Kepala BRG: Masih Dibahas Dengan KLHK

Jebol, tanggul Cagar Biosfer GSK tak kunjung ditutup


ilustrasi

Beritariau.com, Pekanbaru - Masyarakat Kampung Sidodadi Desa Bukit Kerikil Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis, merasa resah dengan lahan gambut disekitar mereka yang terancam semakin kering dan berpotensi menimbulkan kebakaran.

Pasalnya, selama nyaris dua pekan, tanggul sekat kanal yang ada di Cagar Biosfer (CB) Giam Siak Kecil (GSK) di daerah mereka itu, hingga kini tak kunjung diperbaiki. Padahal, warga sendiri telah melaporkan kondisi tersebut  pada 27 Juli 2017 lalu.

"Tanggul itu untuk mencegah Karlahut (Kebakaran Lahan dan Hutan, red). Hingga hari ini dibiarkan jebol," ungkap Sahat Mangapul Hutabarat, warga sekitar yang berhimpun di organisasi Persaudaraan Mitra Tani Nelayan (PETANI) kepada ‎Beritariau.com, Jumat (04/08/17).

Sahat mengungkapkan, jebolnya tanggul yang jadi usulan Presiden Jokowi untuk mencegah Karlahut ini, disinyalir akibat ulah mafia pembalak liar.

"Untuk melancarkan kejahatan pencurian kayunya. Akhirnya, air deras mengalir menguras kelembapan lahan gambut. Kondisi berpotensi menyebabkan Karlahut," tegas Sahat.

Sejauh ini, katanya, baik dari Pemerintah bahkan Sinar Mas Grup yang menurutnya termasuk ikut mengklaim sebagai pengelola GSK belum berbuat apa-apa untuk memperbaiki tanggul tersebut.

Dalam video berdurasi sekitar 2 (dua) menit yang dikirimkan PETANI ke‎ Beritariau.com, terlihat kondisi tanggul yang jebol tersebut dimana aliran sekat mengarah ke perkampungan Sidodadi dan konsesi Sinar Mas.

Video amatir sepanjang dua menit lima detik itu diambil oleh warga yang berhimpun di organisasi PETANI. Terlihat bentangan air di kanal-kanal yang membelah lahan di Cagar Biosfer tersebut.‎

"Air ini terlihat mengalir dari kampung Sidodadi menuju kanal yang dijebol oleh pembalak liar. Kami sudah laporkan, tapi sampai hari ini kondisinya masih seperti ini. Tidak ada perubahan, tanggapan nyata dari pemerintah dan PT Sinar Mas Grup yang mengklaim daerah ini adalah Cagar Biosfer binaannya," demikan potongan paparan anggota PETANI selaku kameramen di video.

Dijelaskan Sahat, padahal dengan mengerahkan alat berat dan bersama-sama TNI-Polri, masyarakat DAN BKSDA, perbaikan ini bisa dikerjakan hanya dalam tempo 1 hari. "Kan lebih baik mencegah dari pada habis uang untuk mengatasi Karlahut," ujarnya.‎

‎Terpisah PT Sinar Mas Foresty melalui Humasnya Nurul Huda menyatakan, lokasi tanggul yang jebol berdasarkan video dari warga tersebut bukan dalam konsesi Sinar Mas.

"TKP (tanggul jebol, red), yang dimaksud (dalam video, red) perlu diverifikasi lokasi dan titik koordinatnya. Video seperti ini juga dua minggu lalu pernah ditunjukkan kepada kami. Tapi karena TKP tersebut bukan dalam wilayah konsesi kami, jadi kami sarankan bertanya kepada pihak berwenang," jawab Nurul ketika dikonfirmasi Jumat malam.‎

Sementara Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau Mahfudz menyatakan, pihaknya telah melakukan langkah koordinasi telah dilakukan dengan Badan Restorasi Gambut (BRG).

"BBKSDA telah mengusulkan terkait pendanaan penutupan atau pembuatan‎ sekat kanal yang dimaksud. Dan dari pihak BRG akan segera menindaklanjuti pada tahun ini," kata Heru.

Menanggapi kondisi yang berlangsung hampir selama dua minggu ini, ‎Kepala BRG Nazir Foead hanya menjawab singkat,"Sedang dibahas dengan KLHK". [red]