Sirkulasi Siklonik, BPBD Tetap Buat Hujan Buatan di Riau, Alasan Begini..

Kegiatan BRIN dan BPBD Riau, menabur garam di langit Riau dalam rangka TMC | Foto : Dok. BRIN/Beritariau
Beritariau.com, Pekanbaru - Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) guna mengatasi dampak musim kemarau tetap dilakukan meskipun prakiraan cuaca BMKG menyebutkan, sirkulasi siklonik terpantau memanjang dari Aceh, Sumatera Utara, Riau hingga Bengkulu.
Sirkulasi siklonik adalah pusaran angin yang membawa massa udara atau uap air sebagai faktor utama pembentuk awan yang akan bergerak ke arah pusaran angin tersebut.
Cuaca hujan, namun anggaran modifikasi cuaca sudah yang sudah terlanjur dibelanjakan, semisal garam, membuat BRIN dan BPBD Riau, terus menabur garam di langit dalam rangka TMC.
Di Pekanbaru terjadi petir dan hujan yang tinggi hingga berdampak terhadap banjir.
Lantas apa kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, M Edy Afrizal?
Ia beralasan, kondisi banjir yang terjadi di Kota Pekanbaru, bukan pengaruh dari kegiatan TMC.
"Tujuan TMC kali ini adalah untuk pencegahan karhutla, dengan cara membasahi gambut dan menjaga TMAT gambut pada sejumlah kubah gambut untuk antisipasi kemarau dengan memanfaatkan potensi cuaca yang masih tersedia dimasa transisi menuju musim kemarau," ujar Edy, dalam pernyataannya kepada Beritariau.com, Minggu (17/4/22).
Dia menyebutkan, sasaran TMC adalah area lahan gambut yang dalam kondisi mengalami penurunan tinggi muka air tanah, munculnya hotspot yang mana dari data BMKG masih terdapat beberapa titik panas di Provinsi Riau serta curah hujan yang sangat sedikit.
Dengan kondisi tersebut, pihaknya melakukan penyemaian selama empat hari di area Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Siak, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Indragiri Hilir.
"Pada saat dilakukan TMC di area-area tersebut, kondisi pergerakan angin dominan dari barat menuju timur sehingga dapat dipastikan bahwa hujan hasil TMC jatuh di lahan gambut di pesisir timur Provinsi Riau," ungkapnya.
Dia beralasan, penyebab terjadinya banjir di Kota Pekanbaru pada Kamis 14 April hingga Jumat 15 April 2022 diakibatkan oleh adanya pertemuan/perlambatan kecepatan angin (konvergensi) yang drastis di langit Kota Pekanbaru.
"Dari data penakar hujan BMKG, hujan cukup deras dan berlangsung lama terjadi malam hari. Hujan dengan intensitas tinggi terjadi mulai sekitar pukul 22.00 WIB," jelasnya.
Bahkan, mengacu pada waktu mulai terjadinya hujan, dia menyebutkan tidak ada hubungannya antara kegiatan TMC yang dimulai tanggal 14 April 2022 di Kabupaten Pelalawan, Inhil dan Inhu, dengan banjir yang terjadi di Kota Pekanbaru yang terjadi mulai 15 April 2022 dinihari
"Karena rentang waktu (TMC) dan lokasi kegiatan terpisah jauh," ungkapnya. (*)

