Jerebu Masih Selimuti Kota Pekanbaru

Beritariau.com, Pekanbaru - Kota Pekanbaru, Provinsi Riau dalam dua hari terakhir diselimuti jerebu atau asap yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang saat ini terjadi di sejumlah titik di Provinsi Riau.
"Memang benar asap hari ini. Kemungkinan dari (Karhutla) Pelalawan," kata Staf Analis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, Bibin di Pekanbaru, Sabtu.
Bibin mengatakan berdasarkan pencitraan Satelit Terra dan Aqua, terdeteksi sebanyak tiga titik api yang mengindikasikan kebakaran lahan di Kabupaten Pelalawan, dengan tingkat kepercayaan antara 70 hingga 100 persen. Seluruh titik api tersebut terpantau di Kecamatan Kuala Kampar, yang secara geografis lokasi itu tidak terlalu jauh dari Pekanbaru.
Sementara itu, berdasarkan pemetaan BMKG, arah angin cenderung bertiup dari Pelalawan menuju ke Kota Pekanbaru. "Kalau 'trajectory', arah angin memang dari Pelalawan ke Pekanbaru," tuturnya.
Lebih jauh, dia menjelaskan jarak pandang di Kota Pekanbaru dan sekitarnya menjadi terbatas akibat diselimuti jerebu. Pada pagi tadi, BMKG menyatakan jarak pandang hanya berkisar 4 kilometer.
"Dan siang ini sudah membaik menjadi 7 kilometer. Sejauh ini jerebu belum mengganggu penerbangan," ujarnya.
Sementara itu, di Pelalawan sendiri jerebu terpantau lebih buruk, dengan jarak pandang pada pagi tadi hanya berkisar 3 kilometer.
Jerebu atau udara berasap juga terpantau di Pulau Bengkalis, Kabupaten Bengkalis. Bahkan, di Pulau itu jerebu terpantau lebih parah karena disertai dengan partikel-partikel abu bekas terbakar. Sejumlah warga di Pulau itu, terutama di Desa Selatbaru, Kecamatan Bantan mengeluhkan kondisi tersebut.
"Kami mohon segera ada upaya serius menangani Karhutla oleh pemerintah," kata Yazid, salah seorang warga setempat.
Provinsi Riau sepanjang awal 2019 ini terus dilanda kebakaran lahan dan hutan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau menyatakan total luas lahan terbakar mencapai lebih dari 1.400 hektare, dengan wilayah terparah mengalami Karhutla wilayah pesisir seperti Bengkalis, Meranti, Dumai, Rokan Hilir dan Pelalawan.
Koordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), Made Ali mendesak Menteri Kesehatan dan Gubernur Riau segera memperkuat fasilitas pelayanan korban kebakaran hutan dan lahan. Hal ini untuk kebaikan seluruh masyarakat Riau serta mendorong pemerintah untuk cepat tanggap dalam memperhatikan kondisi masyarakatnya.
"Pemerintah jangan hanya fokus memadamkan api, juga perlu segera menyelamatkan warga yang terpapar polusi asap. Jangan sampai peristiwa 2015 terulang kembali, setelah jarang pandang di depan mata, baru pemerintah sibuk mengurusi pelayanan untuk publik," kata Made Ali. [ard]

