakili sang Ibunda Refi (20), kepada wartawan melalui selulernya mengatakan, awalnya ia mendatangi RSUD Arifin Ahmad membawa Hanafi. Namun bayi malang berasal dari keluarga tidak mampu ini pun ditolak, dengan alasan pihak keluarga tak memenuhi persyaratan administrasi.
"Sempat ditolak, alasannya karena kami orang tua Hanafi tak punya identitas pengenal dan tak memiliki BPJS atau surat berobat lainya," ujar Jonther tersedu-sedu.
Karena ditolak RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru, lalu keluarga sang Bayi malang ini membawa Hanafi ke Puskesmas di jalan Melur Pekanbaru, namun karena pihak Puskesmas tidak memiliki kelengkapan alat medis, akhirnya menyarankan agar orang tua membawa Hanafi ke Dinas Sosial Provinsi.
"Saat di Dinas Sosial, kami disuruh urus identitas ke kepolisian, sampai bapak wartawan datang, barulah kami didata dan segera diantar ke RSUD," kata Jonther lagi.
Setelah melewati proses yang rumit dan panjang, akhirnya Hanafi pun mendapat perawatan di ruang IGD RSUD Pekanbaru. Menurut pihak Dinas Sosial Provinsi, segala biaya tersebut nantinya akan ditanggung Jamkesda provinsi Riau.
"Katanya ditanggung Jamkesda, yang penting kami udah senang, Hanafi sudah dirawat di sini," pungkas Jonther.
Sementara itu, Kepala Bidang Medis RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru, Dr Ruswadi Munir mengatakan, pihaknya bukan menelantarkan pasien seperti yang dikatakan keluarga sang Bayi, menurutnya memang ada prosedur yang harus dilewati keluarga pasien, agar pihak Rumah Sakit memiliki data lengkap terkait pasien.
"Selanjutnya kita akan menghubungi Diskes Siak, apakah mau menambah kuota Jamkesda di Siak, jika penuh maka akan dimasukan ke BPJS Mandiri, rumah sakit tidak pernah menolak, permasalahannya RS dibuat rumit karena tidak ada identitas," kata Ruswadi. [pan]
Refi (20) sang Ibunda dan Gusmita (41) nenek Hanafi, ikut mendampingi Hanafi berniat untuk membawanya ke RSUD Arifin Ahmad, namun warga Minas Km 43 tersebut malah merasa dipersulit, tak tahu mau mengadu kemana.
"Kemarin saya pas ke kebun, adik saya ngomong, ada orang yang datang, pada Senin (04/08/2014) pukul 15.00 WIB sore. Setelah saya lihat, bayi ini harus memang dirawat," kata Jonther Sihombing (41) kerabat Hanafi, petani warga jalan Hang Jebat yang merasa iba melihat kondisi Hanafi yang membutuhkan pertolongan.
Lalu pada Senin (04/08/2014) sekitar pukul 22.00 WIB Hanafi sempat dibawa ke RSUD Arifin Ahmad tapi ditolak.
"Sudah hampir diambil tindakan. Dokter bilang urus administrasi dulu. Tapi karena tak punya BPJS dan tidak punya uang Hanafi pun ditolak. Jadi tadi malam saya inapkan di rumah saya di Hang Jebat," terang Jonther.
Kemudian, lanjut Jonther, pada Selasa (05/08/2014) siang tadi, Hanafi pun dibawa ke Dinas Sosial, namun Hanafi tidak juga diterima.
"Dinas Sosial bilang saya disuruh buat laporan polisi karena Hanafi terlantar. Ini aneh, karena inikan bukan masalah orang terlantar. Tapi anak ini yang memang butuh pertolongan," jelas Jonther lagi.
Namun, setelah keluarga korban menghubungi sejumlah awak media, Hanafi anak dari kedua orang tuanya yang tinggal di Kecamatan Minas tersebut akhirnya mendapatkan perawatan yang memadai oleh pihak RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru pada Selasa (05/08/2014) siang.
Awalnya bayi malang ini sempat ditolak ketika dirujuk ke RSUD pada Senin (04/08/2014) malam sekitar pukul 22.00 WIB, karena tidak memenuhi kelengkapan administrasi yang diminta pihak rumah sakit.
Jonter Sihombing keluarga dari Hanafi mewakili sang Ibunda Refi (20), kepada wartawan melalui selulernya mengatakan, awalnya ia mendatangi RSUD Arifin Ahmad membawa Hanafi. Namun bayi malang berasal dari keluarga tidak mampu ini pun ditolak, dengan alasan pihak keluarga tak memenuhi persyaratan administrasi.
"Sempat ditolak, alasannya karena kami orang tua Hanafi tak punya identitas pengenal dan tak memiliki BPJS atau surat berobat lainya," ujar Jonther tersedu-sedu.
Karena ditolak RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru, lalu keluarga sang Bayi malang ini membawa Hanafi ke Puskesmas di jalan Melur Pekanbaru, namun karena pihak Puskesmas tidak memiliki kelengkapan alat medis, akhirnya menyarankan agar orang tua membawa Hanafi ke Dinas Sosial Provinsi.
"Saat di Dinas Sosial, kami disuruh urus identitas ke kepolisian, sampai bapak wartawan datang, barulah kami didata dan segera diantar ke RSUD," kata Jonther lagi.
Setelah melewati proses yang rumit dan panjang, akhirnya Hanafi pun mendapat perawatan di ruang IGD RSUD Pekanbaru. Menurut pihak Dinas Sosial Provinsi, segala biaya tersebut nantinya akan ditanggung Jamkesda provinsi Riau.
"Katanya ditanggung Jamkesda, yang penting kami udah senang, Hanafi sudah dirawat di sini," pungkas Jonther.
Sementara itu, Kepala Bidang Medis RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru, Dr Ruswadi Munir mengatakan, pihaknya bukan menelantarkan pasien seperti yang dikatakan keluarga sang Bayi, menurutnya memang ada prosedur yang harus dilewati keluarga pasien, agar pihak Rumah Sakit memiliki data lengkap terkait pasien.
"Selanjutnya kita akan menghubungi Diskes Siak, apakah mau menambah kuota Jamkesda di Siak, jika penuh maka akan dimasukan ke BPJS Mandiri, rumah sakit tidak pernah menolak, permasalahannya RS dibuat rumit karena tidak ada identitas," kata Ruswadi. [pan]

