Budidaya Lebah Kelulut

Merawat Semangat Budidaya Lebah Tak Bersengat

Merawat Semangat Budidaya Lebah Tak Bersengat

Beritariau.com, Pekanbaru - Kelulut adalah lebah berukuran kecil yang tak bersengat (stingless bees), yang menurut ilmu sistematika serangga  dikelompokkan sebagai anak keluarga Meliponinae. Lebah ini biasanya ditemukan dalam rongga pohonan dalam hutan atau rongga-rongga bebatuan. 

Berbeda dari lebah bersengat (Apis spp.) yang telah cukup lama dikenal sebagai sumber madu, pemanfaatan lebah tak bersengat sebagai penghasil madu belum lama dikenal. Di Indonesia, hal ini baru dikenal sejak sekitar 10 tahun lalu. 

Meskipun hanya menghasilkan madu dalam kuantitas yang jauh lebih kecil dibanding lebah bersengat, madu lebah tak bersengat banyak dipercayai memiliki sejumlah khasiat bagi kesehatan dan kebugaran manusia yang tidak dimiliki oleh madu  lebah bersengat. 

Oleh karenanya, harga madu lebah tak bersengat lebih tinggi, yaitu bisa mencapai Rp 300.000,- hingga Rp 600.000,- setiap liternya, tergantung kualitasnya.  

Pada tahun 2016 tiga warga Desa Tanjung Sari mulai merintis budidaya kelulut, yang salah satunya adalah Tukimun. 

Dengan bekerjasama dengan warga Malaysia yang bersedia menampung madu yang dihasilkan, usaha Tukimun berkembang cukup pesat. 

Tertarik akan hal ini, Ahmad Muhammad seorang dosen dan peneliti dari Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Riau (UNRI) dalam keterangannya kepada Beritariau.com, Rabu mengatakan mulai mengikuti perkembangan yang ada dengan mempelajari pengetahuan yang dimiliki, karakteristik pemeliharaan, serta dampaknya bagi ekosistem setempat. 

"Dari hanya memiliki beberapa belas koloni pada awalnya, usaha Tukimun ternyata berkembang pesat. Dalam hitungan beberapa bulan, jumlah koloni yang dipeliharanya berlipat hingga menjadi puluhan dan pada saat ini telah mencapai ratusan," katanya.

Kesuksesannya mengundang minat warga desa yang lain untuk ikut mencoba membudidayakan serangga ini. 

Pada tahun 2017 Ahmad mengatakan menggandeng Nurul Qomar, dosen yang juga peneliti dari Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian UNRI, dengan tujuan untuk tidak sekedar meneliti melainkan juga untuk memperbaiki sistem budidaya maupun kelembagaan usaha budidaya lebah tak bersengat ini di desa tersebut. 

Oleh karenanya, sejak tahun 2017 kedua peneliti beserta dua dosen lain, yaitu Idwar dan Isnaini dari Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian, mendorong pelembagan kelompok pemelihara kelulut. 

Pada tahun itu juga, terbentuklah kelompok “Madu Sari,” yang diharapkan bisa lebih meningkatkan kerjasama antar pemelihara. Usaha ini memperoleh dukungan dari Mulyadi, Kepala Desa Tanjung Sari pada waktu itu. 

Dengan fasilitasi dari Badan Restorasi Gambut (BRG), para peneliti UNRI yang juga tergabung di Pusat Studi Bencana (BRG) LPPM UNRI tersebut  menggagas pengayaan sistem budidaya kelapa dengan mengintegrasikan koloni-koloni kelulut kedalam sistem ini. 

Tujuan utamanya adalah selain mengoptimalkan penggunaan lahan gambut yang sudah digunakan sebagai kebun kelapa, juga untuk diversifikasi komoditas (kelapa-kopi-kelulut) dan memperoleh peluang peningkatan produktifitas kelapa melalui peningkatan ketersediaan serangga penyerbuk, yaitu kelulut. 

Para peneliti juga menyelenggarakan pelatihan singkat pemecahan koloni sebagai upaya memutuskan perburuan koloni-koloni baru dari hutan yang sangat dikhawatirkan menimbulkan banyak dampak negatif.

Memasuki tahun 2020 ini tercatat jumlah pemelihara kelulut di DesaTanjung Sari sudah mencapai 66 orang, dengan jumlah koloni total yang ditaksir mencapai sekitar 1500 koloni dan produksi madu mencapai sekurang-kurangnya 40-60 liter setiap bulannya. Produksi ini sebenarnya belum menggembirakan.

Menurut Qomar hal ini diduga dilatarbelakangi oleh kondisi pemeliharaan yang suboptimal. Oleh karenanya, masih diperlukan peningkatan kondisi pemeliharaan koloni kelulut, termasuk dalam hal ini perbaikan kondisi penaungan dan penyediaan tanaman sumber pakan. Meskipun demikian, mereka sepakat, yang sangat mendesak tentu saja adalah peningkatan pemasaran madu yang dihasilkan.  

Pada hari Ahad, tanggal 2 Februari 2020 kemarin, Tukimun mengajak para sesama pemelihara kelulut di desanya dan para peneliti UNRI untuk berkumpul bersama dalam sebuah acara bertajuk “Kenduri Kelulut” guna menyatakan rasa syukur sekaligus membahas hal-hal yang perlu dipertahankan dan/atau diperbaiki. 

Acara yang penuh keakraban yang juga dihadiri dan dibuka oleh Syaiful Ikram, Camat Tebing Tinggi Timur didamping Zulkarnain, Kelapa Desa Tanjung Sari, sekaligus menandai dibukanya “Taman Kelulut Moen” sebagai sebuah wahana wira-usaha, rekreasi, edukasi, dan konservasi bagi masyarakat setempat.

Dalam sambutan mereka, baik camat maupun kepala desa ini menyatakan sangat menghargai inisiatif Tukimun membuka wahana ini serta bersiap memberikan dukungan agar wahana ini benar-benar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.