Kangen suara adzan, Almi WNI di Inggris putar rekaman di HP

Ilustrasi | Beritariau.com 2015
Beritariau.com - Mirip seperti ucapan Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kala, suara rekaman mengaji membuat polusi udara. Di Inggris, bukan hanya suara rekaman mengaji, suara azan juga tak dibolehkan menggunakan speaker atau Toha, cukup didengar umat muslim yang berada di dalam Mesjid saja.
"Kalau kangen suara azan, saya putar rekaman di HP (Handphone), kalau kangen suara mengaji, ya saya mengaji sendiri di rumah, atau sesekali saya pergi ke mesjid meskipun jauh dari rumah," ujar Almi Widyawati dalam perbincangan melalui akun facebooknya, Minggu (21/06/15).
Warga asal Jalan Adi Sucipto kota Pekanbaru Propinsi Riau yang kini tinggal di Inggris ini mengaku sedih tak bisa setiap hari mendengarkan suara azan. Dia hanya memutar rekaman azan jika tiba waktu sholat lima waktu.
"Paling sedih gak bisa dengerin azan dan tadarus, itulah yang paling dirindukan disini, sebab di England (Inggris), tidak ada suara azan dan mengaji," ujar ibu dua anak ini.
Tidak adanya suara azan dan mengaji, kata Almi, bukan berarti tidak ada mesjid di Inggris, melainkan kerajaan Inggris tidak memperbolehkan suara azan dan mengaji menggunakan speaker di mesjid seperti di Indonesia.
"Mesjid ada disini, meski jauh dari rumah. Tapi gak boleh suara azan pakai speaker atau Toha itu. Karena polusi udara katanya, cukup di dalam mesjid saja, atau di rumah saja. Kalau dirumah, saya putar sendiri suara azannya," kata Almi yang kini menetap di kota Preston, Lancashire, England.
Selain suara azan dan mengaji, Almi juga merindukan suasana Ramadan di Indonesia. Sebab, sangat jauh berbeda kondisi di Inggris dengan kampung halamannya.
"Enaknya puasa di England karena gak banyak godaan seperti di Indonesia, terutama makanan di Indonesia kan serba waawww," kata dia.
Cemilan di Inggris dengan Indonesia juga berbeda jauh rasanya. Jika jelang berbuka puasa banyak jualan takjil atau cemilan untuk berbuka puasa di Indonesia, tidak ditemukan rasa yang sama di Inggris. [Baca : Puasa 18 jam, WNI di Inggris sahur dan berbuka masak sendiri]
"Cemilan disini banyak, tapi gak seenak cemilan kita kan. Kalau puasa kan kita rindu kayak di Indonesia, berbagai masakan dan makanan ada dijual sana sini, kalau di England sih berdoa saja, dan masaklah sedapat mungkin," ujar wanita berusia 42 tahun ini. [Pan]

