Biaya 11 Juta Siapa Menanggung?
Susahnya Bayi di Riau dapat pertolongan, Bocah sumbang Koin, Gubernur cuma mampir

BOCAH SUMBANG KOIN - Mata Muhammad Alhafizi, Bayi berusia 4 bulan di Kabupaten Kampar (Kanan) Saat Digendong Ibunya Dewi Lestari (34), Melihat Seorang Bocah Membuka Kaleng Celengan Berisi Uang Koin Disumbangkan Untuk Pengobatannya | Istimewa
Beritariau.com, Kampar - Muhammad Alhafizi, bayi berusia 4 bulan yang menderita penyakit langka berupa kulit terkelupas dan memerah di Kabupaten Kampar masih belum sembuh.
Ia sempat dirawat di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru selama 8 hari. Lika-liku ayahnya, Musdianto, untuk mendapatkan bantuan cukup sulit.
Sebelumnya, kartu BPJS yang baru selesai dibuat orang tuanya saat membawa sang anak ke Rumah Sakit ditolak petugas administrasi.
Kini, bayi malang itu membutuhkan uluran tangan dan belas kasih dari masyarakat. Sebab, Musdianto (36) sang ayah tak memiliki pekerjaan tetap. Sehari-hari dia bekerja serabutan dan melakukan pekerjaan jika ada orang yang membutuhkan tenaganya.
Pantauan wartawan, pada Minggu (27/08/17) sore, di kediaman bayi tersebut di Desa Lubuk Sakat Kecamatan Perhentian Raja, keluarga Musdianto tampak hidup cukup sederhana.
Suasana haru terlihat di rumah itu. Sejumlah anak-anak yang datang bersama orangtuanya memberikan uang koin hasil celengan (tabungan) mereka.
"Iya ini anak-anak kami bawa kesini, mau memberikan uang tabungan mereka berupa uang koin. Anak-anak merasa iba melihat bayi ini, tadi disobek kaleng celengan (tabungan)," ujar Elis (39), ibu dari Fiqih, warga Pekanbaru.
Saat ini, bayi Alhafizi atau disapa Fizi masih memerlukan proses perobatan rutin ke RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru. Setelah keluar dari Rumah Sakit tersebut pada Kamis (24/08/17) lalu, Fizi mulai berangsur sembuh.
Namun, baru sehari di rumah, kulitnya kembali mengelupas dan memerah.
"Pihak RSUD bilang, anak saya harus dibawa kesana lagi, untuk diobati. Karena ini belum sembuh total, mudah-mudahan BPJS nya tidak ditolak lagi," kata Musdianto.
Sebab, saat keluar dari RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru tersebut, petugas Administrasinya menolak kartu BPJS Musdianto hanya gara-gara terlambat satu jam menyerahkannya. Alhafizi pun dimasukkan dalam kategori pasien umum.
Bahkan, Musdianto, ayah bayi tersebut dimintai biaya Rp 11 juta agar diperbolehkan pulang setelah perawatan anaknya selesai.
"Saya tunjukkan kartu BPJS itu ke bagian Administrasi RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru namun mereka bilang tidak berlaku. Karena saya telat satu jam, harusnya jam 3 sore kemarin, tapi saya serahkan jam 4," ucap Musdiyano.
Ia sempat bermohon agar RSUD Arifin Ahmad memberikan keringanan dengan menerima kartu BPJS yang baru dibuatnya saat bayi dirawat ke rumah sakit. Ketika itu, jarum jam menunjukkan pukul 16.00 wib.
"Bagian pendaftaran itu bilang ke saya, orang bagian administrasinya sudah pulang jam 3 sore. Seharusnya saya datang sebelum jam itu kata mereka, tapi saya waktu itu masih kalut menjaga anak saya, makanya telat satu jam. Ya tak diterima BPJS saya," keluhnya.
Akhirnya, Musdianto dan istrinya diminta untuk meninggalkan Kartu Tanda Penduduk di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, sebagai jaminan agar kembali lagi untuk membayar biaya rumah sakit.
"Kata pihak rumah sakit, anak saya termasuk pasien umum, jadi harus bayar Rp11 juta. Karena belum ada uang jadi pulang saja dulu kata pihak RS, tapi KTP saya ditahan," kata Musdianto.
Selanjutnya, sejumlah pejabat Dinas Kesehatan Provinsi Riau mendatangi kediaman Musdianto untuk memberikan KTP tersebut. Itu dilakukan setelah sejumlah media ramai memberitakan pihak RSUD Arifin Ahmad yang menahan KTP Musdianto dan istrinya.
"Saat pertama kali anak saya masuk rumah sakit, banyak kawan-kawan wartawan datang. Melihat dan meliput penyakit anak saya ini, lalu pejabat berdatangan, ada Pak Gubernur Riau (Arsyadjuliandi Rahman)," jelas Musdianto.
Namun, meski kedatangan Gubernur Riau membuat Musdianto senang, pihak rumah sakit tidak merespon perintah kepala daerah tersebut.
Andi Rahman, sapaan akrab gubernur sempat memerintahkan agar Kepala RSUD Arifin Ahmad, Nuzelly, memperhatikan bayi itu beserta proses administrasinya.
"Ya pak Gubernur datang hanya lihat-lihat saja (tidak membantu dana, red). Pak Gubernur sempat bilang ke direktur Rumah Sakit, untuk membantu saya. Tapi tetap saja diminta biaya rumah sakit Rp 11 juta saat itu," ucap Musdianto. [red]

